AIDS, HIV, Wamena, Papua, Kesehatan.

Penularan Virus


Tubuh Marice Kiwo, 24 tahun, tinggal tulang dibalut kulit. Sejak melahirkan anak pertama dua bulan silam, dia mengalami infeksi kulit akut di bagian perut dan punggung. Perawat Puskesmas, Maryoni mendatangi kamar tidurnya yang menyatu dengan  dapur. Melihat kondisi tubuhnya, Maryoni mengungkapkan ibu rumah tangga, itu sudah masuk fase AIDS dimana daya tahan tubuh terus menurun.

“Kalau kita lihat kondisinya, saat ini. Kondisinya sudah sangat parah bagi kami. Kami tak pernah lihat, karena dia memang jarang datang ke Puskesmas. Sudah mengarah ke stadium empat. Itu gejala dari PPE. Itu semacam infeksi pada kulit yang memang harus dirawat lanjut. Biasanya kalau sudah PPE bisa sembuh. Tapi, ini kita tak pernah lihat kondisinya di Puskesmas, jadi bagaimana urusannya?,”

Marice Kiwo akhirnya dirujuk ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan. Sementara anak Marice yang baru berusia dua bulan masih menunggu hasil tes darah HIV.

Marice merupakan satu dari seribuan penduduk asli Lembah Baliem yang terpapar HIV. Perempuan muda itu diduga  tertular virus mematikan dari sang  suami  yang sudah meninggal. Penyebaran HIV di Wamena, Papua, umumnya melalui hubungan seksual. Menurut catatan Puskesmas Wamena Kota, awalnya hanya menemukan tujuh ODHA pada 2007. Bidan Puskesmas, Erni Utari menuturkan,”Waktu itu, kami cuma ditugaskan, Agustus 2007. Dikirimkan pelatihan, bahwa kasus di Wamena itu sudah ada kasus 7 orang. Mereka melakukan pendataan dengan mendatangi masyarakat. Mereka tak diberi tahu tentang tes HIV. Cuma ambil darah saja. Jadi informasi itu, dulu dari kepala dinas. Jadi, virus HIV di Wamena sudah ada 7 orang itu, nggak tahu periksanya di mana. Makanya kami diberikan pelatihan di Hotel Sentani, Agustus 2007. Pulang dari situ, kami baru membuka pelayanan di Puskesmas Wamena,”

Erni Utari menduga virus yang disebut  warga lokal sebagai “penyakit tunggu mati” mulai menyebar di lokalisasi setempat  yang pekerjanya berasal dari luar Wamena.


Penyebarannya kian meluas, karena mereka yang terpapar HIV tak melapor ke puskesmas dan tetap menjalani hubungan seksual tanpa kondom.



Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!