Bekas anggota Jamaah Islamiyah, Muhajir. Foto: KBR

KBR, Jakarta - “Nama saya Muhajir Rohmat MS. MS itu Mustaqim, bapak saya. Latar belakang saya itu, bapak saya orangnya keras. Mudanya suka ikut pengajiannya Abdullah Sungkar. Jadi keluarga saya semuanya JI lah.”

JI yang disebut Muhajir adalah singkatan dari Jamaah Islamiyah. Sedangkan Abdullah Sungkar adalah amir atau pemimpin JI.

Abdullah Sungkar sempat buron belasan tahun di Malaysia, setelah divonis lima tahun penjara atas tuduhan menolak asas tunggal Pancasila.

Seperti juga Abdullah Sungkar, orang tua Muhajir juga tak suka dengan dasar negara.

“Di Jawa Timur, semua tahu bapak saya. Sebelum kejadian Bom Bali itu Ust ABB, Amrozi semuanya  pernah datang ke rumah. Bapak saya waktu mudanya, biasanya sering ikut pengajian Ustad Abdullah Sungkar di Masjid Ampel. Sampai sekarang bapak saya paling enggak suka dengan Pancasila UUD '45,” ungkap Muhajir pada KBR.

Ketidaksukaan sang Bapak diturunkan ke Muhajir. Sejak di Sekolah Dasar (SD) ia sudah membaca kasus-kasus kekerasan, semisal Priok. “Kasus Ngruki yang digerebek itu saya baca bukunya. Jadi sejak kecil saya ditanamkan bahwa negara Indonesia ini masih belum ber-UU pada Alquran dan sunnah, jadi negara masih kafir.”

Muhajir lantas disekolahkan ke pondok Pesantren Al Islam Al-Hasyimi. Pesantren ini dikelola keluarga terpidana mati bom Bali, Ali Gufron alias Muclas dan Amrozi.

“Jadi bapak mendidik anaknya dari kakak pertama saya belajar di Ngruki. Setelah itu tugas ke Malaysia sama Ust Abdullah Sungkar dan nikah sama Ust Mulyana. Yang kedua dari Ngruki pindah ke Tawangmangu. Pernah di Malaysia abis itu yang ketiga saya. Yang keempat sama suaminya di Al Islam Tenggulun mengajar di sana. Yang kelima mengajar di Tenggulun Al Islam. Yang keenam di Lamongan, ndak mengajar. Semua lulusan Al Islam Tenggulun Amrozi dan Ngruki.”

Di tempat itu, Muhajir berkenalan dengan Amrozi hingga kemudian menjadi buronan Polisi atas sangkaan terlibat aksi bom Bali.

“Tiap malam kita jaga di pesantren pasca bom Bali meledak. Yang tua-tua saja yang datang ke Bali. Setelah Amrozi kena, saya sama Ali Imron lari dari pesantren. Akhirnya setelah hampir satu bulan lebih, saya sama Ali Imron keliling Lamongan-Surabaya-Lamongan sebagai pelarian.”

Berbulan-bulan menjadi pelarian, Ali imron akhirnya ditangkap di Pulau Brukang lepas pantai Samarinda, Kalimantan Timur pada Januari 2003.

Ia pun divonis seumur hidup.

Sementara Muhajir, menyerahkan diri.

Apa yang mengubah Muhajir? Simak kelanjutannya di serial Hikayat Jihadi episode Loyalis Jamaah Islamiyah bagian kedua.



Editor: Quinawaty Pasaribu 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!