Narapidana Kelas 2 Pria Tangerang di Perkemahan Buperta Cibubur. Foto: KBR

KBR, Jakarta - Di Perkemahan Buperta, Cibubur, Jakarta Timur, ratusan orang berpakaian pramuka berkumpul.

Selama tiga hari, mereka mengikuti berbagai kegiatan. Mulai dari outbound, lomba keterampilan dan ketangkasan, hingga pemutaran film.

Salah satu peserta, Nadia bercerita. “Ada lomba baris-berbaris, tarik tambang dan menari. Aku lebih suka lomba yel-yel dan menari,” ungkapnya.

Nadia dan ratusan peserta lainnya bukan warga biasa. Mereka adalah narapidana. Perempuan asal Ukraina itu misalnya, merupakan tahanan Rutan Pondok Bambu, Jakarta Timur.

Ia divonis 4 tahun 1 bulan penjara lantaran terjerat kasus narkoba.

“Di sini kita punya banyak kegiatan. Aku khusus menari. Kita latihan terus tari tradisional. Abis latihan kita tampil di tempat umum, lapas atau rutan. Dimana-mana kita tampil.”

Perkemahan untuk narapidana ini digagas Kementerian Hukum dan HAM. Tujuannya sederhana; memulihkan kepercayaan diri para napi dan menyiapkan mental mereka ketika bebas. Juru Bicara Ditjen Lapas Kemenkumhan, Akbar Hadi.

“Kegiatan ini juga sebagai bagian dari proses asimiliasi untuk memulihkan percaya diri. Kegiatan ini juga untuk memupuk rasa nasionalisme dan gotong royong yang selama ini mulai pudar,” ucap Akbar pada KBR.

Ia juga menyatakan, tak sembarang narapidana bisa ikut kegiatan ini. Napi terorisme, bandar narkoba dan korupsi, tak diperbolehkan.

“Perkemahan permasyarakatan ini bagi napi yang sudah menyelesaikan setengah masa pidana. Di dalam juga ada kegiatan pramuka. Untuk memotivasi mereka makanya kita menyelenggarakan perkemahan permasyarakatan ini,” tambahnya.

Saat KBR mengunjungi Bumi Perkemahan Buperta, garis polisi tampak mengitari seluruh areal perkemahan. Penjagaan dari Polisi dan TNI pun begitu ketat, hingga tiga ring. Total ada 500 napi yang ikut perkemahan.

Aldin, narapidana anak di LP Khusus Anak (LPKA) Pria Kelas II Tanggerang, Banten.

“Saya divonis tiga tahun penjara. Sudah menjalani di LPKA satu setengah tahun. Jadi sudah setengahnya, intinya kekompakan.”

Ia mengaku antusias dengan kegiatan ini. “Di sini pramuka ada perlombaan-perlombaan. Baris berbaris, yel-yel, pameran-pameran dari lapas di bawa ke sini. Lomba tenda.”

Begitu pula dengan Adirega, narapidana anak di LP Khusus Anak Kelas 2 B Bandar Lampung. “Enggak nyangka aja, bisa terpilih. Ikut program di sini. Ya buat saya ada kesenangan tersendiri.”

Remaja berusia 17 tahun itu punya cita-cita; jadi pebisnis. Tapi sebelum itu, ia ingin melanjutkan kuliah.

Di Bumi Perkemahan Buperta Cibubur, Jakarta Timur, wajah-wajah sumringah terpancar. Cap sebagai narapidana sesaat lenyap, yang ada keriangan.

Dan, kesempatan kedua, ketika mereka bebas nanti tak akan disia-siakan.

Nadia misalnya, ingin menjadi warga negara Indonesia. “Setelah bebas aku ingin tinggal di Indonesia. Jika negara ini mengizinkan aku bersyukur.”

Sementara Adirega, akan memulai hidupnya dari awal lagi. “Berubah ya semua, dari nol lagi. Ikut yang diminta orang tua."




Editor: Quinawaty Pasaribu 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!