Jemaat muslim Ahmadiyah memasang spanduk pesan kebhinnekaan di masjid Nur khilafat, Ciamis. Spanduk

Jemaat muslim Ahmadiyah memasang spanduk pesan kebhinnekaan di masjid Nur khilafat, Ciamis. Spanduk ini dibentangkan setelah pengurus masjid mencopot sendiri spanduk penutupan masjid mereka. (Foto: Rio Tuasikal)

KBR - Tiga hari sebelum Ramadhan, masjid Nur Khilafat milik jemaat muslim Ahmadiyah Ciamis disegel bupati. Keputusan ini dibuat atas desakan kelompok intoleran. Jemaat sudah melayangkan protes dan memaksa bupati membuka masjidnya. Namun bupati tetap abai. Setelah sepekan  menunggu, mereka lantas membuka segel masjid mereka sendiri. Jurnalis KBR Rio Tuasikal menyajikan laporannya untuk anda.

Terik matahari terasa menyengat kepala, saat Syaeful Uyun berdiri di depan pintu masjid Nur Khilafat, Ciamis Jawa Barat. Syaeful merupakan Mubaligh Ahmadiyah untuk wilayah Priangan Timur. Disaksikan belasan jurnalis dan pegiat HAM, Uyun membuka sendiri segel masjid bercat putih dihadapannya. Tangan Uyun gemetar saat membacakan sikap Jemaat Ahmadiyah.

 “Bulan Ramadhan adalah bulan di mana setiap orang berusaha untuk damai dengan Allah. Orang yang damai dengan Allah, pasti akan damai dengan sesama umat manusia. Mari kita jaga keamanan dan ketenteraman masyarakat. Mari kita jaga keutuhan Pancasila, UUD 1945, bhineka tunggal ika, dan NKRI. Hidup Indonesia! Hidup Pancasila! Hidup Undang-Udang Dasar 45! Hidup Bhinneka Tunggal Ika! Hidup NKRI! Hidup Islam! Hidup Islam Ahmadiyah! Takbir, Allahu akbar!” seru Syaeful disaksikan banyak orang. Tak lama dua puluhan personel polisi tiba berjaga.

Masjid Nur Khilafat yang didatangi Uyun disegel bupati terpilih Iing Syam Arifin tiga hari sebelum Ramadhan. Penutupan masjid Ahmadiyah memang jadi jualan politik Iing, sewaktu kampanye Pilkada tahun lalu. Itu pula jadi sebab, selepas Iing dilantik jadi bupati April 2014 lalu desakan penutupan masjid terus bermunculan, termasuk dari pejabat kepolisian dan Majelis Ulama Indonesia setempat.

Selain ulama dan aparat keamanan, kelompok intoleran pun datang ke pendopo menagih janji bupati, Saat itu ditagih janji, Bupati iin Syam Arifin langsung mengamini. “Mengenai masalah ahmadiyah, saya secara pribadi seorang muslim, sudah jelas saya menolak. Kemarin Ahmadiyah kirim surat ke semua minta audiensi ke saya, ke pak Kapolres, ke pak wakil bupati. Jangan khawatir saya akan berpihak yang kurang benar masalah Ahmadiyah. Seratus persen saya menolak,” jelasnya.

Tahu bupati bersikap seperti itu, Jemaat Ahmadiyah segera melayangkan surat protes ke Pendopo. Tapi sebelum surat sampai ke meja kerja Bupati, Satpol PP datang ke masjid Nur Khilafat untuk kemudian menyegelnya.  Jemaah Ahmadiyah jelas tak menerima perlakuan sewenang-wenang si Bupati. Pengurus masjid lantas datang ke Jakarta untuk melapor ke Komnas HAM dan Ombudsman.

Di depan Masjid Nur Khilafat Syaeful Uyun mencopot satu demi satu spanduk segel dari pemerintah. Selepas segel dibuka, Uyun memasuki masjid untuk shalat bersama para pengurus masjid lainnya. Itu sebagai bentuk syukur karena sudah bisa kembali beribadah seperti biasanya. Kelar shalat, pengurus masjid beranjak ke Polres Ciamis meminta penjagaan, untuk kemudian kembali ke masjid untuk shalat Jumat berjamaah.

Juhana (60th) salah seorang jemaat Ahmadiyah juga turut shalat Jumat berjamaah di Nur Khilafat. Sewaktu masjid disegel, Juhana bersama jemaat lain hanya bisa shalat di teras masjid.  “Bahagia sekali bisa masuk, bisa dibuka lagi oleh bapak mubaligh. Jadi bisa leluasa untuk beribadah di masjid. Kalau tarawih di luar dingin sekali. Cukup dingin lah, tidak dingin sekali.”

Lepas shalat Jumat, pengurus masjid Nur Khilafat menyambangi pendopo tempat Bupati Iing berkantor untuk melaporkan pembukaan segel masjid. Tapi di sana hanya Kepala Satpol PP Ciamis Yusuf yang menemui mereka. Dalam pertemuan Ketua Satpol PP Ciamis, Yusuf, menjelaskan alasan penyegelan masjid Ahmadiyah. Mulai dalih Surat Keputusan Bersama 3 menteri dan Peraturan Gubernur Jawa Barat mengenai Ahmadiyah, sampai alasan keamanan para jemaah. Dia  juga menuding jemat bersikap tertutup dan meresahkan warga lainnya.

Pertemuan siang itu berlangsung alot dan tak membuahkan hasil. Mubaligh Ahmadiyah untuk Priangan Timur, Syaeful Uyun. “Tidak ada pasal dalam SKB dan Pergub yang melarang Ahmadiyah sholat. Dan tidak ada pasal dalam SKB dan Pergub yang mengharuskan pemerintah daerah menutup masjid.”

Di masjid Nur Khilafat, rombongan Jemaah Ahmadiyah beristirahat setelah gagal berunding dengan Bupati. Segel masjid sudah dibuka, namun masalah baru menghadang. Mereka cemas kelompok intoleran segera datang.

Baca lanjutannya: Segel di Pintu Masjid Kami (2)

Editor: Irvan Imamsyah


Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!