Gereja dan Mushola di Keramat Jati Kampanyekan Toleransi Lewat Dongeng (2)

Kali ini kegiatan mendongeng yang dihadiri tamu spesial Pak Raden bertepatan dengan hari jadi

Selasa, 15 Okt 2013 12:43 WIB

gereja, mushola, toleransi, dongeng, agama

Antusiasme Anak-anak


Letak mushola berada sekitar 10 meter dari Gereja  Pasundan. “Ini setiap Sabtu keempat setiap bulan. Memang ada yang menginginkan setiap pekan tapi kan kita keluarga juga ada kegiatan lain. Nah kata Bu RT daripada kegiatannya tiap Sabtu tapi nanti tiba-tiba menghilang, mendingan setiap sebulan sekali.Tidak juga dari RT 01, dari RT tetangga pun ada yang ikut yah,” jelasnya.  

Kali ini kegiatan mendongeng yang dihadiri tamu spesial Pak Raden bertepatan dengan hari jadi “Komunitas Sabtu Ceria” yang pertama. “Anak-anak yang ikut kegiatan Sabtu Ceria 30-36 anak. Tapi untuk kegiatan yang sekarang kan khusus . Jadi yang daftar ada 60-an. Kan banyak jadi kita mengambil tempat di Aula gereja. Jadi anggota jemaat juga ada yang ikut.”

Acara juga dihadiri ahli dongeng, Murti Bunanta. Pak Raden yang telah sepuh duduk di kursi. Ia mendongeng sambil membuat gambar di papan tulis. “Si Gundul meskipun ngantuk tapi karena disuruh orangtuanya yah pergi juga, Ibu dari si Gundul sangat baik, ibunya memberikan satu buntelan. Ada apa yah isinya kira-kira buntelan ini ? yah maka berjalan lah si Gundul, ini isinya makanan,” cerita Pak Raden. 

Puluhan anak menyimak dengan khidmat. Sesekali mereka ikut tertawa mendengarkan cerita.

Adit dan Rifki,   terkesan dengan acara ini. “KBR68H: Dongeng apa tadi dari Pak Raden ? Dongeng si Gundul yang pemalas. Adit sring ikut kegiatan yah ? Iyah sering. Knapa mau ikut ? seneng dapet temen banyak. Dan dapet nilai moral juga dari dongeng. Tadi Pak  Raden dongeng apa ? Si Gundul yang pemalas,” kata Adit antusias.

Lain lagi pendapat Ade, “ Wah asik kak. Ade suka denger dongeng dari ibu Pendeta ? iyah suka ikut biasanya Sabtu. Denger dongeng apa ? dongeng soal ular gitu kak.”

Setelah  dongeng selesai, Pak Raden dikerubuti anak-anak dan orangtua yang  ingin foto bersama. Dari gereja, kegiatan  berlanjut ke musholla.  Sementara orang tua mereka diberikan materi seputar mendongeng  dari  ahli dongeng Murti Bunanta.    

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Dirjen AHU Freddy Harris soal Pencabutan Badan Hukum Ormas HTI

  • Bagi-Bagi Kopi di Filosofi Kopi 2
  • (Wawancara) Batal Temui Luhut, Senator Australia Kecewa
  • PDIP: Jika Tak Kompak Dukung Pemerintah, Silakan PAN Keluar Dari Koalisi
  • Indonesia Turki Sepakati Perangi Terorisme Lintas Negara
  • Alasan Polisi Hentikan Kasus Kaesang

DPR Sahkan UU Pemilu, Jokowi : Sistem Demokrasi Berjalan Baik

  • Gerindra Yakin MK Batalkan Pasal Pencalonan Presiden di UU Pemilu
  • UU Pemilu Untungkan Jokowi
  • Hampir Empat Bulan, Jadup Banjir Aceh Tenggara Belum Cair

Perkawinan anak dibawah usia minimal, menjadi hal memprihatinkan yang seharusnya menjadi perhatian dari pemerintah apabila benar-benar ingin melindungi anak-anak sebagai generasi penerus Bangsa.