korupsi, anak, kpk, sahabat pemberani, film

Tak Menggurui


Usai menyaksikan film ini, Ivana dan Kayana siswi SD menyampaikan kesan mereka.  “Harus jadi pemberani dan harus jujur juga, dan tidak boleh ambil barang orang sembarangan. Tadi jilid duanya itu tidak boleh ambil barang oarang sembarangan.  Kalau jujur pernah, kalau berani sepertinya belum,” jelas Ivana.

Kayana menimpali, “Bagus filmnya, mengajarkan kita anti korupsi atau mencuri. bagus filmnya dan mudah untuk dimengerti.”

Abulalah dan Falah, siswa SD lainnya ikut berkomentar. “Jadi film ini soal pendididikan antikorupsi dan sejak usia dini sudah diajarkan tidak boleh korupsi, dan di sekolah perlu ditanamkan dan kalau tidak ditanamkan dari kecil sangat susah karena terpengaruh pergaulan”.

Falah menuturkan,”Film ini mendidik anak kecil itu tentang korupsi, bahwa korupsi itu tidak boleh, karena banyak merugikan.”

Rostiati, salah satu guru SD  yang ikut menonton,  menilai film ini bisa menginspirasi anak untuk berprilaku jujur  dalam kehidupan sehari-hari. “Kalau menurut saya baik sekali, anak sejak usia dini tahu bahaya korupsi untuk dirinya sendiri dan juga negara. Dia tidak mengerti, karena itu mereka sudah diajarkan untuk bicara jujur, berkata jujur dan nanti mengerti yang mana menjadi hak dia dan yang mana bukan hak dia. Misalnya memang anak-anak tidak jujur saat ulangan, belajar dan senang menyontek dan kita sebagai guru tugasnya mengarahkan, meski hasilnya kecil tapi hasil sendiri. Itulah yang sering kita bicarakan dengan anak,” katanya.

Rostiati juga mengingatkan agar anak atau orang tua ikut mengkritisi cerita, dongeng atau film yang dinilai kurang mendidik. Sebut saja soal cerita kancil yang mengelabui petani untuk mencuri timun. “Segi positifnya dari cerita si kancil adalah berusaha untuk memenuhi kebutuhan dia, tapi kita sebagai guru mengarahkan kalau bisa jangan melakukan perbuatan seperti itu karena didapat dari perbutan mencuri,” paparnya.

Guru lainnya, Josmel Simajuntak punya harapan lain seusai menyaksikan film ini. “Mereka harus punya percaya diri, jujur dan punya cita-cita. Harus realistis dan juga bisa diwujudkan. Anak ini jangan hanya sebagai pengikut saja yang gampang terpengaruh, tetapi menjadi pemimpin yang bisa mempengaruhi dengan tindakan,” katanya.

Menurut produser Donny Ragil film ini tak berupaya untuk menggurui penontonnya. “Jadi yang ingin kita tampilkan adalah keseharian anak-anak, jadi nilai integritas yang masuk ke anak-anak itu ada jujur, peduli, mandiri, disiplin, bertanggungjawab, hidup cerdas, sederhana, berani dan adil. Nilai itu yang dimasukkan lewat film ini, dan caranya dengan karakter yang seusia mereka.”

Fungsional Pendidikan Masyarakat KPK Sandri Justiana menambahkan. “Memang film ini tidak bersifat mendoktrin tapi mengajak untuk berdiskusi dan nantinya dia akan mampu untuk memilih, jadi kita buat dalam dunia anak dan mereka tidak merasa digurui. Anak merasa menonton film dan hiburan tanpa mereka sadari maka akan tertanam di dalam jiwanya.”

Sandri Justiana berharap orang tua dan sekolah ikut berperan menyosialisasikan nilai-nilai antikorupsi kepada anak.

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!