buruh, ump, jakarta, pemprov dki, upah

Upah tak Cukup


Sambil menyantap makanan pesanannya , Tuti bercerita caranya mengatur pengeluaran saban bulan. Pasca kenaikan harga bahan-bakar minyak lalu ia mesti pandai-pandai mengatur keuangan.  Beban ekonomi rumah tangga kini ia pikul sendiri sejak bercerai dengan suami. Dari gaji Rp 2,3 juta per bulan,  sekitar Rp 800 ribu  ia kirimkan ke anaknya di Lampung untuk biaya  makan dan sekolah. 

Sisa gaji  Rp 1,5 juta habis untuk biaya kontrakan, ongkos makan dan  transportasi. Ini belum  biaya kebutuhan peibadi seperti kebersihan tubuh, pakaian sampai biaya kesehatan. Jika dihitung, gajinya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan pokok yang terus melonjak. “Sampai sekarang aku itu tidak punya tabungan. Dua minggu aku itu gajian Rp 1,150.000 kan. Rp 2.310.000 itu 2 kali gajian. Selama 2 minggu itu untuk makan, ternyata nggak cukup untuk makan. Udah diirit-irit itu juga,” paparnya KBR68H: Di mana pengeluaran yang paling boros? Aku rasa sih makan yah.Buat transport, mondar mandir, makan itu sudah sederhana, sudah beli baju, itu Rp 3 juta kurang.

Ibu Bagus Dharmawan itu menilai kenaikan Upah Minimun Provinsi atau UMP di Jakarta tahun ini sebesar Rp 2,2 juta tidak mengubah nasib buruh seperti dirinya. Ketika UMP dinaikan, justru perusahaan banyak memangkas tunjangan buruh seperti tunjangan makan dan transportasi yang besarannya hampir Rp 400 ribu. Perusahaanya tidak memberikan tunjangan kesehatan. “Ketika kita berobat, yah memang berobat. Tapi kalau sampai rawat inap, yah kita bayar sendiri. Cuma sistemnya ditalangi aja sama perusahaan. Misalkan, biaya rumah sakit Rp 2 juta. Memang ditalangi sama perusahaan, tapi setelahnya kita harus bayar gitu. Cicil, dipotong gaji. Nah kebetulan kan beberapa bulan yang lalu kan kita habis sakit, dirawat, biaya habis Rp 2 juta, hampir Rp 3 juta, jadi nambah beban. Dicicil sebulan Rp 300 ribu,” paparnya.

Lain lagi cerita, buruh Siti Komariah  tetangga Tuti. Sebagai lajang  penghasilan Rp 2,2 juta perbulan relatif cukup untuk memenuhi kebutuhan makan, transportasi, tempat tinggal, dan keperluan pribadi.  “Kalau dicukup-cukupin yah cukup. Biasa aja sih. Cuma yah jarang beli baju yah. Kalau untuk beli baju jarang.  KBR68H: Tabungan habis untuk apa biasanya? Kadang ada keperluan orangtua mendadak di kampung, kadang ada penambahannya juga gitu,” katanya.

Jika dihitung total pengeluaran Tuti yang sudah berkeluarga perbulannya mencapai Rp 2.130.000. Ini belum termasuk keperluan pribadi sehari-hari dan kesehatan. Sementara bagi buruh Siti yang masih lajang gaji yang diperoleh  cukup untuk penuhi kebutuhan sehari-hari. Bahkan ia  bisa menabung.

Atas dasar upah yang belum cukup untuk penuhi kebutuhan buruh khususnya  yang sudah berkeluarga, sejumlah organisasi buruh di Jakarta mulai menyerukan kenaikan UMP 2014 hingga Rp 3,7 juta.

Apa dasarnya?

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!