Rija Nurzaman, petani teh di Ciwidey, Bandung, Jawa Barat, sedang mengecek hasil tanamannya. Foto: Eli Kamilah/KBR.



KBR, Jakarta - Namanya Rija Nurzaman, petani muda asal Ciwidey, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Ketika KBR menyambanginya, dia banyak bercerita tentang kebun tehnya. Kebun seluas dua hektar itu sudah ia kelola kira-kira sejak dua tahun lalu.

Dan karena kencintaannya pada kebun teh, pada 2014 ia dinobatkan sebagai Duta Petani Muda. Bahkan, kebun tehnya itu kini sudah berkembang dua kali lipat.

“Saya sendiri selain meneruskan, tapi juga mengembangkan lagi lahan baru sebesar dua hektar milik saya sendiri," ucap Rija.

Tanaman baru yang disebutnya itu, adalah teh putih. Jenis ini, ia kembangkan saat menjadi duta petani muda. Meski pemasarannya belum meluas, teh putih banyak diminati dan harganya cukup mahal; perkilonya Rp1,2 juta.

Adalah sang ayah yang mengenalkan tanaman teh pada Rija. “Sudah tertarik dari SMP. Dulu sering ikut ayah ke perkebunan. Kenapa bisa tertarik? Kalau pertanian tuh tidak ribet. Memang uang pas-pasan, tapi hati sama pikiran rasanya tuh tenang. Udara di lahan itu bikin relaks.”

Kebetulan pula, ayahnya seorang peneliti yang menciptakan metode Pola Recovery dan Rija, terlibat di dalamnya. Pola Recovery merupakan metode pemetikan teh untuk meningkatkan produktivitas dan pemeliharaan pucuk teh. Pola ini berhasil diterapkan di beberapa daerah di perkebunan di Jawa Barat.

Berbekal pengetahuannya tentang teh, pria 26 tahun ini kemudian membangun desanya. Pun ia, aktif di Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Karya Mandiri Sejahtera.

Gapoktan sendiri, mewadahi 17 kelompok tani di Ciwidey, Kabupaten Bandung. Di sinilah, seluruh cita-citanya ingin terwujudkan.

Di Desa Cibodas maupun Desa Sauyunan, Kabupaten Ciwidey tak banyak pemuda yang mau menjadi petani apalagi menggeluti dunia teh. Kata Rija, pemuda yang seangkatan dirinya bisa dihitung dengan jari.

Kurangnya minat pemuda jadi petani, diakui Dudung Permana –pendamping petani. “Awalnya memang kekurangan petani. Walaupun banyak sebetulnya melihat potensi petani teh.”

Ia bercerita, banyak pemuda berusia di atas 26 tahun memilih meninggalkan desa dan bekerja di kota. Tapi untungnya sejak ada Gapoktan, sekitar tahun 2011, beberapa pemuda mulai tertarik bergabung.

Namun, dukungan pemerintah kata Rija, dinilai belum maksimal. Contohnya, saat hendak mendirikan sekolah pertanian, sial niat itu terganjal perizinanan di Dinas Pendidikan.

“Saya pun sama seorang haji di Desa Cibodas mau mendirikan sekolah pertanian. Biar para pemuda tertarik ke dunia pertanian. Cuma kendalanya ada di Dinas Pendidikan, yaitu izinnya belum ada. Pak lurah sudah mengizinkan, lahannya ada yang di dekat Dinas Perhubungan, sekitar dua hektar,” jelas Rija.

Cita-cita mewujudkan desa petani, tengah dirancang Rija. Dia ingin desa ini menjadi desa wisata teh. Mereka, kata dia, harus acuh terhadap kekayaan alam negerinya; teh.

“Di dunia pertanian tuh sangaingannya tidak terlalu banyak, karena generasinya sangat sedikit tapi banyak yang tidak mau meneruskan. Siapa tahu anak muda dari kota yang cinta akan alam sekitar bisa berkecimpung di dunia pertanian dan mengolah hasil pertanian yang di bawa ke kota. Bisa mengangkat lagi petani di Indonesia,” harap Rija.

Pasalnya, teh milik petani Ciwidey sudah banyak dikreasikan. Semisal, bolu teh, coklat teh dan tepung teh. “Kebetulan kan ada yang coklat dari bu tin, bolu teh, kripik teh, ada satu kelompok dari sugih mukti. Kalau ada pameran saja pemesanannya,” sambungnya.

Namun, kendala terbesar adalah modal. Dia bercerita, pernah ada tawaran produk teh mereka untuk dipasarkan di beberapa supermarket besar di Jawa Barat. Sayangnya, para petani tak punya modal.

“Waktu saya ikut pameran dapat barcode. Lalu saya ditawari di Yogja, Carefour, Alfa. Tapi modalnya nggak ada. Padahal itu semuanya untuk jenis teh. Butuh modal miliaran,” keluh Rija.

Kerana itulah, semua anggota Gapoktan Karya Mandiri Sejahtera urunan demi membeli sebuah pabrik teh. Mereka dipungut Rp100 untuk menabung. “Jadi kami mau membeli pabrik yang sudah ada, di daerah Ciwidey, harganya 1,3 miliar.”




Editor: Quinawaty
 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!