Kelas Inspirasi, Jaleswari, Timothy, Bekasi, pendidikan

Ragam Profesi


Dhani mengakui tak mudah mengajar di depan anak-anak.  “Menyiapkan materi di Kelas Inspirasi itu lebih rumit lebih deg-deg kan lebih membutuhkan energi yang luar biasa ketimbang saya persentasi di depan TNI. Itu kan bukan kita sekadar menyiapkan pengetahuan, tapi bagaimana pengetahuan itu dikemas untuk bisa dimengerti bisa dipahami oleh kawan-kawan cilik saya nanti, anak-anak SD itu,” ceritanya.

Ketertarikan Dhani bermula dari pengalaman rekannya yang pernah mengikuti program serupa.  “Dan ini menarik, saya membayangkan sebagian dari diri kita ini kan sebetulnya ada sisi kekanak-kanakan juga. Tetapi ketika proses menjadi dewasa itu kan sedikit demi sedikit yang memuat hal-hal yang memuat unsur-unsur soal kejujuran dan ketulusan. Saya tertarik itu bagaimana kita sebetulnya itu bukan hanya anak-anak saja yang belajar tetapi sebetulnya justru kita belajar dari anak-anak”

Ditemui di ruang kerjanya Gedung LIPI Jakarta, Dhani mengaku sempat bingung soal materi yang akan diajarkan. “Tentu saja saya tidak mungkin persentasi seperti power point, tetapi saya mencoba untuk membuat gambar-gambar yang mudah dipahami. Cara penyampaiannya pun juga bagaimana caranya mengajak kawan-kawan ini terlibat di dalamnya. Mungkin saya akan membawa kertas-kertas kemudian saya bagikan terus kemudian saya ingin mempertanyakan kepada mereka, apa sih yang dibayangkan  tentang tentara, polisi, militer,” katanya.

Kegugupan serupa sempat dialami  Timothy Marbun. “Kita kayak ditantang lagi, saya ngajarnya pakai apa ya? harus warna-warni ya, harus banyak gerak, harus banyak aksesoris yang membuat mereka tertarik. Anak kecil kan tidak peduli pelajaran ini bagusnya seperti apa, yang penting ini menarik perhatian dulu baru kita menanamkan sesuatu. (Persiapannya apa nih?), ada mic yang saya buat dari streofom ada kamera dari streofom dan beberapa gambar yang terkait dengan profesi saya.”

Dhani dan Timothy berharap lewat program Kelas Inspirasi setidaknya anak-anak SD Harapan Baru 2 dan 4 mulai mengenal profesi yang mereka tekuni.  “Seperti ada yang kerja di leasing tadi, ada yang bekerja di marketing asuransi, ada satu dua pekerjaan yang mungkin saya bisa terbayang. Tapi minimal saya tau ada pekerjaan itu, kalau berbicara soal anak-anak mereka banyak yang tidak tahu. Kebanyakan memang kembali lagi menjadi dokter, tentara, polisi dan guru itu yang paling banyak, bukan merendahkan pekerjaan itu tapi kalau semua jadi tentara yang dibela siapa,” paparnya. 


Bagian III


Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!