Kelas Inspirasi, Jaleswari, Timothy, Bekasi, pendidikan

Inspirasi Anak


Program pendidikan Kelas Inspirasi sudah berjalan sejak setahun silam. Awalnya program  ini digelar di  Jakarta dengan menggandeng sekitar 20-an sekolah.  Salah Seorang Panitia Kelas Inspirasi wilayah Bekasi Gisca Nur Anisa menuturkan, “Sama teman-teman pengajar muda yang baru pulang, yang baru pulang mengajar kita bisa bikin apa nih, terus kumpul sama pegiat Indonesia Mengajar maksudnya teman-teman yang support, kemudian keluarlah konsep mengajar sehari ini dengan menorbankan cuti. Sebenarnya orang yang sudah bekerja bisa ikut turun tangannya ngapain sih seain uang? Ya turun tangan dengan ngorbanin cuti seharinya, karena kan seorang karyawan itu salah satu hartanya adalah cuti 12 harinya dalam satu tahun.”

Indonesia Mengajar yang disebut Gisca tadi adalah lembaga nirlaba yang merekrut, melatih, dan mengirim generasi muda terbaik bangsa ke berbagai daerah di Indonesia. Mereka mengabdi sebagai pengajar muda  di SD dan masyarakat selama satu tahun. Program ini digagas Rektor Universitas Paramadina Anies Baswedan.

Tahun ini Kelas Inspirasi berlangsung di 3 kota sekaligus yaitu Bekasi, Tangerang, dan Bogor. Lebih dari 500 relawan ragam profesi yang terlibat. Seperti arsitek, pengacara, fotografer, jurnalis dan peneliti.  Kembali Gisca menjelaskan,“Relawan untuk pengajar yang masuk Cuma 206, yang kita loloskan sekitar 160-an.( Itu disebar ke 3 kota), enggak itu hanya di Bekasi aja, kalau mereka isi di website mereka bisa milih. Kalau yang di Bekasi 160, untuk fotografer yang daftar 33 yang lolos sekitar 22-an, kalau videografer yang daftar 10 yang lolos itu 5.”

Gisca menambahkan, “Mereka bisa menyumbang dalam bentuk materi ke sekolah, menurut saya penting ya karena mereka orang terdidik, orang yang wajib menularkan keterdidikan untuk orang lain. Apalagi, kita harus optimis lah dengan negara yang katanya carut marut atau korupsi. Kita tetap harus menumbuhkan harapan bahwa walaupun perannya ga besar tapi pofesional tetap bisa menyumbang dengan materi atau tenaga.”

Selain tiga kota tersebut, program serupa juga akan digelar pada  November mendatang di 16 kota Jawa Timur. Lewat program ini Gisca berharap anak-anak semakin mengenal aneka profesi yang kelak bisa mereka tekuni.   “Untuk mendatangkan profesi-profesi lainnya selain profesi orangtuanya yang mereka ketahui, ini kita datangin SD ini supaya mereka banyak perpustakaan profesinya itu di kepala mereka, mereka bisa jadi apa aja selain itu juga menginspirasi bagi orang yang mengajar juga bahwa jadi guru itu gak mudah loh, maksudnya jadi lebih mneghargai peran guru,apalagi kalau mereka sudah punya anak, mereka jadi mengerti dan kemudian salah satu tujuannya mereka supaya bisa balik ke SD mereka,” jelasnya.

Gisca mengatakan, “Pengalaman anak SD hari ini bisa keingatan terus sampai mereka besar, bisa jadi motivasi dan memori yang indah di kepala mereka nanti ketika mereka mulai serius memikirkan cita-cita mereka dan kemudian memilih profesi yang mereka mau.”

Jaleswari Pramodhawardhan, peneliti yang mengikuti program ini berharap anak-anak dapat memetik pelajaran dari proses jatuh-bangun para professional yang bekerja di pelbagai bidang.    “Saya pikir justru yang menarik sang tokoh tidak bicara tidak hanya keberhasilannya saja, tapi jatuh bangunnya bagaimana misalnya akan sangat menginspirasi kawan cilik, oh ternyata menjadi publik figure ternyata tidak harus dari orang kaya. Ternyata ada yang status sosialnya tidak seberuntung yang kaya ini, tapi karena kerja keras, karena ketekunan, kedisiplinan mereka dapat meraih itu, jadi kita sebetulnya sedang mentransfer itu,” ungkapnya.

Editor: Taufik Wijaya

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!