Biola, Komunitas TSC, Menteng, Jokowi, musik

Dari Pengamen jadi Guru

Komunitas ini membuat Prapto yang awalnya tidak tahu apa-apa tentang biola, menjadi mengerti. Selain piawai  menggesek dawai biola, ia kini punya usaha reparasi dan modifikasi.  “Kalau komunitas itu kan yang main ngumpul semua dan mereka punya alat seperti itu. Nah kalau ada kerusakan atau butuh dirombak itu kan mereka tetap butuh luthier. Kalau di taman misalnya anggotanya ada 100. Dari 100 itu taruhlah 50 persen kenal saya. 50 orang ini kan punya teman lagi di sekolah atau lingkungannya yang punya biola. Jadi jatuh-jatuhnya ya ke saya lagi,” katanya.

Selain Prapto, pengamen lainnya, Hendra juga berhasil keluar dari kelamnya kehidupan jalanan.

Berkat pelajaran musik yang didapat dari komunitas tersebut, ia kini menjadi seorang guru privat biola. “Saya biasa ngajar privat juga, terus sama servis biola. Ya alat-alat musik lah. Tapi kebanyakan alat musik gesek akustik. (Mengajar privatnya apa ada lembaganya?) Saya biasanya datang langsung ke tempat orangnya. Tidak ada lembaganya,” ungkapnya.

Semangat dan kemauan belajar dari Prapto dan Hendra diakui  Agustinus Esti Sugeng Dwiharso, pembimbing mereka di komunitas tersebut. “Ada beberapa orang disini yang tadinya datang kesini. Mas aku mau belajar. Ya silakan belajar. Ketika saya lihat salah satu biolanya lain. Lho kok biola mu lain? Saya bikin sendiri biolanya mas. Dari kayu apa? Dari kayu jati Belanda yang ada di Indonesia. Soalnya nggak ada kayu mapple untuk biola yang seperti di Eropa. Lalu alatnya yang untuk bikin? Alatnya juga bikin sendiri mas. Saya dapat per andong dapat per bajaj saya bikin untuk jadi pahatnya. Ini kan luar biasa,” kata Agustinus.
 
Bahkan ketekunan dan keseriusan Hendra menggeluti  alat musik gesek ini berbuah bantuan pendidikan musik dari Nawang, salah satu orang tua anggota komunitas.  “Ini mas Hendra sepertinya memang ada keinginan serius untuk mengembangkan lebih lanjut supaya bisa mengajar di jalur resmi. Kan harus ada pengakuan dari ijasahnya. Selama ini kan belum dapat. Papanya bilang kasihanlah ini kita bantu saja biar segera. Karena butuh bantuan tapi terkendala di biaya. Ya apa salahnya, Intinya membuat orang lebih berdaya. Jadi bisa sukses lagi,” jelasnya.

Seperti apakah komunitas yang berjasa mengubah hidup Prapto dan Hendra ini?



Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!