Poster 10 tahun Munir. (KBR)

Poster 10 tahun Munir. (KBR)

KBR - Para pegiat HAM tak lelah menagih janji penuntasan kasus pembunuhan Munir. Beberapa bahkan berharap pemerintah baru dapat menyelesaikan kasus pembunuhan aktivis HAM itu. Tapi, wakil presiden terpilih, Jusuf Kalla justru menilai kasus Munir tak perlu lagi diributkan. Kata dia, kasus Munir sudah selesai. Simak laporan jurnalis KBR Gun Gun Gunawan berikut ini.

Pemerintahan boleh berganti, tapi menurut Suciwati, istri Munir Said Thalib, utang untuk menuntaskan pengusutan kasus pembunuhan suaminya tetap harus dilunasi. Pada 7 September 2004 silam suaminya, Munir tewas diracun dalam penerbangan menuju Belanda. Suciwati menyatakan dirinya dan juga seluruh sahabat akan menagih penyelesaian kasus Munir ke pemerintahan yang akan datang. “Tetap tidak akan berubah, apakah ini pemerintahan baru atau lama akan tetap kami dorong menuntaskan kasusnya. Selama belum kita peroleh akan tetap kami minta.”

Suciwati menambahkan, Joko widodo selaku presiden baru harus melakukan sesuatu yang tidak dilakukan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), yakni membaca hasil dan rekomendasi Tim Pencari Fakta terkait kasus kematian suaminya itu. Namun belum lama, wakil presiden yang baru saja terpilih, Jusuf Kalla menyatakan tak ada lagi yang perlu dipersoalkan terkait pengusutan kasus pembunuhan aktivis HAM itu.

“Ini kan sedang dikaji terus menerus oleh Komnas HAM. Dam jangan lupa, tuntasnya apa artinya. Sudah sudah ada yang dihukum bagaimana caranya. Apanya lagi? Soal Muchdi kan tergantung buktinya. Tapi kan pelakunya sudah dihukum, Polycarpus,” begitu jawab Jusuf Kalla saat ditanyakan soal penyelesaian kasus Munir.

Yang disampaikan Jusuf Kalla tentunya tak beda dengan apa yang sudah disampaikan Jaksa Agung Basyrif Arif beberapa waktu lalu. Dia menyebut tugas jaksa sudah tuntas pasca putusan bebas Mahkamah Agung terhadap Muhdi Purwopranjono, bekas Deputi V Badan Intelejen Negara (BIN). “Saya kira semua sudah tahu, soal kasus Munir, Kejaksaan sudah serius. Karena berkas perkara yang disampaikan ke Kejaksaan sudah tuntas. Artinya tidak ada beban,” tandas Basyrif Arif kepada media di Jakarta.

Pernyataan Jusuf Kalla jelas bikin berang sahabat pegiat HAM Munir. Koordinator KontraS, Haris Azhar menilai pernyataan Jusuf Kalla jadi preseden buruk bagi pemerintahan baru ke depan. Menurutnya, Jusuf Kalla mencoba mengaburkan tanggungjawabnya ketika bersama presiden Susilo Bambang Yudhoyono gagal menyelesaikan kasus pembunuhan Munir Said Thalib, ayah Alif dan Diva. “Hari ini sebenarnya ada tangungjawab besar kepada Jokowi dan JK untuk mengembalikan kepercayaan publik pada penegakan hukum. Kallau mereka berdua ini hanya menganggap enteng maka saya pikir mereka berdua hanya menggali kuburannya sendiri."

Haris menambahkan, aparat penegak hukum harusnya bisa menjerat para perancang pembunuhan Munir dengan adanya bukti baru atau Novum yang ditemukan beberapa waktu silam. Salah satu bukti baru itu adalah catatan percakapan antara terdakwa Polycarpus dengan Muhdi Purwopranjono. “Itu harusnya bisa digunakan. Bukti itu didapat atas bantuan penegak hukum dari Negara lain seperti FBI. Jadi Kallau polisi membantah, bisa dikonfirmasi ke FBI,” tegas Haris Azhar saat dijumpai jurnalis KBR semalam.

Pada pertengahan 2008 Muhdi Purwoprandjono pernah ditetapkan sebagai tersangka pembunuh Munir. Namun dia akhirnya lolos dari jerat hukum. Kini, dia merapat ke kubu Joko Widodo. Suciwati berharap hal tersebut tak membuat sang presiden baru lupa untuk menyelesaikan kasus pembunuhan suaminya yang berlarut-larut hingga sepuluh tahun lamanya.

Tak lama lagi beban penuntasan pelbagai kasus HAM dan juga pembunuhan Munir akan berpindah ke pundak pemerintahan baru, Joko Widodo dan Jusuf Kalla. Tapi Suciwati minta Susilo Bambang Yudhoyono tetap berusaha menyelesaikan kasus pembunuhan Munir, di sisa sebulan masa tugasnya sebagai Presiden Republik Indonesia. “Ya iya, makanya akan kita dorong. Kamu yang bikin sendiri (Kepres) tapi tidak ditepati. Kita dorong itu aja,” tandas Suciwati.

Ingat, Munir tetap ada dan berlipat ganda!

Kembali ke cerita sebelumnya: Satu Dasawarsa, Munir Tetap Ada dan Berlipat Ganda (1)

Editor: Irvan Imamsyah



Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!