kedelai, aspari, tahu tempe, rupiah, bekasi

Peran Bulog


Stok kedelai dengan harga khusus tersebut akan mulai diambil dari gudang importir pada  hari ini (Senin, 16 September –red)  untuk disalurkan ke produsen tahu tempe. Namun sebagai konsekuensinya, harga tahu dan tempe diperkirakan naik sekitar 20-25 persen.

"Sekarang ini lagi panik harga karena ada asumsi bahwa  stok itu kurang. Tapikan Pak Menteri menjamin dua bulan ke depan stok cukup, karena asumsi itu dikembangkan maka harga di tingkat pengrajin itu bervariasi. Ada yang Rp 8.900, ada yang Rp 9.200 bahkan sampai Rp 9.500 . Di luar Jawa sudah ada yang Rp 11.000 seperti di Bali. Inikan pemecahan jangka pendek diberikan harga khusus dan mudah-mudahan dinikmati pengrajin sambil menunggu barang baru," jelasnya.
 
Sejalan dengan Gakoptindo, Dewan Kedelai Nasional menilai harga khusus Rp 8.490 per kilogram masih terlalu tinggi. Pasalnya, menurut Ketua Umum Dewan Kedelai Nasional Benny A Kusbini, kedelai yang dijual saat ini adalah stok yang sudah dibeli dua bulan lalu dengan harga lebih rendah. Aksi ambil untung ini diperkirakan mencapai  lebih dari Rp 1 triliun.

Namun hal ini dibantah pengusaha. Direktur Eksekutif Asosiasi Kedelai Indonesia Yusan mengatakan, harga tersebut justru masih terlalu rendah. Hal itu didasari sejumlah pertimbangan, misalnya kualitas kedelai yang berbeda dan ketersedian kedelai dari negara pengekspor. "Kualitas kedelainya lain-lain. Sumbernya berbeda. Ada melalui pembersihan lebih dahulu. Jadi ada yang mengatakan kartel itu tidak mungkin. Masing-masing sudah punya konsumen," ujarnya.

Tahun ini pemerintah mengembalikan peran Bulog sebagai salah satu importir kedelai dengan jatah 100 ribu ton. Begitu pula dengan Gabungan Koperasi Produsen Tahu Tempe Indonesia (Gakoptindo) yang mendapat jatah 20 ribu ton. Namun realisasinya tidaklah mudah.

Kembali Sekretaris Umum Gakoptindo Suyanto menjelaskan,"Kita karena peserta baru yang dalam pemerintahan disebut ikut menstabilitaskan harga, peserta baru saya yakin belum bisa menyetor barangnya seperti importir lain lakukan. Karena begitu diberikan ibaratnya izin, itukan perlu proses waktu, kapan didatangkan, berapa harganya dan sebagainya. Itu tidak menjamin dalam dua bulan datang seperti importir lain."

Meski mengundang banyak pro dan kontra, Dirjen Perdagangan Dalam Negeri, Kementerian Perdagangan Sri Agustina optimistis dengan berpatok pada  harga jual perajin,  maka masalah gejolak harga kedelai impor di pasaran bisa teratasi. "Pak Menteri Perdagangan mengatakan pasokan ada, penrajin bisa berproduksi terus dengan ada pasokan dan harga sudah kita tetapkan yang terjangkau perajin melalui harga jual perajin," paparnya.

Benarkah harapan sesuai dengan kenyataan?

Editor: Taufik Wijaya

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!