gereja, mushola, toleransi, dongeng, agama

Ajarkan Toleransi


Setelah  dongeng selesai, Pak Raden dikerubuti anak-anak dan orangtua yang  ingin foto bersama. Dari gereja, kegiatan  berlanjut ke musholla.  Sementara orang tua mereka diberikan materi seputar mendongeng  dari  ahli dongeng Murti Bunanta.    

Setelah selesai mendengarkan dongeng dari Pak Raden, anak-anak langsung berbaris menuju musholla untuk bermain bersama.

Ruang musholla  dipadati bocah-bocah yang masih balita hingga berusia 7 tahun.   “Apa kabar anak-anak ? Tetap Ceria…. Wah kali ini kegiatannya ada yang beda yah anak-anak, kenapa hayo tebak coba. Ada Pak Raden,” kata pendeta Magyolin membuka acara.

Magyolin menuturkan kegiatan mendongeng  yang dilaksanakan  Komunitas Sabtu Ceria  merupakan program dari RT 01, Kramat Jati, Jakarta Timur. “Awalnya , saya kan pendeta jemaat saya mutasi ke sini otomatis keluarga juga ikut. Dan rupanya sambutan di sini luar biasa yah keakraban dengan lingkungan sudah dari dulu. Ibu RT dan Pak RW setempat menanyakan program ibu dan keluarga untuk masyarakat apa ? saya hanya perpustakaan kecil dan film saya sampaikan ke mereka. Mereka pun menyambut baik, awalnya kegiatan di Pastori rumah dinas saya. Namun Pak Ustadz setempat melihat anak-anak hanya duduk di lantai, jadi disarankan oleh Pak ustadz untuk pindah ke mushola,” jelasnya.

Warga setempat menyambut antusias.  Meski  segelintir warga ada yang curiga dengan maksud baik pendeta Magyolin terang Ketua RT 01 Neng Harti. “Waktu awal pertama akan buka memang ada, ah gak mau. Tapi dengan niat yang baik awal yang baik. Akhirnya mau juga. Bahkan Pak Lurah Tengah dan Pak ustadz pun ikut pembukaan. Dengan diadakannya Sabtu Ceria ini ada yang menolak, tapi dengan inisiatif kami dan pak ustadz, di musholla saja. Oh siap. Di sini tidak ada unsur apapun dan terbuka untuk siapapun.”

“Kami ingin sekali anak-anak di warga ini pinter dan nambah ilmu. Jadi kami dengan Ibu Pendeta berkoordinasi, bu apa saja kegiatan untuk warga. Kami di sini belum ada taman bacaan dan belajar,”tambah Neng Harti.     

Ketua RW 08 Jumani Sutrisno ikut berkomentar, “Tujuan kita itu supaya mendukung anak lebih ceria, daya pikirnya meningkat, supaya bergaul dengan rekan-rekannya untuk menambah wawasan. Jadi nanti sebelum masuk sekolah, mereka sudah ada gambaran nanti di sekolah seperti apa.”

Jumani bangga kerukunan dan toleransi antar umat beragama di wilayahnya terjalin harmonis. “Di sini ada gereja ada dua, mereka rukun dan damai. Sampai sekarang ada kegiatan masjid pun mereka membantu, berupa tenaga dan pikiran. Sebaliknya juga sama. Toleransi agama di sini cukup tinggi. Daerah aman, tidak ada masalah. Kita latihan di gereja pun tidak masalah,” akunya.

Kegiatan mendongeng di rumah ibadah yang digagas “Komunitas Sabtu Ceria” ikut menyatukan anak-anak dengan latar belakang agama berbeda terang warga setempat.

“Alhamdulillah bagus juga, jadi ada kegiatanlah. Gak papa kalau Musholla di pake ajah. Namanya Musholla kan punya warga jadi dari warga mana pun bisa pakai. Kegiatan ini dilaksanakan setiap tahunnya. Justru warga mendukung, ini sangat positif,” kata Khairullah.

Swasna Ria menimpali, “Kami ingin hubungan masyarakat dan lingkungan sama-sama membangun, jadi gak ada objek dan subjek, karena di lingkungan sekarang masing-masing waktu awal dibentuk, dari gereja ah gak mau masuk ke musholla. Yang dari musholla ah gak mau masuk ke gereja. Jadi gak ada kaya gitu. Anak-anak juga jadi mengenal tempat ibadah muslim dan Kristen.”

Ahli dongeng, Murti Bunanta sangat mendukung  kegiatan yang dibuat warga RT 01 Kramat Jati Kegiatan ini kata dia secara tidak langsung mengajarkan anak belajar toleransi dan kerukunan antar umat beragama. “Saya rasa metode seperti ini kumpul seperti ini, itu perlu digalakkan melalui mendongeng, membaca buku. Ini sangat bagus untuk keakraban masyarakat Indonesia. Tidak ada yang lebih tinggi dan tidak ada yang lebih rendah,” jelasnya.

Dia menambahkan orang tua sebaiknya menyelipkan pesan atau nilai-nilai toleransi beragama kepada anak-anak saat mendongeng atau dalam kehidupan sehari-hari.  Komunitas Sabtu Ceria telah memberi teladan soal ini.

Editor: Taufik Wijaya

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!