Biola, Komunitas TSC, Menteng, Jokowi, musik

KBR68H -  Sebagian kalangan menilai biola identik dengan alat musik kaum berduit. Namun hal itu tidak berlaku di Komunitas Biola Taman Suropati Chambers. Sejumlah kaum tak berpunya seperti anak jalanan yang ikut komunitas ini berhasil mengubah hidup mereka. Gubernur Jokowi pun ikut kepincut dengan kiprah komunitas  tersebut. Pemprov DKI  siap membangun tempat khusus untuk anggota komunitas ini berkesenian. 

Suara perkakas terdengar dari sebuah  rumah di pinggir jalan kawasan Kemanggisan, Jakarta. Beberapa kerangka biola tersusun rapi di pinggir ruangan.

Seorang pria berambut panjang sebahu sibuk mengukir bagian kepala sebuah biola yang masih bertekstur kayu. Sesekali ia mengambil kikir juga amplas untuk menghaluskan permukaan alat musik tersebut.

Pria itu adalah Prapto. Ia dikenal sebagai  ahli memperbaiki alat musik berdawai. Saat ditemui Prapto  sedang memperbaiki sebuah biola di ruang bagian depan rumah yang dia sulap jadi bengkel kerja.

Prapto kini menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mengerjakan pesanan perbaikan dan modifikasi biola. Tak jarang ia sempat kewalahan saat pesanan membludak.  “Ada yang mau servis itu harus nunggu dulu ngantri. Bahkan ada yang sudah pesan di cancel karena tidak memungkinkan. Jadi setiap hari itu pagi bangun tidur pegang kayu sampai ketemu malam lagi. Kesehariannya seperti itu terus. Paling ke luar kalau belanja. Beli asesoris atau beli cat. Selainnya udah di rumah terus,” jelasnya.

Penghasilan yang dia dapat cukup untuk  biaya kontrak rumah dan memenuhi kebutuhan hidupnya bersama keluarga. Sebuah sepeda motor hasil jerih payah terparkir di rumahnya.  Sebelum sukses seperti saat ini, Prapto hidup sebagai pengamen jalanan.

Dua belas tahun silam silam, Prapto nekat datang ke Jakarta untuk mengadu nasib. Selain mengamen, berbagai pekerjaan kasar pernah dia lakoni demi untuk menyambung hidup  “Sambil jalan itu saya sambil belajar menggali terus ya saya kerja serabutan. Kadang-kadang ngamen, kadang-kadang diajak jadi kuli bangunan, jadi kenek, ya itu saya ikut juga. Jadi ya apa saja. Tapi ya memang kebanyakan ya ngamen. Soalnya kaya kuli bangunan atau yang lainya gitu kan kalau lagi pas ada aja. Kalau tidak ada ya saya ngamen sehari-harinya,” paparnya.

Sejumlah sudut Ibu Kota juga ia sambangi untuk mencari nafkah.  “Saya ngamen di bus pernah, di kereta pernah. Terakhir saya ngamen di jembatan penyebrangan di daerah Ratu Plaza. Kalau kita lagi nunggu bus tau-tau ada operasi ya kejar-kejaran sama trantib. Ya jadi waspada terus. Walaupun kita di jembatan tapi tetap matanya ke bawah-bawah terus.  Wah ada trantib ni ada satpol PP. Dia naik dari kanan kita lari ke kiri, dia naik dari kiri kita lari ke kanan. Jalurnya kan satu arah”

Dinas Sosial DKI Jakarta mencatat, saat ini ada sekitar 7000-an lebih anak jalanan seperti pengemis dan pengamen yang tersebar di kawasan Ibu Kota. Jumlah tersebut naik sekitar 10 persen dari tahun 2012 lalu.  Prapto dulu  bagian dari mereka.

Dia bisa mengubah nasibnya setelah bergabung dengan sebuah komunitas biola sejak beberapa tahun silam.


Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!