[SAGA] Sabrina Bensawan: 'Berbagi Tak Perlu Menunggu Kaya'

Ketika Saab Shares dibentuk, Sabrina turun langsung mencari lansia dan anak-anak sakit yang butuh pertolongan. Ia juga mulai dengan mengajar anak-anak di bantaran rel kereta api dan kolong jembatan.

Selasa, 15 Agus 2017 12:10 WIB

Sabrina Bensawan (kanan) dan Elena Bensawan (kiri) adalah penggagas Saab Shares. Organisasi sosial yang membantu anak-anak jalanan di Jakarta. Foto: KBR

KBR, Jakarta - Rasa bangga tampak di wajah Sabrina Bensawan kala dia menceritakan perkembangan anak-anak asuhnya. Enam bulan terakhir, rumah belajar yang ia dirikan bersama adiknya, Elena, telah menjadi alternatif bagi pendidikan 60 anak dari keluarga marginal. Tidak hanya pelajaran sekolah, tetapi juga pendidikan karakter.

“Pertama kali mereka datang itu ada yang pukul-pukulan, terus tanaman diinjek-injek. Gangguin temannya. Tapi sekarang yang lebih besar sudah bisa bantuin adiknya,” ujar Sabrina ketika ditemui di rumah belajar miliknya.

Di sebuah rumah tingkat dua dengan empat kamar, Sabrina mendirikan rumah belajar. Di dalam bangunan itu, buku-buku cerita anak tampak tersusun rapi di rak. Tiga ukulele digantung di dinding, juga angklung.

Sabrina menjelaskan, rumah belajar ini berada di bawah naungan Saab Shares –sebuah organisasi sosial yang fokus pada pendidikan dan kesehatan anak serta pemberdayaan perempuan. Dia jugalah yang membidani lahirnya Saab Shares pada tahun 2014. Kala itu, usianya bahkan baru 16 tahun.

Dia tergerak membantu pendidikan anak-anak setelah melihat orangtuanya membiayai kuliah anak supir mereka. Orangtuanya jugalah yang menanamkan kebiasaan berbagi sejak kecil.

“Papa dan mama itu selalu simpan makanan dalam mobil. Kalau di jalan ketemu orang susah, dia langsung kasih,” sambungnya.

Ketika Saab Shares dibentuk, Sabrina turun langsung mencari lansia dan anak-anak sakit yang butuh pertolongan. Ia juga mulai dengan mengajar anak-anak di bantaran rel kereta api dan kolong jembatan. Semua itu dibiayai dengan hasil bisnis online yang ditekuni Sabrina.

Tapi Sabrina sadar, PR terbesarnya bukan sekadar mengajar. Membuat mereka mau berubah jauh lebih sulit. “Banyak dari mereka berpikir menjadi miskin bukan suatu masalah. Itu suatu kehidupan yang harus dijalani. Waktu di kolong jembatan, ada ibunya marah-marah, 'Ngapain anak saya belajar? Mending anak saya ngamen'.”

Berbekal pengalaman itu, dia sadar mendidik anak-anak saja tidak cukup. Dia memutuskan merangkul para ibu. Menurutnya, ibu memegang kunci perubahan sebuah keluarga.

Kini setiap Selasa, anak-anak bisa belajar Matematika, Bahasa Inggris, hingga memasak. Di hari Kamis, giliran ibu-ibu yang mendapatkan pelatihan. Mereka bisa memilih sesuai minat mereka. Saab Shares menyediakan pelatihan memasak, make-up, hingga memanik di atas batik.

Tujuan Sabrina sederhana saja, bagaimana memberikan kesempatan hidup lebih baik bagi keluarga marjinal.

Seperti Mia. Dia satu dari belasan ibu yang rutin berlatih di Saab Shares. Dulu, keluarganya bergantung pada kerja serabutannya menerima cucian. Sekarang dia mendapat penghasilan tambahan dari penjualan batik. Uang itu dia tabung untuk pendidikan anaknya.

“Suami kerja, mengelas. Kalau enggak ada ya nganggur,” ucap Mia.

Anak sulung Mia duduk di bangku SMK. Mimpi terbesarnya bisa menguliahkan anaknya hingga jadi sarjana. Sementara anak bungsunya, Adinda juga ikut kegiatan di Rumah Belajar Saab Shares. Adinda bahkan tergerak menularkan apa yang dia dapat di rumah belajar kepada teman-temannya yang lain.

“Kalau dikasih sesuatu dia bilang 'Makasih ya mama'. Terus dia bilang, 'Mama saya mau bantu orang lain, teman-teman saya'. Biarpun dia enggak ada uang, dia sisihkan duit jajannya buat bantu teman-temannya,” sambung Mia.

Sabrina percaya pendidikan karakter bisa mengubah hidup mereka. Dia ingin mereka percaya bahwa kemiskinan bukan warisan yang diturunkan. Dia punya harapan apa yang dilakukan Saab Shares ini bisa menular. Mimpinya, rumah belajar gratis bagi anak-anak tidak mampu bisa ada di seluruh Indonesia.

“Kami merasa apa yang Saab Shares bisa lakukan ini cuma titik kecil doang. Perlu agen lain yang bisa ciptakan perubahan lain,” tutup Sabrina.

Simak video kisah anak-anak muda inspiratif lainnya di kbr.id/anakmuda  

Editor: Quinawaty

Baca juga:

Sabrina Bensawan: 'Berbagi Tak Perlu Menunggu Kaya'
Putry Yuliastutik: 'Mengawinkan Konfeksi dengan Teknologi'
Iki Yosan: 'Mendongeng Demi Menghapus Trauma'
Dwi Puspita: 'Mendobrak Stereotip Dalang'
Hajad Guna: 'Melantangkan Suara dari Kampung ke Dunia'
Safprada Rizma: 'Tularkan Virus Literasi Lewat Pondok Inspirasi
Merry Andalas: 'Menjaga Rinjani dengan Gaharu'
Lukman Hakim: 'Berhenti Merokok di Bank Sehat'
Akhmad Sobirin: 'Manisnya Gula Semut dari Semedo'

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh

  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!
  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum

KPK Minta Opini Alternatif, IDI Siapkan Pemeriksaan terhadap Novanto

  • Ratusan Warga Non-Papua Keluar dari Lokasi Konflik Tembagapura
  • Jokowi Minta DPD Dukung Pembangunan Daerah
  • Satgas Temukan Kayu-kayu Hasil Pembalakan Liar Hutan Lindung di Nunukan

“Jadi orang malah jadi keluar masuk untuk merokok, berapa waktu yang terbuang,” kata Tari Menayang dari Komnas Pengendalian Tembakau