Ilustrasi

Ilustrasi

Dicap Sekolah PKI

Sekolah SPI cerita Agus didirikan pengusaha Julianto Eka Putra.“  Sampai pada satu titik karena kemurahan Tuhan tahun 2003 kita sudah bisa beli tanahnya, tanahnya itu 3,3 hektar, nilah rupiahnya pada waktu itu 5,3 milyar rupiah,“ jelasnya.

Awalnya tak mudah mendirikan sekolah gratis bagi anak miskin atau yatim-piatu yang menjunjung nilai-nilai keberagaman dan  toleransi. Hingga suatu saat setelah diyakinkan, Dinas Pendidikan Kota Batu Jawa Timur memberikan izin. Sejak 6 tahun silam sekolah berasrama ini mulai menerima siswa. “ Anak-anak yang boleh sekolah di sini,adalah mereka yang mempunyai latar belakang lulus dari SMP dan tidak mampu masuk SMA,  dan mereka yatim piatu itu bisa langsung masuk, ada yang yatim ada yang piatu, ada yang mereka orang tuanya lengkap selama mereka tidak mampu tapi mau sekolah SMA kita sekolahkan, tapi karena keterbatasan dana dulu tahun 2007 baru sekitar 30 anak harus lima agama dan seluruh Indonesia,” jelas Agus.

Siswa yang bersekolah di sini  berasal dari suku dan agama yang berbeda di tanah air. “Dari 10 anak 6 muslim, 2 kristen 2 katolik, 1 hindu 1 budha, jadi demografinya sama dengan demografi di Indonesia kalo ada 40 anak kita punya 16 Muslim 8 Kristen 8 Katolik, 4 Hindu dan 4 Budha,” tambahnya.

Pihak sekolah berharap keragaman membuat siswa bisa saling menghormati. Saat ini jumlah siswa SMA SPI mencapai 100 orang. Semua biaya pendidikan ditanggung sepenuhnya pihak sekolah. Mereka juga mendapat uang saku. Sumber dana sekolah ini terang salah satu pengelola sekolah, Agus berasal dari usaha Julianto Eka Putra dan  para dermawan.

Komentar miring dari pihak luar juga kerap diterima pengelola Sekolah SPI. Mulai dari tudingan Kristenisasi sampai dicap sekolah Partai Komunis Indonesia atau PKI.“ Bangun sekolah ini kalau kita mau kisah sebenarnya diawal kita di cap Kritenisasi, di koran kita ditulis Islam garis keras, terakhir kita di cap PKI”

Pengelola dan siswa sekolah  tak ambil pusing dengan tuduhan tersebut. Mereka menjawabnya dengan aneka prestasi yang ditorehkan para siswa. Mulai dari lomba pidato, olah raga sampai tim kesenian yang diundang memeriahkan acara nasional yang dihadiri Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Serupa dengan sekolah menengah atas lainnya, kurikulum  pendidikan di Sekolah SPI tak jauh berbeda. Perbedaannya sekolah ini sangat menonjolkan nilai-nilai kewirausahaan dan toleransi .

Bagaimana kesan siswa yang bersekolah di sini? 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!