sarongge, festival, ekowisata, cianjur, portalkbr

KBR - Para petani penggarap lahan di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango turun gunung. Kegiatan penghijauan di kawasan lindung itu mengharuskan mereka meninggalkan lahan garapannya. Kini selain tetap berkebun di luar kawasan lindung, sebagian besar petani mulai serius menggeluti usaha peternakan kelinci dan domba. Jurnalis KBR, Aisyah Khairunnisa mendatangi Desa Sarongge mencari tahu capaian upaya mereka sejauh ini.


#
Jelang sore, kabut pekat menyelimuti Desa Pasir Sarongge. Saat itu Mamad berkutat di kandang kelincinya. Peternak berusia 40 tahunan itu biasa memberi makan indukan kelinci saban sore, sekaligus membersihkan kandang. Sebelum beternak kelinci, Mamad merambah hutan Sarongge di kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) untuk berkebun. Saat itu petani masih diizinkan berkebun di areal yang sebelumnya milik Perum Perhutani. Apalagi pada 1980-an lalu BUMN Kehutanan itu gencar menggagas program tumpang sari untuk warga sekitar hutan.

Tapi pada 2003 lalu, Perhutani melepas konsesinya ke Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Pelepasan lahan untuk memasukan kawasan yang semula hutan produksi, ke dalam kawasan lindung. Sejak itu pula petani dilarang berkebun di kawasan lindung. Tapi larangan tak digubris petani.

Mamad bersama sejumlah petani tetap nekat berkebun di areal hutan Sarongge. Saat itu ada 150-an petani menggarap kebun seluas 40-an hektar di kawasan lindung. “Waktu itu memang saya petani di atas karena sebetulnya menyadari kalau terus-terusan menggarap di atas untuk sepintas lalu memang menguntungkan. Tapi dipikir lagi setelah ikut pelatihan atau diskusi ternyata petani di atas itu, kita untuk sendiri tapi yang kena bahayanya itu banyak,” ujar Mamad saat dikunjungi KBR.

Di hutan lindung saat itu, Mamad menggarap kebun seluas lapangan sepakbola. Hasilnya tak seberapa. Tapi pada 2009 lalu, Mamad turun dari kawasan hutan, untuk beternak kelinci. Sementara petani lain mencoba usaha ternak domba dan lebah madu. Ini merupakan program pemberdayaan masyarakat yang di gagas Green Radio Jakarta lewat program adopsi pohon, atau penghijauan kawasan hutan.

“Kalau dari berkebun satu bulan 500-600 ribuan per bulan. Kalau beternak, kerjanya banyak santainya kok sampai 1 sampai Rp 1.5 juta. Jadi berpikir, ya sudah sajalah daripada kita di atas lagian juga tidak boleh, bukan pekerjaan yang tepat lah kita berkebun di atas. Tahun 2010 itu saya yang pertama keluar,” jelas Mamad. 

Beternak kelinci nyatanya bukan perkara mudah bagi Mamad yang terbiasa berkebun. Usaha kelincinya hampir saja gagal, akibat ketiadaan program suluh mengenai budidaya kelinci. “Jadi dulu melihara kelinci mati, melihara domba malah dijual. Jadi kalau ada penyakit atau kendala apa kita tinggal kontak aja Dinas Peternakan.”

Tapi Mamad tak menyerah. Usaha ternak kelincinya kini maju pesat. Bahkan berkat usahanya dia bisa membeli sebidang tanah 1000 meter persegi untuk digarap menjadi kebun sayur.

Sukses Ternak Kelinci
Di Sarongge, usaha ternak kelinci Mamad paling sukses. Bermula dari sembilan ekor kelinci pemberian Green Radio pada 2010 lalu, dia kini memiliki seribu lebih induk kelinci. Setiap bulan, dia bisa menjual 1500-an anak kelinci ke Jakarta dan sekitarnya. Itupun dia kewalahan meladeni permintaan konsumen.

Tapi Mamad tak menyimpan kesuksesannya sendiri. Dia juga rajin mengajak petani penggarap lain untuk menggeluti usaha peternakan kelinci. Ada 30-an petani mengikuti jejak Mamad. Tak hanya itu Mamad juga mendirikan Koperasi Sugih Makmur untuk memperkuat pemasaran anakan kelincinya. “Pertama sembilan orang, sekarang anggotanya sudah 150 lebih. Namanya Koperasi Sugih Makmur. Segala sembako dan kebutuhan rakyat ada di koperasi. Kasbon nanti bayar pakai hasil ternak kelinci.”

Mamad hanya satu dari beberapa petani yang rela turun gunung. Sebab sebagian besar petani Sarongge lain masih keberatan meninggalkan lahan garapannya. Sudirat misalnya, baru tahun lalu ia mau berhenti berkebun di  areal hutan. Itupun setelah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono datang ke taman nasional untuk ikut mengadopsi pohon. Dirat khawatir penghasilannya berkurang. “Menurut prediksi saya dan teman-teman dulu ini kan luas areal ini 38 hektar bisa menghasilkan 3-4 ton per hari. Nah kalau sudah ditutup mungkin tengkulak banyak yang bangkrut. Tapi kenyataan sayuran segitu-gitu aja,” tukas laki-laki yang biasa dipanggil Kang Dirat.     

Setelah berhenti menggarap lahan, Dirat didapuk menjadi pembantu polisi hutan, sekaligus pemandu wisata di Taman Nasional Gede Pangrango. Untuk itu Dirat digaji satu juta rupiah per bulannya Yayasan Prakarsa Hijau, lembaga pendamping warga Sarongge.

Masyarakat kini paham betul, menggarap kawasan hutan Sarongge tak lagi dibenarkan. Itu sebab, Mamad, Dirat dan petani lain mau para pemangku pihak membantu memperkuat usaha Koperasi yang mereka rintis sejak 25 Juli 2011. “Kalau nanya mau berkebun di atas pasti jawabannya mau. Tapi kita sadar bahayanya itu. Mungkin saudara kita yang kena. Cuma minta aja terus pembinaan, apalagi sekarang koperasi udah jalan.”

Koperasi Sugih Makmur yang dibentuk Mamad bersama petani lain kini fokus pada usaha simpan pinjam. Anggotanya para petani yang juga beternak domba dan kelinci. Dengan koperasi mereka bertekad menjajaki beragam jenis usaha, termasuk ekowisata di hutan dan desa.

Baca lanjutan ceritanya: Membangun Asa di Tepi Hutan Sarongge (2)

Editor: Irvan Imamsyah


Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!