kedelai, aspari, tahu tempe, rupiah, bekasi

KBR68H -  Mulai hari ini, Senin (16/9) Koperasi Produsen Tahu Tempe Indonesia akan menyalurkan kedelai dengan harga khusus hampir Rp 8.500 per kilogram. Langkah ini diharapkan bisa meredam protes  yang dilakukan para produsen yang pekan lalu menggelar aksi mogok  nasional.  Reporter KBR68H Rumondang Nainggolan menemui  perajin tahu dan tempe di Jakarta dan Bekasi. Merekam keresahan dan harapan mereka agar  pemerintah serius stabilkan harga kedelai.

Hambali dengan cekatan membungkus kedelai yang sudah bercampur ragi ke dalam plastik berwarna putih. Setiap plastik berisi sekitar 8 ons kedelai.  Sejak Kamis pekan lalu Hambali dan teman-temannya kembali membuat tempe. Sebelumnya, selama tiga hari mereka mogok berproduksi. Mogok dilakukan secara nasional oleh anggota Gabungan Koperasi Produsen Tahu Tempe Indonesia (Gakoptindo). Tujuannya, menuntut keseriusan pemerintah menangani lonjakan harga kedelai impor.

"Kita senasib, biar sama-sama merasakan hasil dari mogok ini nanti, harganya (kedelai-red) biar turun. Pemerintah biar mau nangani serius, selama inikan ditangani importir. Maunya koperasi biar dikembalikan ke bulog, jadi harga stabil," kata Hambali.

Kenaikan harga komoditi pokok tersebut dipicu melemahnya nilai tukar rupiah terhadap  dollar Amerika sejak bulan lalu. Faktor pemicu lainnya akibat  anomali cuaca di Amerika Serikat dan dugaan  importer nakal yang sengaja  menahan pasokan kedelai. Hambali sudah menjadi perajin tempe sejak 5 tahun lalu. Setiap harinya 40 kilogram kedelai ia olah dan produksi.

Sebelum aksi mogok, Hambali yang memiliki usaha di Lenteng Agung, Jakarta tersebut mengaku membeli kedelai dari koperasi dengan harga tinggi, mencapai Rp 9000 per kilogram. Dia sadar bukan tanpa konsekuensi aksi mogok diikutinya.

HAMBALI: "Ya nganggur gak ada pemasukan. Seharusnya ada sepuluh atau dua puluh ribu masuk ke kantong jadinya gak ada"
KBR68H: "Jadi untuk keperluan sehari-hari pake tabungan Pak?"
HAMBALI: "Iya"
KBR68H: "Pekerjanya ada berapa Pak?"
HAMBALI: "Dikerjain sendiri aja, masih sendiri"

Berbeda dengan Hambali, Aspari harus menanggung makan lima pekerjanya selama aksi mogok. Aspari sudah menjadi perajin tahu dan tempe selama 17 tahun di daerah Jaka Permai, Bekasi Barat.

ASPARI: "Ya nganggur, makan saja"
KBR68H: "Berarti gak dapat penghasilan. Bapak juga ya"
ASPARI: "Ya  enggak ada sama sekali, yang penting sama-sama saja"
KBR68H: "Kalau bapak masih menanggung makan mereka? mereka tinggal bareng bapak?"
ASPARI: "Iya, ala kadarnya, tidak uang makan sekian, kalau ada makanan ya dimakan bareng-bareng"

Aspari setiap harinya menghabiskan kedelai impor hingga 5 kwintal atau 500 kilogram. Sebagian besar diolah menjadi tahu. Untuk bahan bakunya dia berburu ke sejumlah tempat seperti Podomoro, Bekasi, dan Jatinegara. Terakhir, dia membeli kedelai seharga Rp 9.600 per kilogram dari harga normal Rp 7.300 per kilogram.

Saat ini Aspari mengaku tidak menaikkan harga jual tahu dan tempe buatannya karena sudah menaikkan harga sebelum lebaran lalu. Hal ini membuatnya khawatir jika harga kedelai terus naik.

ASPARI: "Harapan saya kalau bisa turun harga kacangnya. Dari sekarang Rp 9.500 jadi Rp 8.500 atau Rp 8.800"
KBR68H: "Kalau antara Rp 8.500-Rp 8.800 itu masih bisa?"
ASPARI: "Masih bisa. Karena kalau belanja naik lagi naik lagi sayakan sudah naikin gak bisa naik lagi"

Sementara untuk beralih ke kedelai lokal menurut Aspari, bukanlah pilihan yang tepat. "Lokal gak ada dan juga lebih mahal. Kalau di pasaran itu lebih mahal dan langka. Kalau lokal tidak memadai untuk perajin tahu dan tempe. Untuk panen setempat aja gak bisa," katanya.

Lalu apa saja yang dilakukan pemerintah untuk meredam lonjakan harga kedelai?

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!