kedelai, aspari, tahu tempe, rupiah, bekasi

Dampak Kenaikan


Kamis pagi di pasar Klender, Jakarta Timur, Umar kembali berjualan tahu dan tempe. Sebelumnya, selama tiga hari dia harus menghentikan dagangannya karena tidak ada pasokan.Harga naik membuat Umar harus meladeni protes dari pembeli.

UMAR: "Lima ribu susah, pada bandel pelanggannya. Lima ribu pada nawar, tiga ribu aja nawar.
KBR68H: "Dari produsen berapa dibeli?"
UMAR: "Empat ribu, tadinya Rp 2500-Rp 3000. Beda-beda ngambil, ada yang empat ribu ada yang tiga ribu"

Kenaikan harga kedelai impor juga ikut berdampak ke pedagang warung makan. Dini, pedagang warung tegal (warteg) di kawasan Utan Kayu, Jakarta Timur mengaku, merugi dengan kenaikan harga tempe dan tahu di pasaran.

DINI: "Gak ada untungnya, pasti rugi. Tapi kalau dimahalin konsumen takutnya kok dimahalin, gimana gitu. Padahal kalau yang tahu harga pasar udah tahulah"
KBR68H: "Jadi cara mensiasatinya gimana mbak?"
DINI: "Biasanya untung dari yang murah-murah gitu, jadi bisa membalikkan untung. Jualannyakan macam-macam, gak cuma tahu tempe aja"

Melonjaknya harga kedelai impor yang menghantam industri tahu tempe di dalam negeri bukan kali pertama terjadi. Agustus tahun lalu, harga kedelai impor juga melonjak. Saat itu pemerintah mengambil langkah cepat dengan menurunkan bea masuk impor kedelai dari 5 persen menjadi 0 persen hingga 31 Desember 2012. Namun Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri,


Kementerian Perdagangan Sri Agustina mengaku, pemerintah belum berpikir untuk mengambil langkah yang sama. "Belum ada sampai saat ini pemikiran itu. Artinya dengan mengurangi 5 persen itu tidak terlalu berpengaruh. Sebelum kurs dolar naik 5 persen itukan tidak berpengaruh. Waktu harga jual di pengrajin diberlakukan Rp 7.700 para importir malah menjual dibawah itu pada para pengrajin, bea masuk masih 5 persen gak masalah. Jadi bea masuk itu tidak secara signifikan berpengaruh. Buktinya waktu kurs dolar belum naik para importir bisa menjual ke pengrajin di bawah itu," jelasnya.

Pada Selasa pekan lalu digelar pertemuan antara Kementerian Perdagangan, Gabungan Koperasi Produsen Tahu Tempe Indonesia (Gakoptindo), dan importir kedelai. Dalam pertemuan disepakati para importir akan melepas 11.500 ton kedelai dengan harga khusus Rp 8.490 per kilogram selama bulan September. Sekretaris Umum Gakoptindo Suyanto menuturkan, “ "Yang  Menteri (Perdagangan Gita Wiryawan-red)  bilang harga khusus itu di tingkat importir Rp 8.490. Artinya itukan baru di gudang importir. Setelah kita ambil, biaya transportasi, distribusi, turun naik dan sebagainya itu angkanya di tingkat pengrajin tempe tahunya jadi Rp 8.900, jadi hampir Rp 9000 juga."

Meski masih mahal, Suyanto menilai langkah ini cukup aman untuk meredam ketidakstabilan harga kedelai di pasaran saat ini.


Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!