pendidikan, gerakan indonesia mengajar, festival, anak, alat bantu belajar

KBR68H - Festival Gerakan Indonesia Mengajar lahir akibat masih timpangnya dunia pendidikan di Indonesia Acara tersebut mengajak para relawan berempati dan bertindak nyata membantu anak-anak di pelosok nusantara. Selama dua hari mereka  kerja bakti membuat ribuan media belajar yang  dikirimkan ke 126 SD di ujung negeri, dari Aceh sampai Papua. Reporter Gun Gun Gunawan ikut hadir dan menyusun laporannya.

Marco menatap papan tulis. Matanya tak lepas dari deretan angka yang ditempel di sehelai kertas. Sesekali keningnya terlihat berkerut. Jika berhasil menjawab pertanyaan dari Ucy,  bocah  14 tahun itu  tersenyum.

Marco  dan Ucy  tengah mengikuti  salah satu permainan “Papan Armansyah” di Festival Gerakan Indonesia Mengajar.   “Papan Armansyah” adalah salah satu wahana belajar kreatif yang ditemukan  seorang siswa SD bernama Armansyah dari Kabupaten Paser, Kalimantan Timur. Permainan ini melatih kemampuan siswa di bidang  matematika. 

Acara yang dihelat di Ancol, Jakarta tersebut diselenggarakan  Yayasan Indonesia Mengajar. Sejak tiga tahun silam lembaga ini mengirimkan sarjana-sarjana pandai untuk mengajar sekolah dasar di berbagai daerah terpencil di Indonesia. Gerakan ini diharapkan membuka akses pendidikan pada masyarakat terpencil dan berekonomi lemah.

Direktur Eksekutif Gerakan Indonesia Mengajar, Hikmat Hardono menjelaskan, “Acara ini sebenarnya sederhana. Acara ini ingin menggalang dan mengajak masyarakat untuk kembali aktif bekerja bakti. Nah idenya sederhana. Kami mengajak masyarakat untuk hadir membuat langsung media berlajar kreatif yang nanti akan kita kirim ke sekolah penempatan pengajar muda. Ada 126 SD di seluruh Indonesia. Kalau kita bikin media belajar kreatif di satu sisi mereka (relawan festival) jadi teaktivasi dan di sisi lain mereka juga langsung punya manfaat dengan teman-teman di lapangan.”

Berdasarkan hasil evaluasi,  para pengajar muda  yang ditempatkan di daerah sering terkendala dengan fasilitas atau media pengetahuan, seperti buku maupun alat tulis. Sehingga, para siswa-siswi pun kesulitan untuk belajar.  Lewat festival itu diharapkan  semua kebutuhan para pengajar muda, siswa, maupun guru-guru yang berada di daerah bisa terpenuhi.

Salah satu tokoh Gerakan Indonesia Mengajar , Anis Baswedan menambahkan,”Salah satu tujuannya adalah mengajak kita untuk memiliki empati terhadap tantangan pendidikan di pelosok sana. Yang dikerjakan di sini menyiapkan materi ajar. Kita misalnya ingin tahu apa itu listrik dan siapa itu Thomas Alfa Edison tinggal googling. Di sana (Pelosok), tanpa listrik, tanpa sinyal telpon. Bagaimana bisa tahu? Makanya nanti kita buatkan flash card yang memuat siap itu Thomas Alfa Edison, apa itu listrik.”

Acara  yang  digagas sejak Mei silam berhasil menyedot lebih dari 9 ribu relawan. Mereka terbagi menjadi relawan panitia  dan relawan peserta.  Khairunnisa salah satu relawan peserta menjelaskan alasannya ikut bergabung.  “Acaranya keren mas. Keren lah pastinya karena kan tujuannya menyediakan 10 ribu sarana belajar untuk anak di daerah dari Aceh sampai Papua. Saya sendiri dari Palembang. KBR68H: Sudah di briefing soal materinya? iya sudah dan rata-rata pada tertarik pesertanya. Ada sih yang masih belum mengerti tapi kebanyakan pada tertarik,” katanya antusias.

Untuk membuat alat bantu pendidikan, para relawan peserta dibagi ke dalam beberapa kelompok kecil. Mereka lalu dipersilahkan memilih 9 wahana yang tersedia sesuai dengan kemampuannya.

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!