Pastor, John Djongga, HAM, Papua, OPM

KBR68H - Kasus kekerasan di Papua belum juga surut. Dalam beberapa bulan belakangan ini, penembakan terhadap warga sipil mau pun militer kembali terjadi. Di tengah situasi politik dan keamanan yang tak menentu, John Djonga melepas jubah pastornya. Ia ikut  berjibaku bersama warga Papua memperjuangkan Hak Asasi Manusia.

Kampung kecil Hupeba terletak sepuluh kilometer dari pusat Kota Wamena, Jayawijaya, Papua. Pastor Yohanes Djonga tinggal di sebuah rumah sederhana berbahan papan. Di tepi Sungai Baliem dan dikelilingi pegunungan. Udara pagi yang menusuk  tulang, tak menghalangi lelaki yang akrab disapa Pastor John memeriksa pekarangan yang ditanami aneka pohon. Ia juga berternak ayam dan ikan.

Pekarangan di belakang rumah lelaki yang akrab disapa Pastor John Djonga hampir setengah lapangan sepak bola. Areal itu dulunya tak terawat, kini dijadikan kolam ikan, sebagian ditanami pepohonan dari tanah Jawa, seperti pohon Naga. Kalau kelak berbuah bisa dikembangkan masyarakat setempat  yang selama ini hanya mengandalkan perkebunan ubi, singkong dan padi.

“Pohon naga. Kelihatan subur. Saya pesan ini dari Jawa untuk dicoba. Kalau jadi, bagus. Kelihatan tumbuhnya bagus. Naga ini, tumbuhnya sangat bagus. Jadi saya coba tanam sekitar 50 pohon,” kata John.

Pastor John baru setahun tinggal di sini sebelum pindah dari Kabupaten Biak. Keberadaannya sebagai pemuka agama tak hanya memberi ceramah, tapi kerja nyata untuk masyarakat sekitar, jelas tetangga yang saat itu bertamu, Damianus Wetapo. “Peternakan itu sudah mulai. Perikanan. Pater sendiri sudah memberikan itu buat percontohan, buat kolam ikan. Sebenarnya bagi masyarakat di sini, sangat beruntung akan kehadiran Pastor John di sini. Banyak kegiatan, terutama menyangkut pembinaan kepada kelompok umat, terutama pemuda. Kelompok ibu-ibu,” tambahnya.

Di usia yang menginjak 54 tahun, Pastor John sudah menghabiskan setengah hidupnya di Bumi Cendrawasih. Berpindah dari satu desa ke desa yang lain memberikan pengharapan kepada masyarakat. Sosoknya dikenal peduli  persoalan kemanusiaan. Berkat sepak-terjangnya ia mendapatkan penghargaan HAM, Yap Thiam Hien pada 2009.

Setelah selesai memeriksa tanman dan ternaknya, lelaki asal Flores Timur, Nusa Tenggara Timur  itu menyalakan sepeda motor. Bersiap ke Kota Wamena membela kasus para pedagang  buah pinang yang tersingkir. Orang Papua memiliki kebiasaan mengunyah buah pinang, mirip seperti kebutuhan minum air putih setiap hari. “Ada sekitar 30 mama janda yang jual pinang, mengeluhnya satu saja: Pater, kenapa ini kami baru jual satu kilogram pinang, tetapi kenapa pendatang ini, yang pengusaha besar, tapi mereka juga jual pinang. Ini kami sulit bergerak, karena modalnya ada, kadang tidak. Lalu kami mau apa?,” tuturnya.

Berjaket hitam dan celana pendek Pastor John meluncur   dengan sepeda motor sport kesayangannya. Di tengah perjalanan, ia  sempat cerita tentang  aktivitasnya membela warga   kampung Hupeba. Kata dia pihak TNI selalu awasi gerak-geriknya.  “Mereka sudah pantau kegiatan saya setiap hari. Mereka suka tanya dengan anak-anak yang tinggal bersama saya. Kalau buat pertemuan itu, tentang apa? Jadi seperti dulu mereka memantau saya,”ceritanya.

Pastor John pernah dicap sebagai “Pastor Organisasi Papua Merdeka ”.

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!