AIDS, HIV, Wamena, Papua, Kesehatan

KBR68H Kasus HIV/Aids di Wamena, Papua tergolong tinggi. Otoritas kesehatan setempat mencatat setiap hari 10 orang positiv HIV. Kebanyakan yang terinfeksi berusia muda.  KBR68H berkunjung ke Puskesmas Wamena Kota yang dipadati warga. Mereka ingin mengetahui hasil tes darah.

Lebih dari 20 orang duduk berdesakan di kursi kayu panjang. Mereka menanti pengumuman hasil tes darah di ruangan pemeriksaan HIV Puskesmas Wamena Kota. Wajah mereka terlihat murung. Di ruang laboratorium, bidan Erni Utari sibuk meneliti hasil tes darah. Di hari itu sudah 7 orang yang positif terpapar HIV. “Ya, hasil hari ini. Sebenarnya ini bukan bidang saya (periksa darah). Saya seorang bidan, seorang konselor. Karena petugas Lab-nya tidak ada, ya kita serbagunalah. Yang kita lakukan di sini adalah pemeriksaan rapid tes. Kalau ada garis dua kayak begini. Kayaknya banyak nih yang positif. Sudah dua yang positif, sekarang nomor 10 lagi yang positif. Ini tergantung, dalam sehari bisa 40 yang tes darah. Kalau ini, bulan Agustus, yang positif cuma 27 saja. Kalau bulan Juli cuma 53 saja,” jelasnya .

Satu persatu mereka yang sudah diambil darahnya dipanggil. Salah satu dokter jaga, Lorina membuka amplop hasil tes darah.  Di hadapannya duduk seorang lelaki berusia 24 tahun. Ia mengaku bekerja sebagai pemotong kayu. “Ini kakak, hasilnya. Sebelumnya saya minta maaf kakak, harus sampaikan hasilnya. Tapi dari hasil pemeriksaan, kakak HIVnya positif, “ jelas Lorina.

Mendengar penjelasan itu sang pemuda tertunduk lesu.  Dia menolak  diwawancarai, lalu pergi sambil menutup kepala dengan sweater bertopi.  Menurut Lorina, sebagian besar yang  melakukan tes darah adalah penduduk asli Lembah Baliem. Mereka yang terpapar HIV berusia produktif. “Kalau kita perkecil lagi range-nya, yang paling banyak itu usia 15-30 tahun yang usia produktif. Rata-rata kendalanya mereka malu punya keluarga yang positif. Karena nanti di kampungnya, mereka berpikir, itu kan penyakit yang buruk. Iya, di luarnya itu masih berkali-kali lipat. Pokoknya, mereka itu seperti fenomena gunung es. Sekarang kecil, besok bisa lebih besar lagi. Di bawahnya, lebih banyak lagi yang harus kita tangkap. Makanya kita bekerja keras di sini,” paparnya.

Lorina  mengklaim Puskesmas Wamena Kota jadi rujukan warga yang terduga terpapar HIV di tujuh distrik sekitar Jayawijaya.  Alasan warga karena pelayanannya dinilai relatif cepat untuk mengetahui hasil tes darah. Sejak 5 tahun terakhir,  puskesmas itu sudah menangani lebih dari 1300 Orang dengan HIV Aids atau ODHA. Penduduk di Wamena berjumlah lebih dari 62 ribu jiwa.  Mereka sebagian besar berasal dari Suku Dani, Yali dan Lani  yang  terlibat dalam penyelenggaraan perayaan festival budaya internasional tahunan.

Menurut Kepala Puskesmas Wamena Kota, Deri Sihombing, mereka yang terpapar HIV di usia produktif kian melonjak. Pelayanan kesehatan setempat hanya bisa mengkampanyekan bahaya HIV dan memberikan obat anti-retroviral untuk memperpanjang usia pasien. “Mereka ingin cepat dilayani. Bahkan, bapak lihat bagaimana di loket, bertumpuk di situ dan menimbulkan ketidaknyamanan. Kami berusaha supaya masyarakat itu tak takut datang. Tapi mengenal ini klinik VCT (Voluntary Counseling Testing)   terbuka untuk siapa saja. Nah, itu yang masyarakat butuhkan. Cepat dan tidak berbelit-belit,” kata Deri.


VCT merupakan proses konseling pasien  yang terduga terpapar virus HIV secara sukarela dan bersifat  rahasia.


Mengapa penyebaran HIV di Kota Wamena begitu cepat? 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!