korupsi, anak, kpk, sahabat pemberani, film

KBR68H- Pemberantasan korupsi di negeri ini tak melulu dilakukan lewat penindakan hukum. Langkah pencegahan lewat pendidikan antirasuah khususnya kepada anak tak kalah penting. Salah satunya lewat medium film. KBR68H bersama anak-anak SD ikut menyaksikan pemutaran perdana film yang digagas KPK, “Sahabat Pemberani”.

Seratusan anak dari berbagai Sekolah Dasar di Jakarta sejak pagi hari berkumpul di gedung bioskop Taman Ismail Marzuki. Didampingi para guru, mereka diundang untuk menyaksikan tayangan perdana film animasi anak berjudul "Sahabat Pemberani". Film yang digarap Sutradara Donny Ragil  tersebut  merupakan bagian dari kampanye gerakan antikorupsi yang gawangi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Jelang film diputar, anak-anak berbaris. Mereka kemudian bernyanyi sambil berjalan masuk ke gedung bioskop. Sesekali terdengar teriakan kompak: "Anak Indonesia bebas korupsi!"

Lagu berjudul " Sahabat Pemberani" ini dinyanyikan pelajar SD Nasional 01 Bekasi. Tembang ini  jadi soundtrack film yang bercerita tentang anak Indonesia yang jujur, berani, mandiri, dan antikorupsi.

Film "Sahabat Pemberani" berkisah tentang  tiga anak Krisna, Panji, dan Kirana atau disingkat KPK. Mereka saling mengingatkan untuk menerapkan nilai-nilai kejujuran dalam kehidupan sehari-hari.

Film berdurasi satu jam tersebut dibagi dua episode. Pertama, terjebak di hutan lindung. Episode ini mengandung berbagai nilai kejujuran. Diantaranya, tidak memakan makanan  yang bukan  milik sendiri   meski lapar.  Serta berani membela yang benar.

Kisah kedua bercerita soal pencuri misterius. Pada bagian ini menampilkan  upaya membongkar praktik pencurian yang disertai bukti pendukung.

Selain itu, memberi sanksi tegas bagi pelaku pencurian dan menolong korban yang sebelumnya dituduh sebagai pelaku.

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!