AIDS, HIV, Wamena, Papua, Kesehatan

Ancam Generasi Muda


Salah satu ODHA, Mina Matuan mengaku pernah berganti pasangan. Ia belum mengetahui pasti dari mana asal virus yang menjangkiti tubuhnya. “Sejak 18 tahun. Saya tertular tak tahu kenapa. Waktu itu tidak tahu, dari suamikah, dari pacarkah. Itu waktu dulu, saya pernah kawin dengan laki-laki satu, karena orangtua tidak setuju, masalah antara keluarga perempuan dan laki-laki, akhirnya saya dengan dia pisah. Dari situ, saya tinggal sendiri, dan mulai pacar-pacar sampai akhirnya saya punya suami. Dan sampai saat itu tahu saya sakit. Tapi waktu sakit sudah cerai.”

Akibat virus HIV/Aids, mahasiswi salah satu perguruan tinggi di Wamena itu terpaksa berhenti kuliah. Tapi Mina  ingin bekerja untuk membahagiakan orangtuanya. Data Dinas Kesehatan Kabupaten Jayawijaya  mencatat tiap tahun pertumbuhan ODHA meningkat seribu orang.

Menurut Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Jayawijaya, Daulat Simanjuntak, pemerintah melibatkan LSM, tokoh adat dan tokoh agama untuk kampanye HIV. Tapi virus tersebut terus menyebar.  “Belum semua masyarakat mendapat informasi secara cepat karena memang masih ada hambatan yang kita hadapi, semua distrik belum ada puskesmas. Semua kampung belum ada puskesmas pembantu. Petugas juga masih terbatas, nah itu yang kami lihat. Tapi yang jelas kami berusaha terus menyampaikan informasi melalui radio. Secara langsung, juga lewat acara-acara adat,” katanya.

Tokoh masyarakat setempat, Pastor John Djonga mengatakan keterbatasan sosialisasi tentang HIV hingga ke pelosok kampung membuat penyebaran virus semakin tak terkendali. John kerap mengkampanyekan bahaya HIV lewat khotbah agama. Ia khawatir jika tak ada upaya pencegahan yang optimal,  penduduk asli Lembah Baliem akan punah dalam kurun waktu 20 tahun lagi.

“Yang menghancurkan generasi muda Papua adalah HIV/AIDS. Itu di mana-mana, bukan di Wamena saja. Hanya saja sekarang angka HIV di Wamena semakin tinggi. Kalau tidak serius, dari pemerintah sendiri. Maka saya pikir, mungkin 20 tahun itu terlalu lama. Kita akan mengalami kepunahan-kepunahan, generasi-generasi, klan-klan tertentu, suku-suku tertentu di tanah Papua,” papar John.

Kembali ke Puskesmas Wamena Kota.  Puluhan penduduk asli  tengah menanti pengumuman tes darah HIV.Sebagian dari mereka yang melakukan tes darah hari itu justru mendapat pendampingan dari ODHA yang mengidap virus tersebut  bertahun-tahun.  Mereka sadar generasi Lembah Baliem terancam punah jika  warga tidak mengetahui  bahaya virus HIV/Aids.

Mereka tak ingin kegiatan festival budaya internasional tahunan  terhenti  akibat HIV.  Seraya berharap anak-cucu mereka hidup sehat  membangun Tanah Papua.

Editor: Taufik Wijaya

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!