Sukinah menyemangati

Sukinah menyemangati "kartini-kartini" Rembang untuk tetap menolak pabrik semen dan bertahan di tenda perjuangan. (Foto: Aisyah Khairunnisa)

KBR - Ratusan perempuan tani sudah hampir tiga bulan menghuni tenda di tengah hutan, persis dekat kawasan Watu Putih Gunung Kendeng Utara. Di sana mereka berunjuk rasa, mendesak perusahaan dan pemerintah daerah segera menghentikan rencana penambangan karst dan pembangunan pabrik semen. Mereka geming, meski diteror dan ditaji politik adu domba. Semua demi satu alasan, sumber mata air Watu Putih tak boleh sirna.

“Ibu-ibu tetap semangat nggih. Jangan surut ya semangatnya. Gunung Kendeng harus diselamatkan bu ya.”

Seruan itu membahana dari mulut Sukinah, di hadapan puluhan perempuan tani. Perempuan asal di Desa Tegaldowo, Kecamatan Gunem, Kabupaten Rembang itu tengah berunjukrasa di areal karst Watu Putih, kawasan pegunungan Kendeng Utara. Aksi unjukrasa digelar persis di tapak rencana pembangunan pabrik semen oleh PT Semen Indonesia. Di kawasan tapak itu, para petani penentang penambangan karst mendirikan tenda perjuangan.

“Sejak 16 Juni, ibu-ibu sepakat menduduki tapak pabrik. Intinya itu nolak bukan cuma nolak. Gini lho, mau ada tambang di Gunung Kendeng Utara. Nah warga itu takut kalau sumber mata air bisa habis. Lahan pertanian juga habis. Apalagi masyarakatnya kan semuanya petani. Jadi harus diperjuangkan jangan sampai hancur luluh lantah,” jelas Sukinah.

Alhasil Sukinah sudah menghuni tenda perjuangan lebih dari tiga bulan. Mereka abaikan terik matahari dan juga dinginnya angin malam. “Saya sedih. Nanti kalau ada tambang gimana anak cucu saya. Saya ini petani, kalau ada tambang gimana? Gimana dengan mata air.”

Berjuang menolak pembangunan pabrik semen, Sukinah dan perempuan petani lain punya sebutan sendiri untuk diri mereka. Kartini Rembang. Sebutan itu memang merujuk pada sosok Kartini, tokoh pejuang nasional yang terkenal dengan kumpulan suratnya; “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Itu sebab, Sukinah tak jera menyerukan agar perempuan tani yang berunjuk rasa di tenda perjuangan tetap kuat dan semangat. “Makanya sekarang ayo nerusin perjuangan Kartini. Cuma, Kartini yang dulu bisa nulis, kalau sekarang Kartini yang ini buta huruf.  Tapi semboyannya harus tetap ada. Perjuangin bumi sendiri,” jawab Sukinah saat ditanya mengenai penyebutan Kartini.

Di tenda perjuangan para perempuan tani membagi tugas. Ada yang memasak, bersih-bersih dan ada juga yang kebagian jatah mencuci perabotan. Kegiatan lainnya berkumpul, dzikir bersama, dan juga berunjuk rasa. Semua dilakukan untuk menghilangkan rasa jenuh. Sebanyak 150 warga berjaga secara bergantian di tenda perjuangan. Mereka yang tak mendapat tugas jaga, biasanya pergi ke sawah hingga sore atau mencari rumput untuk ternak sapi dan kambingnya. Malam, seusai kegiatan di rumah beres, para ibu kerap datang meramaikan tenda perjuangan.

Unjuk rasa menolak pembangunan pabrik semen memang sengaja melibatkan para ibu. Alasan warga bukan untuk menjadikan para ibu tumbal, tapi untuk menghindari aksi kekerasan terhadap warga Tegaldowo dan Timbrangan. “Sudah bolak-balik aksi di Rembang tidak ada tanggapan dari Pemkab, dari manapun kan jadi bosen. Terus jalan satu-satunya ya ibu-ibu harus aksi. Kalau bapak-bapak yang ditakutin ada jotosan, kekerasan gitu,” tukas Sukinah.

Tapi mereka salah terka. Para ibu yang terlibat dalam aksi menolak pabrik semen, justru jadi sasaran empuk polisi Rembang untuk mengintimidasi dan melakukan aksi kekerasan lain. Seperti yang terjadi pada 16 Juni lalu. Saat Semen Indonesia menggelar acara doa bersama di pabrik. Para ibu menolak dengan duduk diam di tapak pabrik, memblokir jalan masuk. 

“Waktu itu kan tanggal 16 ada ibu-ibu yang dilempar ke semak-semak. Yang dilempar dua sampai pingsan. Aku kan ditanya sama Kasad intel-nya gini, “Bu Sukinah mana”. Lah aku ya bilang “aku” gitu. “Katanya korlap?”. Ya aku gak tahu sih mbak korlap itu apa, aku bilang iya. Lah waktu ada aksi pemblokiran jalan itu aku dicariin polisinya tadi. Teman-teman kan takut aku ditangkap. Padahal aku dibawa polisi, kaki aku diinjek. Jadi ya nggak bisa kemana-mana orang kaki kiri aku diinjek. Aku ya cuma bisa nangis aja. Gak kepikiran ada temanku yang ditangkap, tim dokumentasi juga ditangkap. Malam bapak-bapak dilarang ngasih makanan,” jelas Sukinah mengisahkan kembali peristiwa yang ia alami saat itu.

Dalam aksi itu, tujuh orang tim dokumentasi warga ditangkap. Kapolda Jawa Tengah, Nur Ali dalam surat balasan kepada LSM KontraS menyatakan mereka ditangkap lantaran tak bisa menunjukkan kartu identitas. Sedangkan untuk dua ibu yang diduga dilempar dan pingsan, Kepolisian Jawa Tengah menampiknya.

Menurut polisi, mereka hanya kelelahan karena terjumur panas matahari. Juru Bicara Polda Jawa Tengah, Liliek Darmanto menegaskan tak ada intimidasi terhadap warga. "Jadi pada intinya tidak ada kekerasan dan intimidasi. Itu ya biasa, kemarin ada ibu-ibu sekitar 50 orang itu menghalangi jalan. Oleh Kapolres ditundukan, itu saja tidak ada intimidasi atau tindakan yang menakutkan. Situasi kondusif kok. Tadi Kapolres sudah saya konfirmasi, aman tida ada masalah katanya."

Namun dalam video yang direkam sejumlah warga, polisi terlihat mengangkat dan memindahkan ibu-ibu ke pinggir jalan atau dijatuhkan di kerumunan ibu-ibu lain.

Menurut Sukinah, para pihak yang pro dengan pembangunan pabrik semen juga menyerukan isu penculikan bagi warga yang menolak kehadiran PT Semen Indonesia. Tapi ancaman itu diabaikan para pengunjukrasa. “Katanya yang nolak mau diculik, tapi aku gak takut selama aku berjalan yang benar. Dulu itu, beberapa tahun yang lalu. Aku ya bilang ke teman-teman jangan takut. Itu cuma nakut-nakutin doang.”

Intimidasi dan ancaman provokasi kini jadi langganan rutin. Tahu begitu, mereka tetap gigih menolak kehadiran pabrik semen. Apa sebab mereka bertahan?

Baca lanjutannya: Kartini Penyelamat Mata Air Rembang (bagian 2)

Editor: Irvan Imamsyah

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!