Pastor, John Djongga, HAM, Papua, OPM

Bangkitkan Kesadaran Warga

Belasan orang duduk melingkar di ruang tamu rumah Pastor John Djonga.  Saat itu, Pastor John mengumpulkan jajaran pimpinan jemaat gereja dari pelbagai kampung .  “Kita saat ini mengalami krisis kepemimpinan. Dalam adat itu ada krisis kepemimpinan. Dalam pemerintahan ini, lebih jahat. Sekarang ini makin ramai korupsi. Hak-hak rakyat dirampas…,” ucapnya.

Jelang pemilihan bupati dan wakil bupati Wamena pada Kamis esok (19/9-red), Pastor John mengingatkan kepada jajaran pemimpin jemaat untuk tak memilih politikus busuk atau yang memiliki rekam jejak bermasalah seperti kasus korupsi.

Menurut salah satu pemimpin jemaat dari kampung Kurima, Didimus Seiep, cara penyampaian ceramah Pastor John lebih mudah dimengerti, lantaran menyentuh persoalan yang dihadapi masyarakat. “Kasus di kampung itu, seperti tadi. Kehilangan kepemimpinan seperti tadi. Dulu kepemimpinan di sini ada kepala suku. Wam, itu kesuburan. Kemudian ada kepala suku perang. Tapi di dalamnya ada urus kebun. Ini itu. Tapi sekarang itu, orang-orangnya ada. Hanya saja, dia sendiri tak sadar tugasnya,” imbuhnya.

Pesan itu merupakan bahan khotbah untuk disampaikan ke seluruh penduduk kampung melalui ibadah Mingguan.

Selama lebih dari 25 tahun hidup di Papua, Pastor John menilai tak ada perubahan yang berarti bagi kesejahteraan warga. Otonomi Khusus Papua dengan dana belasan triliun rupiah tak berdampak kepada perbaikan pelayanan publik seperti pendidikan, kesehatan dan perekonomian. Ia mencurigai dana tersebut dikorupsi, seraya berharap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyelidiki.

“Di Papua ini, sistem pemerintahan, ada banyak orang yang jadi pejabat, atau bupati, tapi mereka mengelola pemerintahan itu seperti pemerintahan adat. Dan ini banyak korupsinya. Mungkin saja, mereka korupsi bukan untuk kepentingan pribadi. Tapi untuk bagi-bagi masyarakat datang minta. Tapi menurut saya, pemerintahan seperti itu ya harus cepat ditanggapi oleh pemerintah pusat, provinsi. Bahwa ini bukan pemerintahan adat. Ini pemerintahan Republik Indonesia,” ungkap John.

Selain menyoroti persoalan korupsi di pemerintahan daerah,  pekerjaan rumah  Pastor John lainnya berupaya mengembalikan kesadaran kritis warga yang  trauma terhadap operasi militer selama beberapa dekade. Ia mulai merintis Papuan Voices, sebuah kelompok anak muda Papua yang peduli dengan persoalan kesejahteraan warga. “Cara melawan dengan panah, dengan tombak, dengan senjata, kita coba supaya masyarakat itu, bisa mengunakan pena untuk menginvestigasi, membuat laporan, tulisan. Itu yang menurut saya lebih penting. Dengan melihat ketidakadilan itu dengan cara menulis.

Kini, usia Pastor John Djonga tak lagi muda. Salah satu koleganya Pendeta Benny Giay menilai belum ada yang bisa menggantikan posisinya sebagai pemuka agama sekaligus pejuang HAM. “Dia itu pastor yang saya pikir berbaur dengan umat. Dan itu menurut saya Pastor yang ideal. Pastor yang tenggelam dalam rawa-rawa penderitaan umat. Bisa kasih tunjuk masyarakat, mari kita keluar. Nah, dia ada di situ. Saya pikir Pastor John ini masih ada energi sisa. Tapi kami, dan yang lain-lain sudah mulai turun, sudah aus, sudah capek. Tapi pertanyaan saya ke Mas. Mas tolong tanya dia itu, masih ada energikah? Kalau ada itu, bagaimana bagi-bagi ke yang lain-lain?,” katanya.

Pastor John menimpali,” Sebenarnya energi itu bukan tidak bisa hilang. Tapi makin hari, kita makin berusia lanjut. Tapi sampai saat ini saya merasa energi itu masih ada. Energi supaya masyarakat bisa hidup tenang, aman, di atas tanah mereka sendiri. Karena itu, saya bekerja. Meneguhkan mereka.”

Editor: Taufik Wijaya

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!