korupsi, anak, kpk, sahabat pemberani, film

Diputar di Sepuluh Kota


Falah salah satu pelajar SD di Bekasi memberikan saran kepada guru tentang metode pengajaran yang efektif tentang praktik haram korupsi. “Jadi guru itu membelajarkan anaknya dengan baik-baik tentang korupsi dengan cara yang halus seperti cerita. Anak-anak terkadang kalau dengan galak sudah males duluan untuk belajar dan sudah tidak enak dengan gurunya,” katanya.

SDN Tanjung Duren Selatan 05 pagi Jakarta memiliki cara jitu untuk menyampaikan pesan berprilaku jujur. Selain diselipkan saat pelajaran, nilai kejujuran disampaikan saat jam istirahat. Josmel Simajuntak, salah seorang guru di sekolah tersebut."Mewujudkan kejujuran di sekolah adalah menerima apa adanya jujur pada diri sendiri dan juga orang lain. Kalau di SD kita punya waktu untuk menanamkan disiplin dan nasihat setelah selesai mata pelajaran atau saat upacara bendera dan tidak tertentu waktunya kapan, mereka juga harus punya rasa percaya diri,” terang Josmel.

Selain guru di sekolah, orang tua juga tak kalah penting ikut berperan mendidik anak menolak korupsi.  kata Fungsional Pendidikan Masyarakat KPK Sandri Justiana. “Bagaimana menanamkan karakter film ini dengan tidak sekedar menonton, tapi perlu pendampingan orang tua dengan berdiskusi dan perlu menamkan nilai jujur dan nanti bisa dibuat menjadi kebiasan seperti di sekolah.  Orang tua dan guru juga menanamkan keteladan, kalau ini ada maka akan muncul karakter tadi.

Film  “Sahabat Pemberani” rencananya akan diputar di sejumlah kota tanah air. Agar masyarakat luas bisa menyaksikan , rencananya film ini akan diunggah di media sosial Youtube, jelas Sandri.  “Kita akan road show ke sepuluh kota dan termasuk yang di Jakarta, nanti akan mendapatkan VCD film ini.  Harapannya bisa diputar di lembaga-lembaga, kemudian youtube dan juga di daerah-daerah dan harapannya bisa diputar juga,” terangnya.

Acil Partawijaya pemerhati anak berharap KPK ikut menyosialisasikan fim ini kepada anak-anak pedesaan dan kaum marginal. “Membawa mereka sedikit intelektual dan kalau anak-anak kampung biasanya hanya didik oleh guru dan diajar, dan ini yang saya ingin bentuk bahwa yang mengajarkan anak di kampung adalah kita. Bersama kita ajarkan anak sekampung dan juga orang tua, dimulai dari mendidik anak kita akan mendidik karakter yang baik dan jujur, mulai dari hal kecil bisa berbuat baik untuk lingkungan sekolah dan keluarga sehingga diharapkan bisa menjadi generasi emas nantinya,” jelasnya.

Menurut pengelola salah satu rumah baca ini pendidikan antikorupsi akan efektif jika disertai contoh langsung tentang prilaku jujur.  “Kalau di sekolah sekadar cium tangan sama guru lalu lewat, tapi tanpa sentuhan dan yang penting sentuhan hati. Karena dengan sedikit ucapan apalagi dengan keteladanan sikap kita dan mereka akan nurut, seperti buang sampah di tempatnya,” katanya.

Bagi pegiat antikorupsi dari Transparancy Internasional Indonesia (TII) Dadang Trisasongko, film merupakan media yang efektif untuk menyebarkan nilai-nilai kejujuran. “Film adalah media alternatif yang banyak bisa menembus, karena banyak orang yang menyampaikan anti korupsi lewat ceramah atau tulisan tapi lewat film ini pesan anti korupsi disampaikan tidak terlalu serius tetap senang dan idenya masuk ke anak-anak karena jujur tidak perlu rumit, seperti urusan mainan yang diambil,” jelasnya.

Dadang menambahkan,” Bagi anak cerita seperti ini juga banyak dicari dan harus lebih banyak lagi dan cerita tidak usah terlalu rumit dan nanti susah dicerna, saya kira cukup dari kehidupan sehari-hari saja.”

Selain lewat pencegahan, tak kalah penting langkah penindakan hukum bagi pelaku korupsi. Masyarakat bisa ikut membantu KPK caranya  seperti melaporkan pelaku rasuah. Juhani Grossman, Penanggung Jawab Program USAID, lembaga yang mendanai i film "Sahabat Pemberani".  “Karena korupsi tidak hanya terjadi di kota-kota besar,semua orang menderita akibat korupsi. Karena itulah tidak cukup bila hanya KPK yang memerangi korupsi. Tugas KPK sangat baik menangkap koruptor dan tugas untuk memerangi koruptor harus datang dari seluruh lapisan masyarakat,” tegasnya.

Editor: Taufik Wijaya

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!