[SAGA] Listiyani Indriya: Apakah Bunuh Diri Itu Pilihan?

"Aku sampai attempting self harm. Tapi saya pikir saat itu hal yang biasa saja, karena kegalauan remaja,” kenang Listy.

Rabu, 13 Sep 2017 12:30 WIB

Listiyani Indriya Noviyanthi, penyintas bunuh diri dan anggota komunitas Into The Light. Foto: Istimewa.

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

KBR, Jakarta - “Aku grow up dengan lagu mereka. Lagu-lagu mereka itu aku banget. Dan dia meninggalnya dalam keadaan kalah, ketika melawan depresi,” ucap Listy. 

Dia yang disebut Listiyani Indriya Noviyanthi adalah Chester Bennington, vokalis utama band Linkin Park. Chester, ditemukan tewas gantung diri pada pertengahan Juli lalu oleh sang istri. Dan sebagai penggemar, hari itu menjadi hari berkabungnya. 

Lagu-lagu Linkin Park, menjadi kawan baik Listy selama ini. Listy mengikuti band asal California, AS, itu sejak album debut Hybrid Theory lahir pada 2000. Pada tahun-tahun tersebut, ia mulai mengenal perasaan yang sulit dijelaskan. Dan lirik-lirik yang ditulis Chester seakan mewakili. 

“Saat SMA aku sempat nggak mau punya teman. Cuma di kamar, dikunci, dan main game. Aku bisa main game sampai jam 7 pagi. Lalu tidur sampai jam 12 siang lalu bangun lagi, makan, main game lagi,” kenangnya.

Lima tahun berikutnya, perasaan itu diikuti tindakan menyakiti diri (self harm). “Waktu UAN aku merasa berat sekali. Aku sampai attempting self harm. Tapi saya pikir saat itu hal yang biasa saja, karena kegalauan remaja,” sambungnya.

Listy remaja, belum sadar dirinya mengalami depresi. Hingga dua tahun silam Listy melakukan percobaan bunuh diri. Saat itu dia sedang sendiri di kamar sewanya, keinginan untuk mengakhiri hidup begitu kuat. Dorongan itu menumpuk dikarenakan persoalan pekerjaan, hubungan pertemanan dan, yang utama faktor keluarga.

“Aku berada di titik nol, tidak merasakan apa-apa. Aku tidak bisa mengidentifikasi perasaan itu senang atau sedih. Kosong, kayak kesemutan. Perasaan kayak kram: sedih nggak, senang juga nggak.”

Percobaan bunuh diri pada 2015 itu gagal. Tapi hari-hari setelahnya, Listy masih memikirkan cara-cara lain untuk mati. Untung, ada J-big dan Rexie –anjing peliharaan Listy.

“Kalau aku nggak ada, mereka sama siapa? Dengan muka manja gitu kan aku mikir, mereka main sama siapa? Nggak ada yang ngasih makan. Dari situ aku kan postponed.”

Lambat laun Listy mengerti apa yang dialaminya sejak SMA itu dinamakan depresi. Pada 2016, Listy lantas memutuskan bergabung dengan Into The Light—komunitas pencegahan bunuh diri dan kesehatan jiwa. Apabila tahun-tahun sebelumnya dia mencari sendiri informasi mengenai kesehatan mental, kini di komunitas tersebut Listy bisa diskusi dan berbagi pengalaman. Bahkan belakangan aktif menjadi relawan.

“Itu ada pelatihannya berbulan-bulan. Selama di Into The Light aku bisa sharing, jadi mental ku membaik, dan di situ banyak yang punya pengalaman yang sama,” tuturnya.

Meski begitu, alumni pasca sarjana Institut Teknologi Bandung (ITB) ini tahu betul, depresi bisa menghinggapinya lagi. Sekalipun Listy telah terpapar pelbagai pengetahuan mengenai kesehatan jiwa.

“Kalau lagi down, pikiran terblok nggak bisa mikir. Apakah bunuh diri itu pilihan? Bukan. Tapi ketika di tahap itu nggak ada pilihan, ya kepikirannya cuma bunuh diri. Karena saat seperti itu cuma ingin kabur, menghilangkan rasa sakit,” ungkap Listy.

Depresi adalah gangguan kesehatan jiwa yang tak pantas dianggap enteng. Menurut Perhimpunan Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa Indonesia (PSDKJI), sembilan juta orang mengalami depresi, dari total 261 juta jiwa penduduk Indonesia. Data WHO pada 2012 juga mencatat, angka kematian akibat bunuh diri di Indonesia melebihi 9.000 nyawa. Dan depresi menjadi pemicu utamanya.

Belajar dari pengalaman, Listy, mulai mengenali tanda-tanda jika depresinya kambuh. Satu tandanya; mual dan sakit kepala luar biasa. 

“Sekarang masih minum obat, karena ada cairan yang kurang di otak ku kan. Sama selfcarenya kalau saya sedih itu mikir penyebabnya, jadi merunut. Saya sedih kenapa, gimana ngatasinnya. Ini beda-beda setiap orang. Kalau saya main game, atau ketemu teman, beli barang.”

Karenanya, tiap kali merasakan gejala itu, Listy sudah bisa mengantisipasi agar tak memburuk. Misal dengan mengontak Benny –temannya di komunitas Into The Light. 

Bertahun melawan depresi bukan pekerjaan mudah bagi Listy. Bukan saja soal menghadapi stigma melainkan juga menumbuhkan kesadaran akan pentingnya awas terhadap kesehatan mental.

“Jangan takut untuk mengambil langkah awal, langkah untuk penyembuhan. Kamu itu nggak sendiri, di komunitas itu banyak orang-orang yang sudah teredukasi, nggak judgemental dan nggak menstigma.”

That’s really …. berat sih melawannya. But well, saya nggak mau gitu terus. Capek sih. Ke fisik iya, ke mental iya.”

Editor: Quinawaty

 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh

  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!
  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum

Penggantian Ketua DPR Dinilai Tak Perlu Tergesa-gesa

  • PKB: Keputusan Golkar Terkait Posisi Setnov Menyandera DPR
  • Mendagri: Usulan Tim Gubernur Anies Melebihi Kapasitas yang Diatur Undang-undang
  • Golkar Resmi Dukung Khofifah-Emil di Pilkada Jatim