Amelia Perawat di Perbatasan Indonesia-PNG

Amelia bukanlah dokter. Perempuan berperawakan kurus ini hanya perawat yang bertugas sukarela menjaga Puskesmas Skouw selama 24 jam.

Selasa, 01 Okt 2013 14:22 WIB

perawat, kesehatan, amelia, papua, malaria

KBR68H, Papua – Amelia Womsior melampaui tugasnya sebagai perawat. Dia kadang bertugas sebagai bidan dan dokter. Melayani warga di daerah terpencil mendapatkan pelayanan kesehatan. Namun komitmennya yang  tinggi membantu sesama, belum diganjar pemerintah dengan gaji memadai. KBR68H menemui Amelia di sela-sela kesibukannya  di perbatasan Papua-Papua Nugini.

John Gobay, 29 tahun, terbaring  menahan sakit di kursi kayu ruang rawat Puskemas Skouw, perbatasan Indonesia-Papua Nugini di Kota Jayapura, Papua. Mobil yang ditumpangi anggota keluarganya  baru saja terguling saat menikung di jalan sepi. Di Minggu sore itu ia tengah berlibur bersama keluarganya. Meski hari libur untung  masih ada puskesmas yang tetap beroperasi.  

John mengalami luka di siku kanan. Amelia Womsior mengobati lukanya dan memeriksa tekanan darah. Tak ada yang mengkhawatirkan. “Menurut pemantauan masih normal. Tekanan darah, dan tanda-tanda vital yang menyertai masih dalam batas normal. Nah, karena butuh istirahat, pergelangan tangannya hanya sedikit terjepit, jadi susah untuk digerakkan. Jadi, untuk sementara, kita observasi tanda-tanda vitalnya dulu, keadaan umumnya bagus. Baik. Untuk kondisi seperti ini, butuh satu jam kita pantau tanda-tanda vitalnya. Karena kondisi keadaan umumnya baik, satu, dua, tiga jam sudah boleh pulang. Tapi kalau kondisinya sudah tidak sadar, itu semestinya kami pantau, setelah kami lakukan pemeriksaan tanda-tanda vital dalam keadaan tidak sadar, kami harus rujuk ke Rumah Sakit Terdekat. Kalau RS Abepura, itu perjalanan satu jam,” kata Amelia.

Amelia bukanlah dokter. Perempuan berperawakan kurus ini hanya perawat  yang bertugas sukarela menjaga Puskesmas Skouw selama 24 jam.



Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Dirjen AHU Freddy Harris soal Pencabutan Badan Hukum Ormas HTI

  • Bagi-Bagi Kopi di Filosofi Kopi 2
  • (Wawancara) Batal Temui Luhut, Senator Australia Kecewa
  • PDIP: Jika Tak Kompak Dukung Pemerintah, Silakan PAN Keluar Dari Koalisi
  • Indonesia Turki Sepakati Perangi Terorisme Lintas Negara
  • Alasan Polisi Hentikan Kasus Kaesang

Disebut Dukung HTI, Menpora Segera Panggil Adhyaksa

  • Diprotes Imvestor, Presiden Sentil 2 Menteri
  • KPPU: 5 Perusaah Atur Tata Niaga Beras di Sejumlah Provinsi
  • Indonesia Gandeng Azerbaijan Buat Pusat Pelayanan Terpadu

Perkawinan anak dibawah usia minimal, menjadi hal memprihatinkan yang seharusnya menjadi perhatian dari pemerintah apabila benar-benar ingin melindungi anak-anak sebagai generasi penerus Bangsa.