Pastor, John Djongga, HAM, Papua, OPM

Diancam Dibunuh

Pada 2007, saat berjibaku dengan warga di perbatasan, Kabupaten Keerom, lelaki bertumbuh tambun ini pernah mendapat ancaman dari aparat militer. Ia akan dikubur di kedalaman 700 meter!.

Sebabnya, Pastor John kerap menyuarakan hak-hak warga setempat yang terintimidasi dengan penyisiran aparat militer yang mencari anggota OPM dengan senjata lengkap.  Ia sempat protes kepada militer karena pernah  salah tembak warga sipil hingga tewas.

“Di sana juga saya berhadapan dengan cara pandang militer, polisi, yang sampai saat saya juga dituduh Pastor OPM. Tapi sudah, saya pikir, bagaimana supaya OPM dan TNI tidak terjadi serang menyerang, bunuh membunuh, tembak-menembak, maka pendekatan pastoral yang saya pakai. Walau pun TNI atau OPM-nya dari Islam, tapi ketika kita omong tentang kemanusiaan, saya pikir, tidak ada batas lagi,” tegasnya.

Setibanya di Kota Wamena. Di tepi jalan perempuan setempat— yang disebut mama-mama— penjual buah pinang berbaris  di depan meja papan dagangan mereka. Tak jauh dari sana pertokoan besar menjual buah serupa. Pastor John menghampiri  salah satu dari pedagang, Selira Wenda. “Saya Pater John, yang kali lalu suruh Lidia Seiep, Dorkas Kossay untuk cek mama-mama. Apa perasaan mama-mama selama ini? Ada dukungan dari pemerintahkah jual pinang ini? Terus kami kumpulin itu tanya nanti kita mau ketemu dengan DPR. Ngomong saja. Jangan takut. Menurut mama bagaimana?,” ucapnya.

Selira menjawab,” Sekarang mereka, ruko-ruko itu banyak juga. Tapi mereka tak tahu, kami ini orang Papua, tak beri bantuan. Kita maunya dikasih bantuan, kasih modal saja boleh…”

Kedatangan Pastor John mengundang perhatian para pejalan kaki. Di antaranya, John Wenda, “Tak pernah ada bantuan dari pemerintah. Ini usaha ibu-ibu, bawa sayur, kayu, pinang, ini untuk biaya anak di Jakarta, Jayapura, di mana-mana. Ini usaha ibu ini sampai 2-3 juta/bulan, itu untuk biaya sekolah anak lewat hasil pinang dan sayur. Jadi, orang-orang pejabat di sini itu berhasil karena hasil-hasil pinang, babi, sayur dan ubi. Jadi pemerintah sini tak pernah bantu. Jadi masyarakat kecewa.”

Tersingkirnya pedagang pinang  setempat oleh pendatang  adalah potret kegagalan pemerintah daerah mensejahterakan warganya.  Di balik keindahan dan kesuburan alam Wamena  kehidupan warganya masih terjerat kemiskinan. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) lebih dari seperempat warga di sana atau sekitar 15 ribu jiwa  tak bisa memenuhi kebutuhan hidup dasar seperti makan, rumah dan pekerjaan.

Anggaran dari pemerintah pusat lewat kebijakan Otonomi Khusus Papua  yang  mencapai Rp 12,5 triliun seperti tak ada dampaknya bagi kesejahteraan warga. Pastor John Djonga punya  pendapat soal ini.


Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!