Timnas U-19, PSSI, Indra Syafri, Piala AFF, Skuat Garuda

Pencarian Pemain

Stadion Bima, Kota Cirebon, Jawa Barat Maret silam. Jarum jam menunjuk angka sembilan.  Di bawah siraman hangat mentari  Pelatih Kepala Timnas  U-19 Indra Syafri  tengah berlatih bersama  dua puluh empat anak muda. Mereka berasal dari berbagai daerah seperti Surabaya, Jakarta, sampai Papua.  Cirebon,  jadi target blusukan atau kunjungan ke daerah  Indra Syafri dan anggota tim pelatih. Sebelumnya mereka mengunjungi Kota  Jambi di Pulau Sumatera. Tujuannya  mencari pemain sepakbola muda berbakat.

“Kalau pemain  baru ini tidak bagus tetap yang lama yang kita pertahankan. Sampai bulan April, kita akan selalu mencari pemain ke daerah. Bulan Mei awal kita akan mulai tour wilayah barat, dari Aceh sampai ke Jawa Barat,” jelas Indra.

Pencarian bakat pemain muda dilanjutkan ke Kota Barito, Kalimantan  dan Palembang, Sumatera Selatan. Indra menargetkan 55 pemain muda berbakat sudah ditemukan pada pertengahan tahun untuk menghadapi turnamen AFF U-19  dan kualifikasi Piala Asia U-19.

Langkah pencarian pemain muda berbakat  di berbagai daerah di tanah air tak lepas dari minimnya ajang kompetisi sepak bola nasional di tingkat yunior. Pembinaan usia muda yang diabaikan oleh PSSI inilah yang memaksa Indra Syafri dan anggota timnya bekerja keras.

Menurut Indra selama ini PSSI  hanya merekrut pemain U-12, U-14, U-16 hingga U-19 yang  berbakat di tiap-tiap Sekolah Sepak Bola untuk  bergabung menjadi pemain Timnas usia muda.   Cara instant tersebut dinilai kurang optimal.  “Kesulitan yang kita alami sekarang kan kompetisi tingkat nasional usia muda kan tidak ada kecuali Suratin Cup. Nah kalau kompetisi nanti berjalan, mungkin tidak perlu lagi kita jalan atau tour yang akan kita lakukan seperti ini. Nah kita melakukan tour ini ya itu tadi karena kompetisi yang untuk wadah pemilihan ini kita tak punya,”  tambahnya.
 
Namun belum semua pemain memiliki mental sekokoh baja. Padahal hal ini sangat berperan saat pertandingan. Kemampuan teknis yang mumpuni dalam mengolah si kulit bundar  saja tak cukup, imbuh anggota tim pelatih  timnas U-19,  Guntur Utomo.  “Jadi ini fase mereka bertumbuh. Hari ini sangat menonjol, besok agak menurun, ganti yang lain menonjol.  Belum kayak tim senior yang sudah betul-betul matang. Bambang Pamungkas selalu di atas gitu. Belum. Kalau untuk usia segini belum bisa seperti itu. Karena mereka masih ya ini akhir puber mereka. Contoh gampang seperti ini, ini kita punya pemain bagus, dia selalu konsisten, begitu masuk imigrasi karena paspornya sudah limit, dibentak oleh petugas imigrasi, ini paspor sudah mau habis tinggal enam bulan. Kalau kamu nekat, kamu tanggung sendiri resikonya. Nah kayak gitu, hal-hal sepele seperti itu masih sangat berpengaruh,” ungkap Guntur sambil terkekeh.

Untuk mempermudah proses pencarian pemain muda berbakat,  Manajemen Timnas U-19 menggandeng kerja sama dengan pengurus sepak bola dan klub di daerah, jelas pelatih Indra, “Makanya kami sebagai tim pelatih harus punya kreasi, kita mengajak orang-orang daerah untuk berpartisipasi terhadap tim nasional. Selama ini daerah tidak pernah dilibatkan dalam pembentukan tim nasional. Nah sekarang paradigma poembentukan tim nasional yang lalu itu sekarang kami  ubah yaitu dengan mengikut sertakan atau men talent scouting atau mencari pemain-pemain ke seluruh daerah. Apa yang terjadi sekarang? Di samping dapat pemain yang bagus-bagus, juga yang kedua adalah partisipasi masyarakat dari daerah cukup luar biasa. Seperti yang kita lakukan sekarang ini semua fasilitas ditanggung oleh daerah.”

Pembinaan usia muda yang terabaikan ini terang Indra akibat dampak  kisruh di PSSI beberapa waktu lalu. Saat ini ada dua kubu yang bertikai antara Ketua Umum PSSI Djohar Arifin dengan Komite Penyelamat Sepak Bola Indonesia (KPSI) yang dipimpin La Nyala Mataliti.

Ontran-ontran di tubuh induk sepak bola nasional ini  diperparah dengan tak adanya sistem pencarian bakat yang terprogram. Situasi itu  yang memaksa Direktur Pembinaan Usia Muda PSSI  Timo Scheunemann akhirnya mundur dari federasi. Untungnya ditengah kendala itu,  jelas asisten pelatih Guntur Utomo mereka kerap menemukan keajaiban pemain berbakat di daerah.

“Kita pernah dapat anak Ngawi  (Jawa Timur) yang bahkan dia tidak punya klub, tidak tergabung di klub yang rutin begitu. Tapi kebetulan dia dipanggil sama klubnya kita ke sana. Mereka butuh pemain dan ternyata dia berkualitas. Jadi dari manapun. Kadang-kadang ajaib juga. Kita masih terus mencari,” pungkas Guntur.

Editor: Taufik Wijaya

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!