PAM Jaya, karyawan, Upah, Jakarta, Perburuhan

Kesenjangan Upah


Padahal jika merujuk pada Perjanjian Karyawan, PT PAM Jaya harus melindungi hak karyawan diperbantukan sesuai perjanjian dan peraturan perundang-undangan. Sementara untuk perusahaan swasta, wajib memberikan gaji pokok serta hak materiil karyawan diperbantukan secara keseluruhan dengan tidak mengurangi nilainya.

Kesenjangan upah ini melanggar perjanjian antara karyawan dengan perusahaan. Sejak Perjanjian Karyawan disepakati pada Desember 1997, total pekerja PAM Jaya yang diperbantukan kala itu ada 2.400 orang. Namun sekarang jumlahnya menciut menjadi 1.400-an orang.  Dalam Perjanjian Karyawan itu pula, diatur komposisi karyawan diperbantukan dengan pekerja yang direkrut swasta. Yaitu 80 berbanding 20. Bahkan lebih rinci dikatakan, jika swasta ingin menambah karyawannya maka harus berpijak pada kesepakatan awal.

Tapi, kini kondisinya berubah. Komposisi pekerja sudah tidak sesuai dengan Perjanjian Kerjasama. Kembali Ponimin menjelaskan,” Tapi faktanya sekarang posisinya hampir 40:60, 40 persen karyawan swasta 60 persen karyawan yang diperbantukan. Dalam perjanjiannya mestinya 20: 80 kenapa? Karena pada saat akhir kerjasama kan beban PAM tidak berat tapi kondisi ini bergeser. Saya hitung di Palyja, 45: 55, 45 persen karyawan mitra 55 persen karyawan PAM.”

Hal itu tak dipungkiri Direktur Utama PT PAM Jaya, Sri Widayanto. Malah kata dia, kondisi ini sudah terlalu lama dibiarkan.

KBR68H: Mengapa tidak ambil orang dari PAM Jaya kalau kurang karyawan?
Sri Kaderi: PAM Jaya juga kurang. Sebetulnya gimana dalam aturanya mereka beritahu PAM Jaya bahwa mereka akan rekrut orang kemudian nanti statusnya akan jadi karyawan PAM atau gimana itu begitu. Tapi ini kan sudah jalan lama enggak pernah ada yang komentar baru bekalangan ini saya lihat itu. Itu perlu kita benahi tapi karena jalan lama, mereka keenakan dengan itu kan.”

Pernyataan itu terbukti di PT Aetra Air Jakarta. Karyawan diperbantukan terus berkurang. Dari yang dulunya  1600-an orang sekarang tersisa 650-an karyawan. Pejabat di PT Aetra, Prayitno B. Hernowo mengklaim, berkurangnya karyawan diperbantukan itu disebabkan pensiun dini.

Toh, meskipun karyawan diperbantukan terus menyusut, PT Aetra tak pernah meminta tambahan pekerja dari PT PAM Jaya. “Tidak pernah meminta PAM jaya mengirim PAM ke Aetra. Karena? Kalau kita lihat kita menuju efisiensi pengelolaan karyawan. Bagaimana komposisi pelanggan dengan karyawan sefektif. Perbandingan belum ideal secara perekrutan tidak ada perekrutan, “ jelas Prayitno.

Selain tak ada tambahan karyawan PAM Jaya, PT Aetra juga tak pernah mengganti karyawan diperbantukan. Kembali Hernowo.

KBR68H: Ada tidak misalnya, pekerja diperbantukan kinerja buruk supaya diganti atau perubahan siklus rolling?
Prayitno: Setahu saya belum pernah ada. tapi kalau kami merasa karyawan diperbantukan bermasalah kita ngomong ke PAM Jaya. Tapi itu karena masalah indisipliner. Tapi PAM Jaya tidak ada akan mengganti karyawan itu dengan yang baru.

Kondisi serupa juga terjadi di PT PAM Lyonnaise. Saat ini jumlah karyawan diperbantukan tersisa 700-an orang saja.



Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!