diskriminasi, pendidikan, suku anak dalam

KBR68H - Pendidikan bagi sebagian orang masih dianggap  kebutuhan yang mewah. Tak terkecuali bagi masyarakat adat terpencil seperti Suku Anak Dalam.  Sekolah bagi Orang Rimba belum sepenuhnya jadi sesuatu yang menyenangkan.

Siang itu sejumlah anak anak tengah berada di sebuah bangunan berlantai papan kayu seluas 3x5 meter. Meski belum dialiri listrik, di bangunan yang disebut sebagai sekolah bagi Suku Anak Dalam ini terlihat sebuah televisi dan pemutar video .

Bangunan itu berada di antara rumah beratap plastik hitam dan biru, diperkebunan sawit milik PT Makin Grup. Perusahaan  tersebut sudah beroperasi selama 8 tahun. Lokasi sekolah persisnya di perbatasan  Kabupaten Merangin dan Sarolangun, Provinsi Jambi.

Sisa debu bercampur keringat terlihat  melekat pd tubuh bocah-bocah itu. Ingus meleleh dari hidung  mereka.

 KBR68H; Di sekolah ado belajar bernyanyi? Ado. (Apo itu?) Bernyanyi Balon Ada Lima. (Cobalah?) Katanya. Balonku ada lima. Rupa rupa warnanya. Merah kuning hijau kelabu. Merah muda dan biru. Meletus balon hijau. Dor. Hatiku sangat kacau. Balonku tinggal empat. Kupegang erat erat… “(Balon iyoy apo? Balon itu apa?) Bebalon tu yang ditiup ada yang gembung tu ha..Ditiup. Besak. Bulat...”

Bocah laki laki yang berdendang ini, namanya Sumardi. Ia merupakan satu dari tiga anak Suku Anak Dalam yang bersekolah di SD Inti Pelakar Kecamatan Pamenang.

“(Sekolahnya jauh, Sumar?) Heeh. Jauh.(Kalau bangun, Tejego jam berapo?) Tejego jam enom. Heeh. Trus. Trus pas mandi, siap, masong baju, pas jam sembilan berangkot dari rumah. Kalau adik bejelonnyo, yang bebetina tu jam enom, jam tujuh. Pas nyo keluar jam sepuluh, pas kami pergi dari rumah langsung ke sekolahan.”

“(Sumar kalau sekolah?) Bejelon. Kadang kadang kalau lagi pagi diantoyko Bepak. Heeh. Kalau lah balik tu yo numpang mobil. Mobil sawit. Mobil anu yang banyak kacunye. (lobot kanti?) iyo.”

 “(Kalau sekolah berarti pakai seragam?) Heeh, pakai seragam. Tapi seragame cuma sikok. Seragam merah putih lah. (Kalau lah kotor atau basah?) Lah kotor, dicuci. Dicuci diapa. Kalau pas dicuci sore hari langsung sudah hujan, langsung ga jadi sekolah. Iyo, kalu bajunyo basah. Heeh. Karena bajunya cuma satu. Walaupun Jumat, Sabtu, Rabu, Kamis, pokoknya pakai baju merah putih terus.”

Sikok yang disebut Sumar tadi artinya satu pasang seragam sekolah.

Suku Anak Dalam bagian dari masyarakat adat terpencil di Pulau Sumatera.   Jarak tempat tinggal mereka dari permukiman desa terdekat sekitar 500 meter hingga 3 Km. Mereka hidup berpindah dengan meramu dan berburu.  Oleh sebabnya rumah atau sudung tempat mereka tinggal hanya jadi tempat singgah sementara.

Umumnya sudung yang mereka bangun berupa rumah kayu berbentuk panggung sederhana. Lantainya  jalinan bambu, dengan atap plastik tanpa dinding.

Tapi ada juga rumah suku terasing ini yang beratap daun, berdinding kulit pohon atau yang berdinding papan kayu. Kembali ke anak-anak Suku Anak Dalam.  Sumardi bercerita soal kesannya kepada  teman sekolah atau “kanti” dalam bahasa Orang Rimba. 

 “(Kantinye Umar sapo?) Kantike Kapit. (Nang paling baik?) Nang paling baik Kapit di sekolahan. (Kenapa paling baik?) Paling baik nye buat ake piado buat nakal. Ado nak nyaci nyaci ake, nye tukang pelawonko. (Ado nyang nyaci juga?) Heeh. Ado kanti lain nang nak nguco nguco, nyo pelawonkan. (Biasanye apo uco uco buihnye iyoy?) Nye ola ola, nye pelolok rang kanyo lah. Kadang kadang tas dilempar lemparkan diluar kelas. (Tasnye Umar?) Heeh. Ditolong kalih Kapite.”

Tak semua anak  mendapat perlakuan yang baik di sekolah, seperti yang diceritakan anak Suku Anak Dalam, Ali berikut.

 “(Ada kanti yang tidak baik di sana?) Ado. Banyak. Kadang kadang kawannya ngejek. (Apo ejekannya?) Ngejeklah. Main main kami sama main main dilempar dengan batu. (Oo.. pernah. Terus kalau dilempar dengan batu Ali diam bae atau berlari?) Ha? (Kalau dilempar batu gitu berlari atau diam saja?) Berlari. (Siapo biasanya ado kanti atau guru yang nolong?) Guru. Yang menolong kami, namanya Ibu Liah,” katanya.

Ali juga bercerita meski tak menganut Agama Islam, ia mesti belajar membaca Al-Quran dan huruf Arab.

 “Ibu Liah tadi. (Yang ngajar Ali sekolah?) Heeh. Slruup. (Apo bae belajarnyo di sekolah?) Belajar wahijah. AlQuran. (Oo..Terus apalagi?) Huruf Hijaiyah. PR. PR lah, belajar tambah tambahan, kali kaliyan.”

Ali dan Sumardi adalah sebagian anak anak yang berada di Rombong atau kelompok Syargawi. Komunitas Suku Anak Dalam itu terdiri dari 23 keluarga atau sekira 70 orang. Kebanyakan mereka masih menganut kepercayaan leluhur. 

 (Ada yang tahu presiden kita nggak namanya?) (Nang Umar ingat apo pelajaran IPS?) Yang pelajaran. (Pernah dengar nama SBY nda? Yudhoyono?) Nda pernah lah. (Yang Sumar ingat apa dari pelajaran menulis?) Menulis nama nama. (Nama siapa yang ditulis?) Nama orangtua, nama adik adik, nama kakok kakok, nama guru guru, kanti sekelasan. (Kalau Negara?) Negara Kristen.”

 “Pancasila. (Ado ingat?) Yo. Pancasila, yang satu Ketuhanan Yang Maha Esa. Sudah tu apalagi. Lah lupo. Dua apo tadi, (Kemanusiaan) Iyo, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Yang ketiga apa tadi. (Persatuan) Eh, ake hopi teringot. Persatuan Indonesia. Empat apo tadi (Kerakyatan) Kerakyatan yang dipimpin oleh permusyawaratan dan perwakilan. Lima. Eh, lima, bagi seluruh. (Keadilan) Keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia.”

 (Kalu guru ado nang baik?) Baik. Guru pak Rina, Buk Sarti. Heeh. Pak Kadis. Kadang kadang selai guru mempelajarko nulis tambah tambahan, Matematika, PR, Kang PS. (Gurunya orang trans?) Enggak, orang dusun. Bukan orang Jawa, bukan.”

 “(Jadi Sumar sekolah di sekolah luar?) Heeh. (tapi Umar masih juga belajar di sini bareng abang abang itu?) heeh. Pas balik dari sekolah luar belajar sini lagi. Samalah dengan adik, dengan Amir, dengan adik adik aku tu. (sekolah diluarnya kelas berapa?) Kelas dua. Kami masuknya di kelas dua A.”

Sumardi  dan Ali adalah dua anak Suku Anak Dalam yang tengah mencoba beradaptasi dengan dunia luar. Mengenal pendidikan dan lingkungan di luar komunitas terpencil.

Sebagai ketua kelompok komunitas masyarakat terpencil Suku Anak Dalam,  Syargawi merasa bertanggungjawab atas masa depan anak anak. Melindungi mereka dari  ancaman para pendatang –transmigran atau perusahaan –yang  membuka areal hutan.

“Ya iya dibawa terus. Kalu ndak kami bawa, nda bisa berangkat. (Kenapa tiba tiba pak Syargawi ingin mengajak anak anak ini bersekolah diluar?) Nha inilah karena kalau anak kami, kalau kalau anak kami ikut seperti kami ini nanti itulah seperti aku bilang, harga 20, nanti dibikin 25. Tapi mungkin kalau anak kami ini sudah sekolah, dia mungkin lah tahu segi pengalaman diluar tu bisa ngerti. Jadi anak kami nda dibodohi lagi. Nah jadi pingin,” katanya.

Keinginan Syargawi agar anak anak di kelompoknya bersekolah di luar komunitas tempat mereka tinggal,   didukung  LSM Warung Informasi (WARSI). Lembaga lain yang ikut membantu dari SSS Peduli Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat PNPM Mandiri dan Kemitraan.
 
“Dan lagi bapak ini jugo gitu. Anak mau dididik inilah dari Bapak. Nha terus si Tris kalau memang mau sekolah kami usahokan masukannya sekolahan, kami belikan pakaian sekolah. Lha tapi lah dibelikan pakaian sekolah, diusahakan masuk sekolah, anak ini masih takut. Nha akulah yang berangkat terus. Iya ngantar, antar jemput. Ini sekarang motor yang antar jemput udah mogok, banyak yang jalan kaki,” terangnya.

Syargawi merayu anak anak di kelompoknya untuk bersekolah di SD Inti Pelakar di Kabupaten Merangin, Jambi.  

“Anak ini memang kalau nda dibujuk samo kito, dia memang betul betul nda mau sekolah. Malas. Nha tapi aku bilang, kamu kalau nda mau sekolah itu nanti kamu dibodoh bodohin orang seperti aku. Aku lah sudah terjadi dibodoh bodohi orang. Jadi uang kamu sedikit, kamu mau beli misalnya beras. Berasini10 ribu satu kilo. Kamu dijual 12 ribu. Uang kamu cuma 10 ribu, padahal orang orang desa itu 10 ribu dia beli. Nha tapi lantarantambahan dua ribu kamu nda punya uang, kamu nda jadi makan,” jelasnya.

Termasuk membujuk anaknya yang suka mengeluh malas bersekolah. Alasannya lelah karena lokasi sekolah yang jauh.

“Yo sering. Malas. Katanya capek. Nda ado capek capeknyo kubilang. Anak aku malas, ini, pak aku mau istirahat sekolah. Aku tengok orang diluar tu, nda ado istirahat istirahatnyo selain hari Minggu.Hari Minggu kan prei nyo. Nha itulah biar aku ngantar jemput nda papolah yang penting setiap hari. Inilah anakku itu. Inilah yang pertama kali diantar dalam satu bulan tu malas terus. Tapi sekarang sudah mulai rajin,” kata Syargawi.

Pendidikan diharapkan membebaskan anak-anak Orang Rimba dari kebodohan dan kemiskinan.  Selepas lulus sekolah, kelak mereka bisa bekerja dengan penghasilan yang lebih besar.  Tak lagi bergantung dari pekerjaan meramu dan berburu di hutan yang biasa mereka lakukan. Lahan sawit yang jadi tumpuan hidup pun belum mampu  memenuhi kebetuhan sehari-hari.  

“Pak Syargawi kan punya kebun sawit. Iya, nda punyo lah. (Yoy?) Inilah cuman dikit ini, berapo. (Berapa biasanya dapatnya sebulan?) Ah, paling paling dapat jumlahnyo tu di dalam satu kali manen Rp 200 ribu lah. Satu bulan dua kali manen.”

Berharap upah dari keterampilan membuka lahan yang mereka miliki juga sulit terlaksana.  “Rombongan kami ini nerbas bisa. (Nerbas itu membuka lahan?) Iyo. Kalau ado upahan kami bisa kerjo nerbas atau apo. Tapi sekarang aku tengok tengok orang di Desa desa ini malahan walaupun ado kerjaan nda mau ngasih. Inilah seperti aku ceritokan sama Ibu tadi sudah menemui orang PT itu, kan, minta pekerjaan nda mau ngasih. Orang Desa begitu jugo,” imbuh Syargawi.

Untuk menyambung hidup Syargawi dan komunitasnya terpaksa memulung plastik bekas kemasan air minum.  

“Karena ado orang yang beli. Jadi diceritokan. Kamu kalau mau cari barang yang seperti ini, nanti ditimbang sekian hargo. Jadi di situ kami cari. (Yang nyeritakko ini dimana?)Yang beli di SP A ada, Pamenang ada. (Berapa, pak, dijualnya biasanya?)Ado juga yang Rp 1.500 satu kilo. Hampir satu sak. Yang minuman plastik itu, yang seperti apo Ale Ale apo. Nha itu hampir satu sak (karung) itu. Satu kilo.Padahal Cuma Rp 1.500 itu.”

Tapi Syargawi belum mampu  memenuhi seluruh kewajibannya sebagai wali murid . Seperti membeli pakaian seragam sekolah.
 
“Harus bayar 350 ribu baru dikasih pakaian. Tapi belum bayar. Kan, nda punya uang. Katanya untuk pakaian seragam apo, tu. Dia bilang dari kelas satu sampai nanti kelas enam lah itu.”

Ia merasakan ketidakadilan dari pihak sekolah terhadap komunitas Suku Anak Dalam.

“Nda ado. Nda ado pernah kami minta bantuan dari sekolah. Tapi aku tengok tengok malahan yang orang yang diluar itu ada yang dikasih uang sama guru 100 ribu apo berapo dalam satu anak tu. Malah kami tu nda ado pernah. Belum pernah dikasih.”

“Yo kalau kami belum pernah bilang. Soalnya tu aku pikir pikir sedangkan buku bae mau minta dibeli apolagi  kita mau minta bantuan. Contohnya tu masalah uang yang 100 ribu tu mencari anak yang miskin, orang yang miskin dikasih uang seratus seratus ribu, kan. Lha kami ini orangnya miskin jugo, kok kami nda dapat. Apalagi mau kami minta. Malah kami paling paling kena marah. Jadi nda berani lah kami minta minta.”

Apa yang dialami Syargawi sangat kontras dengan aturan yang ada. Pasal 32 Undang Undang Sistem Pendidikan Nasional. Bunyinya seperti ini: “Pendidikan layanan khusus merupakan pendidikan bagi peserta didik di daerah terpencil atau terbelakang, masyarakat adat terpencil, dan atau mengalami bencana alam, bencana sosial, dan tidak mampu dari segi ekonomi.”

Tapi bagi Syargawi dan komunitasnya aturan itu masih sekadar pepesan kosong.

“Yo kalau bisa, yo, gratis lah. Karena kami nda ado punyo mau mbayar tu apa yang kami nak bayarkan. Memang kalau keinginan itu keinginan mau sekolah bu, anak anak kami ini mau. Ini sedangkan sudah dibilangkan minta uang 350 ini udah agak mau mundur. Karena minta sama orangtua gimana? Cari makan untuk perhari harinya susah apalagi mau cari uang 350 ribu.”


Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!