Salah satu tenda perlawanan warga di tapak pabrik PT Semen Indonesia, kaki Gunung Kendeng Utara, Rem

Salah satu tenda perlawanan warga di tapak pabrik PT Semen Indonesia, kaki Gunung Kendeng Utara, Rembang. (Foto: Aisyah Khairunnisa)

KBR - Warga yang sudah sadar akan ancaman hilangnya mata air dari Gunung Watu Putih masih terus menolak kehadiran pabrik dan tambang semen. Beberapa dari mereka mulai digoyang dengan tawaran uang dan berbagai fasilitas untuk ikut mendukung kehadiran PT Semen Indonesia. Namun warga teguh menolak, bahkan menggugat Gubernur Jawa Tengah untuk mencabut izin yang pernah dikeluarkan untuk Semen Indonesia.

Pembangunan pabrik semen dan tambang kapur oleh PT Semen Indonesia tak hanya menuai kontra, tapi juga menanggok banyak dukungan warga lainnya. Mereka yang mendukung pembangunan pabrik semen mengaku tergiur dengan lowongan pekerjaan yang ditawarkan. Juga program sosial dari Semen Indonesia untuk dana simpan pinjam hingga Rp 50 juta. Mulyono menjadi salah satu warga yang memanfaatkan tawaran itu.

“Warga ring 1 dikasih bantuan binaan, simpan pinjam istilahnya. Tergantung kemampuan di bidang apa. Misalnya konveksi. Pendaftaran sudah banyak. Maksimal Rp 50 juta angsuran ada yang tiap bulan ada yang musiman. Saya buat tambah modal bengkel. Ada juga yang buat ternak sapi,” papar Mulyono.

Cerita berbeda justru datang dari warga yang menentang pembangunan pabrik semen. Meski dirayu uang warga Timbrangan dan Tegaldowo tetap menolak pendirian pabrik dan tambang. Sukinah sempat mendapat tawaran itu, meski kemudian menolaknya. Sukinah, tetap bertahan di tenda perlawanan di tapak pabrik.
   
“Kemarin itu ada tamu dari Tuban. Namanya Mbak Nunu. Waktu itu temanku mau dikasih uang, katanya Rp 10 juta, kalau gak mau Rp 20 juta. Katanya sih dari Aliansi Ronggolawe. Tapi bukan aku, cuma temen. Kan waktu itu gak aku temui mbak. Aku kan kalo ada tamu kayak gitu terus terang aku gak suka, ya aku tinggal.”

Iming-iming uang tak hanya menyasar warga, tapi juga Kepala Desa Timbrangan, Nyono. Untuk kali pertama, Ia mendapat tawaran dari warga pro pabrik semen bernilai ratusan juta rupiah. “500 (juta) itu kan dari Pak Sakir. Ya orang sini juga sih, orang Timbrangan. Cuma berdua di rumah aku. Waktu itu kan dia mau ngajuin proposal, nanti ada lebihnya kan untuk saya itu Rp 500 juta, tapi saya gak bolehin ajukan proposal udah nggak mau.”

Proposal yang dimaksud adalah proposal kegiatan warga yang bisa diajukan kepada pihak Semen Indonesia. Seperti acara pagelaran wayang dan perbaikan mushola yang bisa diklaim sebagai program sosial (C-S-R) milik Semen Indonesia.

Setelah menolak, tawaran uang justru tak berkesudahan. Nyono mendapatkan tawaran kedua dengan nilai uang yang fantastis, Rp 2 miliar. Tawaran itu disampaikan melalui Supono anggota Badan Pemusyawaratan Desa Timbrangan. Tawaran disampaikan dengan syarat, Nyono harus menandatangani perjanjian di atas materai untuk mendukung pembangunan pabrik dan tambang Semen Indonesia di Rembang.

“Yang selain itu dari Pak Supono, anggota BPD saya. BPD menyampaikan kepada saya, di rumah aku sendiri. Waktu itu kan sore-sore ke rumah saya. Terus bilang sama saya. Pak ini ada tawaran Rp 2 M. Saya kemarin dikasih tahu sama Mas Pur. Kan gitu. Saya cuma senyam-senyum. Nggak nanya yang lain-lain. Mungkin dia disuruh sama pihak Semen kali. Dugaan seperti itu, namanya orang kok dia berani berkata seperti itu”

Nama Mas Pur yang disebut Nyono, adalah Poernomo Sidi. Warga Timbrangan yang pro pembangunan semen. Dikonfirmasi soal ini, Anggota Badan Pemusyawaratan Daerah (BPD), Supono membenarkan. Pria yang akrab disapa Tungkleng ini mengaku pernah dipanggil Poernomo Sidi untuk ditawari berbagai sogokan bagi warga dan kepala desa.

“Terus saya dibilangin gini, ‘Kleng, rombongan yang tolak, yang di Gunung Bokong itu, mau diajak pulang gak?’. Mau mas, mau pulang tapi dia punya permintaan. ‘Permintaan apa?’. Permintaannya alat berat kalau sudah dicabut semuanya dia mau pulang. Terus dia bilang gini. ‘orang-orang yang tolak itu berapa modalnya? Siap dikembalikan untuk semen. Kalau habis Rp 10 juta misalnya, disuruh bilang habis Rp 30 juta’. Terus saya ditawarin ‘katanya kamu katanya habis lima sapi?’. Terus aku bilang gini, nggak saya gak pernah jual sapi saya untuk modal tolak semen. Terus saya disuruh bilang ‘bilang saja gak apa-apa. Biar dikembaliin modalnya.’. Itu yang Pak Poernomo Sidi Terus dia bilang ‘saya minta kepala desa dikasih tau ya, Kleng. Ini dia suruh ambil CV, dikasih uang sebanyak Rp 2M”

Selepas menyampaikan pesan itu, Supono melihat kepala desa atau yang kerap disebut lurah atau ingki, hanya tersenyum. Dikonfirmasi soal ini, Poernomo Sidi, warga yang pro Semen Indonesia membantahnya. Dia mengaku tak kenal Supono, Anggota Badan Permusyawaratan Desa.

“Oh saya ndak pernah ngomong seperti itu mbak. (Kalau tawaran ke Pak Lurah Nyono katanya sampai Rp 2 miliar?). Walah itu dia ngomong sendiri mbak. Seperti itu cari nama. Saya itu lho kalau sudah mau keluar dari Semen, orang Semen mau kasih saya 2 miliar……. Yo seperti itu mbak. Dia kan seperti itu untuk membesar-besarkan pengikutnya biar dipandang warganya dia itu orang benar.(Jadi Pak Poer tidak pernah menawarkan Rp 2 miliar untuk pak lurah?). Wah nggak pernah, saya ngomong sama dia jadi lurah sampe sekarang nggak pernah”

Bantahan itu dikomentari Supono. “Wah berarti itu dia itu gak mau tanggung jawab bicaranya itu. Pernah. Saya diadu bicara sama orangnya berani kok.”

Soal adanya uang sogokan, pihak PT Semen Indonesia juga membantahnya. Sekretaris PT Semen Indonesia Agung Winarto meminta pihak yang menyebut adanya suap dibalik proyek Semen untuk membuktikan tudingannya. Menurutnya, pihak yang diwakilkannya yakni PT. Semen Indonesia hanya minta warga memberi ruang untuk pembangunan pabrik semen di sana.

“Waw, harus dibuktikan itu mbak. Saya tidak tahu. Insya Allah di tempat kita ndak. Saya rasa itu butuh sesuatu bukti. Kita pingin sesuatu yang benar, yang lurus. Di Rembang kami pun tidak ingin menimbulkan bencana di sana. Kok tiba-tiba masyarakat kekeringan semua. Ya ngga loh. Kita BUMN. Kami sekarang ini hanya pingin diberi ruang. Berilah kami ruang untuk berkembang dulu kalau nantinya kami ternyata tidak baik buat masyarakat buat Rembang, gampang kok menghentikan kami.”

Pro dan kontra pembangunan pabrik semen dan penambangan kapur di Watu Putih Rembang kini memasuki babak baru. Awal Agustus lalu, warga bersama Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) menggugat keputusan Gubernur Jawa Tengah soal izin yang diterbitkan tahun 2012. Jika proses dan analisis dampak lingkungan terbukti salah, warga menuntut pembangunan dihentikan.

Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo yang menyarankan warga untuk menggugat lewat pengadilan. “Saya peduli sekali. Saya kasian sama ibu-ibu. Ibu-ibu pulang saja. Saya akan ikut menjaga. Kalau nanti putusan pengadilan mengatakan tidak layak, saya akan cabut. Keputusan Gubernur?. Iya tahun 2012 itu. Tapi kalau layak, mari kita ikuti.”

Proses persidangan akan segera bergulir, Sukinah dan para kartini penyelamat mata air Rembang kini hanya bisa  menunggu putusan pengadilan. Di tenda perjuangan di Watu Putih itu, mereka akan bertahan, mendesak alat-alat berat dikeluarkan, dan pembangunan pabrik dan juga tambang dihentikan.

“Aku bertahan di tenda sampai tuntutan itu dipenuhi. Aku juga gak tahu sampai kapan. Ya semoga saja pemerintah bisa netral mbak. Gak milih pihak sini situ. Kalau aku mau sih pemerintah harus memajukan pertanian”

Kembali ke awal: Kartini Penyelamat Mata Air Rembang

Editor: Irvan Imamsyah



Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!