perawat, kesehatan, amelia, papua, malaria

Persalinan di Hutan

Jumlahnya lebih dari 30 orang. Terdiri dari perawat, dokter, bidan, dan pegawai apotik serta administrasi. Setelah memastikan tak ada luka serius ditubuh korban kecelakaan, Amelia kembali ke rumahnya di belakang Puskesmas.


Sebenarnya Amelia bukan penduduk asli  Kampung Skouw.  Ia besar dan lahir di Kabupaten Biak, jaraknya  1000 kilometer dari kampung tersebut.  Orangtua tunggal satu anak ini kuliah di Politeknik Kesehatan jurusan Keperawatan di Jayapura pada 1998. Setelah lulus, beberapa kali terlibat dalam pendampingan kesehatan masyarakat di berbagai puskesmas . Mulai 2004, ia memutuskan menjadi perawat yang rela bekerja 24 jam. Ia terpanggil karena prihatin dengan anggota keluarga yang tidak mendapatkan pelayanan kesehatan yang cepat dan baik.

“Ada dari keluarga sendiri yang sering sakit. Ada juga yang ketabrak, tapi tidak ditangani dengan baik. Itu saya alami di keluarga. Saya melihat sendiri keluarga saya berobat dan harus menunggu, dan bagaimana penanganan medis terhadap keluarga, ada yang kurang menyenangkan. Dan, itu menjadi motivasi saya untuk ada di bidang ini. Untuk memenuhi kebutuhan keluarga saya, tapi juga memenuhi orang yang membutuhkan,”ungkapnya.

Amelia juga sempat membantu persalinan warga. “Waktu itu saya bantunya di hutan. Cukup jauh dari rumah. Jam 5 pagi, keluarganya jemput di rumah, terus kita sampai di sana, ternyata ibunya ini sudah masuk di hutan. Jadi melahirkannya di hutan. Lalu, saya tenteng semua peralatan. Saya masuk ke hutan, dan saya bantunya di hutan. Pas saya bantu, bayi sudah lahir dan ibunya sudah shock. Pingsan. Jadi waktu itu pas libur. Tak ada kendaraan, motor dan mobil tak ada,” kenangnya.

Pintu rumah Amelia terbuka bagi siapa saja yang membutuhkan bantuan. Termasuk Sahruddin, anggota TNI yang kerap terkena malaria saat  bertugas di perbatasan.  “Kalau di sini sudah langganan. Itu tanya Ibu suster. Jadi kalau saya ke sini periksa darah. Ibu suster bilang, malaria, ya sudah, infus. Mudah-mudahan jangan lagi. Mudah-mudahan kebal sudah. Pertama datang ke sini, itu hampir tiap minggu kena,” jelasnya.

Meski pengabdian dan komitmennya membantu sesama sangat tinggi, tapi gaji  yang diperoleh Amelia relatif kecil.  Hanya Rp 2 juta per bulan. Jumlah itu masih jauh dari cukup, mengingat biaya hidup di Papua bisa mencapai 3 kali lipat dibanding  Jakarta.

Bagaimana pemerintah setempat menanggapi hal ini?

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!