Tyaseta Rabita Nugraini Sardjono (memakai kacamata) menyerahkan berkas lamaran di JIExpo Kemayoran, Jakarta. Foto: Yudi Rachman/KBR

KBR, Jakarta - Di JIExpo Kemayoran Jakarta, ribuan pencari kerja memadati gedung itu. Antrean manusia bahkan mengular hingga ratusan meter.
 
Salah satu di antara mereka ada Tyaseta Rabita Nugraini Sardjono. Perempuan lulusan psikologi S2 ini membawa 20 berkas lamaran.
 
Tyas begitu ia disapa, seorang tunanetra yang mencoba mengadu peruntungan.
 
Dipandu tongkat, ia menyambangi satu persatu stand perusahaan. Demi menembus keramaian, sesekali ia menabrak lautan manusia.
 
Ada lebih dari 150 perwakilan perusahaan pencari kerja di sana. Jumlah pekerjaan yang dibuka mencapai ratusan.
 
“Belum ada perusahaan yang mau memberikan kerja. Padahal seharusnya di forum ini ada lowongan untuk disabilitas. Mungkin mereka takut memperkejakan disabilitas," ungkap Tyas pada KBR.
 
Tyas sendiri mengincar posisi sebagai Personalia atau HRD. Ini lantaran ia punya pengalaman serupa di perusahaan peralatan medis.
 
“Aku pernah kerja di bagian HRD dan GA, jadi aku bikin aturan terus merekrut, sekarang aku juga kuliah juga."
 
Selama hampir satu jam, Tyas di sana. Menanyakan informasi lowongan pekerjaan untuk tunanetra.
 
Tapi, dari 150 perusahaan, hanya sekitar empat perusahaan yang membuka peluang bagi tunanetra dengan kualifikasi tertentu. Semisal tenaga administrasi dan pelayanan konsumen.
 
Padahal jika merujuk pada Undang-Undang tentang Ketenagakerjaan, ditegaskan setiap perusahaan swasta yang memiliki karyawan minimal 100 orang dan kelipatannya, wajib memberikan kuota satu persen bagi tenaga kerja disabilitas.
 
Salah satu perusahaan yang menerima disabilitas adalah PT Matahari Putra Prima Tbk. Perusahaan retail ternama itu membutuhkan pekerja disabilitas untuk pelayanan konsumen.
 
Norma, Supervisor Human Resources PT Matahari Putra Prima.
 
“Kalau untuk kebijakan perusahaan terutama di acara lebaran, natal biasanya kalau disable itu keahliannya di back office seperti IT atau di expeditor. Atau mungkin pada saat peak season mereka bisa kita manfaatkan untuk bantu packing belanja konsumen,” ucap Norma.
 
Tapi, minimnya posisi dan perusahaan bagi disabilitas disangkal Menteri Tenaga Kerja, Hanif Dhakiri. Ia mengklaim, bursa kerja ini diprioritaskan untuk disabilitas.
 
“Pelaksanaan pameran kesempatan kerja ini mengikutsertakan sebanyak mungkin perusahaan yang sedang membuka lowongan kerja termasuk lowongan bagi penyandang disabilitas dalam rangka pemenuhan hak-hak bagi penyandang disabilitas masuk dalam dunia kerja. Dan menggiatkan program sosialisasi dan regulasi mengenai penempatan 1 orang penyandang disabilitas untuk setiap 100% karyawan,” ucap Hanif Dhakiri.
 
Kembali ke Tyas. Ia tak mendapati satu pun perusahaan yang merespon baik lamarannya.

“Sayang aja sih, setelah keliling ada beberapa perusahaan yang welcome cuma dari bahasanya aku bisa menciri ada ketakutan tidak mau menerima. Meskipun mereka bilang oke kita bicarakan dulu, tapi dari nadanya saja kita sudah tahu dia itu kemungkinan untuk tidak menerimanya itu besar," tutup Tyas.
 
Editor: Quinawaty Pasaribu 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!