Loyalis Jamaah Islamiyah (Bagian 3)

“Kemudian saya putuskan untuk tinggalkan semua. Saya kecewa dengan JInya, termasuk orang-orangnya. Karena menurut saya, ajaran Islam yang seluas itu rahmatan ill alamin,."

Rabu, 02 Sep 2015 08:44 WIB

Peringatan tragedi Bom Bali, korban terbanyak dari Australia. Foto: KBR

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

KBR, Jakarta - Hanya sekira sepekan Joko Santoso ditahan Kepolisian lantaran keterlibatannya dalam Jamaah Islamiyah (JI), kelompok yang dituding bertanggungjawab atas peristiwa Bom Bali pada 2002.

Setelah dibebaskan, dia memilih bersembunyi. Saat itulah beragam pertanyaan muncul di benaknya.

“Kemudian saya putuskan untuk tinggalkan semua. Saya kecewa dengan JInya, termasuk orang-orangnya. Karena menurut saya, ajaran Islam yang seluas itu rahmatan ill alamin, apakah menyebarkan dakwah harus dengan mata merah menyala terus? Apakah begitu kakunya Islam cara mendakwahnya?” ungkap Joko Santoso pada KBR.

Tak mudah memutuskan keluar dari Jamaah Islamiyah. Risikonya, mulai dari dimusuhi hingga dianggap pengkianat dan dihalalkan darahnya.

“Dimusuhi sampai sekarang. Tidak mau komunikasi. Tapi dimusuhi sama orang bawah tanah tidak apa juga”

Begitupun dengan Muhajir. Meski tak menyatakan diri keluar dari JI, tapi pilihannya untuk menyerahkan diri pada polisi membuat orang tuanya menduga dia menjadi agen Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Ansyaad Mbai.

“Bahkan yang terakhir saya disumpah sama bapak bahwa saya ini orangnya Ansyad Mbai. Saya bilang, saya demi Allah bertemu saja enggak pernah.”

Namun belakangan, keluarga Muhajir mendukung langkahnya. Tapi penyesalan timbul setelah bertemu dengan korban bom.

“Ini mereka enggak tahu apa-apa, enggak salah apa-apa kemudian kena bom kakinya putus. Cerita waktu pertama ketemu Ustaz Ali Fauzi, saya enggak terbayang sedikit pun korbannya begini. Nanti setelah kejadian baru kita lihat penyesalan itu.”

Bagi Muhajir kini, aksi mengebom tak sesuai dengan ajaran Jamaah Islamiyah.

“Ketika saya lihat tangannya, cacatnya. Coba kalau seandainya dia kehilangan ini itu, mungkin kemarin saya merasa betul-betul penyesalan dari hati. Memang sekarang kita belum mampu melaksanakan amaliyah di Indonesia, apalagi ngebom sana ngebom sini ndak cocok dengan ajaran JI yang dulu-dulu.”


Demikian akhir Serial Hikayat Jihadi episode Loyalis Jamaah Islamiyah.



Editor: Quinawaty Pasaribu 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres

  • SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh
  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh

Saksi Kunci Ungkap Pelaku Penganiayaan La Gode

  • Menko Luhut Sebut Turunnya Perekonomian Bali Akibat Keliru Tentukan Status Gunung Agung
  • KPAI: Kasus Anak Berhadapan dengan Hukum Masih Tertinggi
  • Jurnalis di-PHK Tanpa Pesangon, PT Pikiran Rakyat Didenda Ganti Rugi Rp141 Juta

Dan tentu saja di akhir tahun dan menjelang akhir tahun, selalu ada yang baru dan berbeda yang akan dipersembahkan Alfamart pada para pelanggannya.