Danau Toba, Bencana, Pembalakan, Kalpataru, Lingkungan

Diancam Dibunuh

Berbagai ancaman datang silih-berganti kenang pria berusia 60-tahunan itu. “Saya pernah dibawain parang, terus saya bilang polisi tolong, eh malah polisinya ketakutan. Lalu temanku kapolres saya bilang.  Eh kau kapolres naik kau ke atas, dia cuma bilang iya iya saja, habis itu enggak kelihatan lagi. Sudah mau ditikam saya, sudah begini pisau itu. Kan karena saya memantau penebangan kayu. Lalu saya lempar kamera saya, bilang ke polisi ini amankan kamera saya, lalu datang preman perusahaan itu yah enggak berani polisinya,”tuturnya seraya tersenyum.

Kisah lain disampaikan Marandus Sirait. Laki-laki berumur 46 tahun ini mengaku sudah habis-habisan mengeluarkan tenaga dan biaya demi menyelematkan kawasan hutan di sana. “Sering juga kita ribut dengan orang rumah gara-gara kita enggak punya uang, kalau kita ada uang kadang kita malah mementingkan untuk pohon, demi mementingkan kegiatan lingkungan. Jadi, kadang kita diomelin, anak saja enggak diurusin hutan aja terus diurusin. Disatu sisi kita maklumi, tapi ya memang benar. Makanya, rela kami miskin demi hutan ini. Anak kami sulit kami sekolahkan, tapi malah di sana-sini banyak perambahan,” katanya.

Dua belas tahun Marandus mengabdikan diri.  “Kita buat ada agro wisata taman eden. Jadi, taman eden seratus itu pemulihan ekosistem di kawasan Danau Toba terkait manusia, tanaman, dan binatang. Kita juga membuat pembibitan, kita menanam tanaman, kita menangkarkan tanaman khas Danau Toba, kita menangkarkan tanaman anggrek, kita membuat wisata alam, dan kita membuat seni budaya untuk lingkungan hidup,” akunya.

Pemerintah kemudian menghargai usaha Marandus. Ia lantas diganjar penghargaan lingkungan Wana Lestari.“Saya kan sebagai kader konservasi alam. Jadi, ya pihak Kehutanan melihat apa yang saya lakukan itu ya sebagai kader konservasi alam sudah memadai untuk diberikan penghargaan itu dari Menteri Kehutanan pada 2010 di Jakarta ini,”tambahnya.

Pejuang lingkungan Hasoloan Manik dari Kabupaten Dairi, Sumatera Utara mendirikan  organisasi Penyelamat Lingkungan Hidup Indonesia (PILIHI) untuk ikut selamatkan hutan di kawasan Danau Toba. “Jadi, itu terbentuk dari masyarakat yang tidak mempunyai pendidikan yang mapan, dan tidak mempunyai penghasilan yang ada, tapi mereka itu mau melestarikan dan menjaga kawasan hutannya. Mulai tahun 2003 hingga 2010 tahap pertama itu kita berhasil menyelamatkan kawasan hutan yang gundul, menghalau para pencuri yang ada selama ini termasuk 76 kasus pencurian dan pembalakan kawasan hutan termasuk kepala Dinas Kehutanan yang telah di dalam penjara,”ungkapnya.

Melihat kerja kerasnya, Presiden Yudhoyono menganugrahi Hasoloan Kalpataru pada tiga tahun silam. Penghargaan lingkungan yang diterima Marandus, Hasoloan dan Wilmar tak membuat mereka lupa diri. Perjuangan perbaikan lingkungan giat dilakukan. Namun upaya mereka seperti sia-sia dibanding dengan laju kerusakan hutan  yang makin meningkat.

“Selama ini kan kita lihat pengrusakan hutan dengan adanya piala sama kita, masyarakat juga sepertinya menuduh kita juga ikut menerima suap.  Masa orang ini sudah mendapat penghargaan dari Presiden masa enggak mampu. Ditudingnya kita negatif. Jadi disini kita kembalikan ini supaya masyarakat juga tahu bahwa kami sesungguhnya berjuang tapi kami juga tidak didengar. Jadi, kalau tanpa piala ini kita sudah plong. Kita pikir mereka memberikan karena mereka lebih serius. Jadi, istilahnya memberikan penghargaan supaya masyarakat semakin bergiat, tapi yang kita lihat malah mereka yang enggak begitu serius, karena kalau seribu yang menanam satu yang memotong kan masih sebanding, nah ini lebih banyak yang merusak daripada melestarikannya,”jelas Hasoloan.

Hasoloan Manik menilai penghargaan yang diraihnya seperti tak ada arti. Ia kecewa.“Setelah 2010 kami sebagai penerima Kalpataru, nampaknya disepelekan. Artinya, tidak menghiraukan lagi atas apa yang kami informasikan kepada pemerintah tidak pernah digubris, sehingga kalpataru yang pernah diberikan kepada kami seolah-olah tidak memiliki arti dan nilai.”

Wilmar Simandjorang menduga aparat pemerintah daerah ikut terlibat praktik haram pembalakan hutan.“Ada beberapa di situ yang punya saw mill, nah kemudian inilah yang akan bermain mata. Ya, ada yang dalam bentuk kelompok ada juga dalam bentuk perusahaan. Sementara, bupatinya dan kepala dinasnya tidak menjaga hutan dengan serius. Tahu artinya apa kan kalau tidak serius, ya mereka sering gini-gini kan (main dibelakang). Apa nama perusahaannya pak? PT Gorda Duma Sari (GDS) yang dikasih Bupati ijinnya,”

Menurut catatan LSM Lingkungan Walhi, 800 hektar kawasan hutan di sana telah habis terbabat. Aktivis Walhi Mukhri Priatna menuturkan,“Dari tujuh kabupaten yang melingkari ekosistem Danau Toba tersebut bisa dipastikan 70 persen tingkat kerusakannya. Nah, apalagi ditambah yang sekarang ada hutan alam Tele yang setiap hari terus dibabat sehingga dipastikan angka 70 persen itu terlampaui.”

Wilmar dan kawan-kawan merasa kerja keras mereka melestarikan hutan di sekitar Danau Toba terkesan sia-sia.  Sebagai bentuk tanggung jawab moral sekaligus sindiran akibat ketidakseriusan pemerintah melestarikan hutan, mereka mengembalikan penghargaan. 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!