[SAGA] Berbagi Makanan untuk Kaum Fakir

FOI merupakan jembatan bagi kaum berkecukupan dengan yang kekurangan. Misinya memerangi kelaparan dalam masyarakat miskin dan meningkat gizi anak.

Rabu, 13 Sep 2017 11:12 WIB

Tihanah Mashabie, relawan di FOI, membagikan makanan kepada nenek Arni. Foto: Gilang Ramadhan/KBR.

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

KBR, Jakarta - Di dapur berukuran 3x4 meter, lima perempuan mengenakan celemek merah dan sarung tangan mengolah berbagai makanan. Itu hari mereka tengah menyiapkan 50 porsi makanan untuk lansia serta orang miskin --yang tersebar di Kebayoran Baru dan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Tiap porsi terdiri dari nasi, sayur, telur, daging, buah, susu dan roti.

Para perempuan itu adalah relawan organisasi non-profit Foodbank Of Indonesia (FOI) yang berada di bawah Yayasan Lumbung Pangan Indonesia. Pertengahan Juli lalu KBR mengunjungi kantor yang sekaligus dapur itu di Kebayoran Baru.

Melalui program Pos Pangan, FOI telah membagikan lebih dari 13 ribu porsi makan kepada lansia dan orang miskin dalam dua tahun terakhir. Layanan FOI ini digagas Wida Septarina Wijayanti dan suaminya Hendro Utomo. Keduanya punya gagasan memanfaatkan sisa makanan dan minuman yang kerap dibuang dari individu maupun perusahaan. Salah satu perusahaan yang rutin berdonasi BreadLife Bakery. Dalam sepekan, mereka memberikan ratusan bungkus roti.

Wida mengatakan, FOI merupakan jembatan bagi kaum berkecukupan dengan yang kekurangan. Misinya memerangi kelaparan dalam masyarakat miskin dan meningkat gizi anak.

“Kadang-kadang kita membeli makanan berlebihan terus tidak menghabiskan karena istilahnya kita lapar mata. Tapi ternyata yang dimakan sedikit dan sisanya terbuang,” ucap Wida.

(Para relawan di Foodbank Of Indonesia tengah menyiapkan makanan untuk dibagikan ke lansia dan anak-anak. foto: Gilang Ramadhan/KBR)

Siang itu, KBR mengikuti seorang relawan. Si relawan rencananya akan membagikan makanan pada empat warga yang lokasinya tak jauh dari kantor FOI. Salah satunya Arni. Nenek berusia 70 tahun ini, sudah pikun dan sulit diajak bicara. Selain itu, pasca kecelakaan, ia pun kesulitan jalan.

Kerabat nenek Arni, Yadi Mulyadi, mengaku terbantu dengan bantuan pangan dari FOI. Pekerjaannya sebagai buruh cuci sepeda motor tak bisa memenuhi kebutuhan gizi nenek Arni.

“Programnya pas dengan usia yang menerima dan memang cocok untuk umur segitu. Harapannya ya bisa dilanjut kembali untuk masa yang akan datang,” harap Yadi.

Foodbank Of Indonesia (FOI) memiliki sejumlah simpul relawan di Jakarta yang secara sukarela mendistribusikan makanan. Jumlahnya mencapai ratusan orang.

Wida mengatakan, gerakan yang bermula dari Jakarta ini telah meluas ke Subang dan Bogor. “Dari mana kami tahu itu penerima manfaat yang tepat atau tidak, dari masyarakat sekitar. Seperti anak-anak, lansia, anak-anak dengan HIV. Orang-orang penerima manfaat itu susah. Kalau lihat rumahnya juga orang yang tidak berdaya,” cerita Wida.

Seorang relawan, Tihanah Mashabie, bercerita bangga bisa terlibat. Guru Sekolah Dasar di Kebayoran Baru ini selalu menyempatkan diri memasak dan mendistribusikan makanan.

Meski baru lima bulan menjadi relawan, pengalamannya sangat berharga untuk dibagikan pada murid-muridnya. “Saya merasa ini wadah untuk bersosialisasi. Jadi bisa berbagai walaupun hanya dengan tenaga. Tapi saya bisa sedikit membantu memperpanjang tangan kepada orang-orang yang memang membutuhkan bantuan,” ujar Tihanah.

Kembali ke Wida Septarina Wijayanti. Tujuan mulia rupanya tak selalu berjalan mulus. Wida sering berhadapan dengan birokrat yang merasa terusik dengan kegiatan FOI. Umumnya, muncul pertanyaan mengenai manfaat dan pertanyaan yang menyangsikan sasaran programnya.

Selain itu, ada keengganan dari perusahaan untuk mendonasikan sisa bahan pangan karena tak ada regulasi yang mengaturnya.

“Mengapa perusahaan supermarket misalnya tidak mau memberikan makanan yang tersisa kepada orang karena mungkin dia tidak merasa aman karena tak ada regulasinya. Jadi sekarang kita sedang berupaya berdialog dengan pemerintah supaya kita punya regulasi yang bisa mengumpulkan makanan ini tapi dengan cara legal dan benar,” harap Wida.

Editor: Quinawaty

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh

  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!
  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum

Penggantian Ketua DPR Dinilai Tak Perlu Tergesa-gesa

  • PKB: Keputusan Golkar Terkait Posisi Setnov Menyandera DPR
  • Mendagri: Usulan Tim Gubernur Anies Melebihi Kapasitas yang Diatur Undang-undang
  • Golkar Resmi Dukung Khofifah-Emil di Pilkada Jatim