gereja, mushola, toleransi, dongeng, agama

KBR68H - Banyak cara  belajar toleransi beragama. Salah satunya lewat medium dongeng. Kegiatan mendengarkan cerita  ini dilaksanakan  warga Kramat Jati Jakarta di gereja dan mushola setempat.   KBR68H ikut  menyimak dongeng bersama puluhan anak di sana.

Bagi Anda yang  dibesarkan  era 1980-1990-an mungkin sudah tidak asing dengan Suyadi,  akrab disapa Pak Raden. Suyadi dikenal sebagai pencipta film anak-anak serial boneka “Si Unyil” yang popular  di TVRI pada dekade 80 sampai 90-an.

Kali ini Pak Raden tidak  tampil di televisi.  Ia siap mendongeng di depan  puluhan anak yang sudah berkumpul di Gereja Kristen Pasundan (GKP), Kramat Jati, Jakarta Timur .

Meski tampil di rumah ibadah umat Kristen, puluhan perempuan berjilbab ikut hadir di aula gedung.  Salah satunya  Lili, yang mengajak anaknya berusia 3 tahun. “Saya baru kali ini saja, tapi di RT kita itu setiap bulan itu ada, Ini kan nasional yah maksudnya tidak membawa agama jadi yah gak papa dan gak keberatan,”katanya,

Warga Muslim lainnya yang ikut hadir adalah Dewi bersama anaknya Najwa. “Bagus yah, jadi kita bisa tahu mendidik anak yang bagus dan menambah pengetahuan juga. Ini kan sekali sebulan ada Sabtu Ceria, ini pula minggu ke empat. Saya gak keberatan yah, karena anak-anak bisa belajar,” kata Dewi.

Gereja ini tepatnya berada di RT 01 Kelurahan Kampung Tengah, Kramat Jati di tengah perkampungan padat penduduk.   Kegiatan mendongeng yang sudah berlangsung sejak setahun silam tersebut digelar rutin sebulan sekali. Warga  setempat menyebutnya kegiatan ini  “Sabtu Ceria”, kata  Pendeta Magyolin,  “Aktivitas utamanya mendongeng, kalau kata warga sekitar anak-anak kita ini perlu makanan buat jiwa mereka. Tidak dengan nasihat melulu yang diberikan ke anak-anak pastinya mereka udah capek dengerin nasihat. Artinya memberikan pelajaran ke mereka lewat dongeng.”

Jika tak hadirkan tamu, Pendeta Magyolin-lah yang biasa mendongeng.  Uniknya dongeng yang ia sampaikan bertempat di musholla  atau rumah ibadah kaum Muslim setempat.


Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!