relawan, hitung, cepat, rri, portalkbr

KBR - Hasil hitung cepat RRI berbuntut panjang. Sejumlah petinggi sempat dipersoalkan Ketua Komisi I DPR gara-gara  capres nomor dua unggul pada hasil hitung cepat. Tapi di balik kisruh soal hitung cepat itu, ribuan relawan RRI berkerja super keras untuk bisa menyeberang sungai, lautan dan mendaki gunung untuk bisa melaporkan hasil pemilu dari setiap TPS ke media center RRI pusat. Kontributor KBR di Ternate Erwin Djamilgo bertemu dengan mereka dan menyajikan laporannya untuk anda.

#
Sirine Kapal Motor Sabuk Nusantara 40 meraung beberapa kali di Pelabuhan Ahmad Yani Ternate Maluku Utara. Itu merupakan seruan agar calon penumpang bergegas naik ke dalam kapal. Diantara para penumpang yang bergegas ada Thuraiqiyyah Syamsuddin. Pada sabtu sore, 5 Juli itu, dia hendak Desa Tikong, di Kecamatan Taliabu – Kabupaten Sula. Thuraiqiyyah hanya  berbekal baju di dalam ransel dan sedikit makanan untuk berbuka puasa.

“KM. Sabuk Nusantara 40, yang menuju Tikjong, itu satu-satunya kapal motor. Hal yang dibawa selain pakaian, surat penugasan dan kelengkapan lain untuk proses pantauan  pilpres quick count perhitungan RRI. Dikapalkan ada makanan disediakan juga, jadi bisa makan dikapal, hari-hari berikutnya sebelum sampai ke Tikong, ada pelabuhan yang disinggahi, nah disitu kita belanja makanan,” jelas Thuraqiyyah bercerita.

Di Tikong, Penyiar RRI Ternate ini memang punya misi khusus, yakni melaporkan hasil pilpres untuk hitung cepat yang digelar lembaga penyiaran RRI di Jakarta. Tapi untuk sampai ke Desa Tikong, Thuraiqiyyah harus menginap selama 4 hari – 3 malam di atas kapal motor.  Perjalanan lewat laut memakan karena kapal harus mampir ke Bacan Halmahera Selatan, juga ke pelabuhan Laiwui, di Kecamatan Obi yang masuk di kawasan kabupaten yang sama. “Lalu dari Pelabuhan Laiwui, kapal beranjak ke Pelabuhan Sanana Kabupaten Sula selama sehari, untuk kemudian berlayar selama 9 jam menuju Kecamatan Taliabu Selatan.”

Kapal Sabuk Nusantara 40 merapat ke pelabuhan Sanana, di Taliabu Utara, Kepulauan Sula, sehari jelang pemilu presiden. Dari situ Thuraqiyyah berkendara ojek motor selama berjam-jam untuk sampai ke TPS 219 Desa Tikong. Karena pilpres di mulai esok, dia menginap di rumah warga dekat dengan TPS 219.
 
“Dari kondisi fisik, kesehatan, kemudian harus mengetahui lokasi titik pantauan untuk relawan, kemarin itu lokasinya di Desa Tikong, Kecamatan Taliabu Utara, jadi untuk sampai dilokasi perjalanan selama 4 hari di kapal, karena kondisi cuaca yaa seperti itu lah, ada hal hal yang sedikit mengganggu, seperti gelombang karena kemarin itu terjadi angin timur.”

Di Desa Tikong yang ditujunya ada tiga TPS; TPS 217, TPS 218 dan TPS 219 dengan jumlah pemilih sekitar 1.000 jiwa. Tapi dari ketiga TPS itu hanya hasil penghitungan suara di TPS 219 yang dilaporkan untuk quick count RRI.  Sebelumnya data dari 3 TPS tetap dikirim ke koordinator lapangan RRI Ternate. Tapi setelah dicek kembali, panitia hitung cepat hanya menggunakan data dari TPS 219,  dekat dengan lokasi dirinya menginap.

Pilpres 9 Juli berlangsung. Warga Desa Tikong memadati sejumlah TPS yang tersedia. Mereka antusias. Tapi sayang, hasil penghitungan suara tak bisa segera dilaporkan ke RRI pusat karena sarana telekomunikasi di Desa Tikong tak ada. Thuraqiyyah lantas bergegas ke Desa Gella, ibukota Kecamatan Taliabu.

“Pada saat dari Tikong Ke Gella itu, ada jalan yang memang tanjakannya cukup tinggi, kemiringan nya itu tidak bisa dinaiki dengan kendaraan, jadi kita harus turun, jalan kaki lagi naik, kemudian motornya naik, baru sampai diatas kita naik kendaraan lagi, selain itu ada juga 2 buah kali yang harus dilewati, namun karena kondisi pada saat itu tidak hujan, sehingga genangan air tidak terlalu tinggi yang dapat mengganggu, sampai di Gella jaringan internet pun susah, karena tidak bisa menjangkau, sehingga exit pool dan hasilnya saya kirim secara manual ke korlap di Ternate, dan korlap meneruskan ke pusat,” jelas Thuraiqiyyah. 

Akhirnya dia melaporkan hasil penghitungan suara ke media center Jakarta setelah dua jam berkendara melintasi hutan dan jalan berbukit.  Laporan dikirim lewat telepon pintar dengan aplikasi hitung cepat RRI.

Selain Thuraqiyyah, ada delapan relawan lain di Ternate yang juga pergi ke daerah pelosok di Maluku Utara. Salah satunya, Irwan Djailani. Dia membutuhkan enam jam lebih untuk bisa sampai ke TPS 2 Desa Gamlaha, Kao Utara, Kabupaten Halmahera Utara. Menumpang kapal cepat, naik mobil, juga menerobos hutan selama dua jam dengan ojek motor.

 “Di TPS 2 desa Gamlaha, Kecamatan Kao Utara, Kabupaten Halmahera Utara,  untuk kendala yang ada dilapangan adalah faktor jaringan, harus ada jaringan pendukung berupa GPRS untuk mengirim data, jadi kita harus lari jauh sekitar 15 kilometer dari TPS atau sekitar 2 jam, tidak ada penginapan didaerah itu, makanya saya harus nginap di Kecamatan Kao Selatan, disebuah penginapan sederhana yang jaraknya cukup jauh,” ujar Irwan kepada KBR di Ternate.

Hitung cepat RRI rampung dalam sehari, pada Pilpres 9 Juli lalu. Para relawan, seperti Thuraqiyyah dan Irwan Djailani mengaku puas dengan hasil kerja mereka. Mereka abaikan honor mereka yang cekak, juga berbagai rintangan selama perjalanan saat menembus daerah terpencil di Maluku Utara.

Tapi di Jakarta, sejumlah politisi DPR mempersoalkan hasil hitung cepat yang memenangkan pasangan Joko Widodo dan Jusuf Kalla. Ketua Komisi I asal PKS Mahfudz Siddiq menuding hitung cepat tak sesuai dengan tugas pokok  RRI. Niat memanggil Direktur Utama RRI Rosarita Niken Widiastuti pun diserukan sepihak, seraya mengancam akan membubarkan lembaga penyiaran publik itu.

Baca lanjutan ceritanya: Di Balik Polemik Hitung Cepat RRI (2)

Editor: Irvan Imamsyah


Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!