[SAGA] Putry Yuliastutik: 'Mengawinkan Konfeksi dengan Teknologi'

Putry melahirkan Kostoom Februari tahun lalu. Semua bermula ketika ia melihat kondisi tetangganya –yang kebanyakan pekerja rumah tangga (PRT). Bergaji kecil.

Selasa, 15 Agus 2017 12:15 WIB

Putry Yuliastutik penggagas start up Kostoom. Foto: KBR

KBR, Jakarta - Di sebuah kantor yang juga menjadi workshop di Komplek Perumahan Pesona Depok, seorang perempuan muda tengah sibuk mengurus bisnisnya. Saat KBR bertandang ke sana, kain-kain bergelimpangan. Ada pula, tiga mesin jahit dan dua mesin pemotong kain. Juga belasan orang sibuk mengerjakan pekerjaannya; memotong kain, menjahit, memasang kancing, dan mengemas pakaian jadi dalam plastik. Hampir tak ada sela di kantor tersebut –mulai dari teras, ruang tengah, dapur, hingga garasi.

Adalah Putry Yuliastutik, sang empunya usaha. Di usia yang muda –29 tahun, ia masih terus mengembangkan Kostoom –sebuah start up yang mengawinkan bisnis konfeksi dengan teknologi.

"Kenapa teknologi? Karena penyebarannya lebih masif. Kalau secara konvensional, paling yang tahu hanya orang-orang sekitar saja. Marketingnya juga agak lebih sulit," tutur Putry saat ditemui di kantornya di kawasan Depok.

Putry melahirkan Kostoom Februari tahun lalu. Semua bermula ketika ia melihat kondisi tetangganya –yang kebanyakan pekerja rumah tangga (PRT). Bergaji kecil. Ia lantas berpikir, bagaimana jika mereka diberdayakan menjadi penjahit, mungkin penghasilannya akan jauh lebih besar.

Tapi, niat itu urung diwujudkan. Sebab, para penjahit konvensional biasanya tak punya banyak pilihan; bila tak menjahit sendiri, mereka terpaksa bergabung dengan perusahaan konfeksi—itu pun upahnya minim.

Melihat kenyataan itu, Putri lantas ingin mengubah citra penjahit konvensional jadi lebih bergengsi. "Harapannya mau membuat profesi penjahit itu jadi bergengsi. Gajinya juga gede," sambungnya.

Dari situ, lahirlah ide Kostoom. Putry lalu merekrut penjahit rumahan. Kini, Kostoom punya 50 penjahit. Putry pun menjamin, hasil kerja mereka, berkualitas yahud. Pasalnya, sebelum menjadi mitra Kostoom, mereka diuji kemampuan menjahitnya.

Tujuh bulan berjalan, Kostoom menggaet dua investor. Kerjasama itu berskema pembagian saham. Dari modal itu, Putry membuka kantor sekaligus tempat workshop di Depok. Di tempat itu pula, Putry menerima pesanan dari pelanggan.

Di Kostoom, Putry memberi harga grosir jika pelanggan memesan dalam jumlah besar atau minimal 24 potong. Belum lagi, Kostoom mempersilakan pelanggannya memilih tiga model pakaian untuk 24 pesanan tersebut. Termasuk garansi. Semua servis itu, menurutnya, sangat menguntungkan bagi pebisnis clothing line pemula.

“Jadi ada garansi. Selama masih bisa direvisi, kami revisi. Tapi kalau modelnya sampai berantakan, garansinya ganti bahan," jelasnya.

Pelanggan Kostoom pun kian membludak, bahkan sampai Singapura. Dimana saat bulan-bulan pertama, pakaian yang dijahit hanya 500-an lembar, tapi lambat laun sampai 200 ribuan potong per bulan. Mayoritas pelanggannya adalah pebisnis baju online.

Salah satu penjahit di Kostoom, Eka Nur Widiawati. Wiwit, begitu ia biasa dipanggil, bercerita proses pendaftaran sebagai mitra, sangat mudah dan cepat.

"Awal bergabung saya disuruh jahit dulu buat contoh. Alhamdulillahnya, Mbak Putri bilang iya, akhirnya hari itu saya langsung dikasih kerjaan," ujar Wiwit.

Setelah empat bulan bergabung, Wiwit merasakan keuntungannya. Dalam sebulan setidaknya, dia mengantongi Rp5 juta. Nilai itu bisa bertambah, tergantung produktivitasnya. Dalam kerjasama ini, Kostoom akan mengambil margin dari pelanggan sebesar 30 persen, sedangkan sisanya akan dibagi pada penjahit dan pembuat pola pakaian.

Kehadiran Kostoom disambut baik oleh mereka yang ingin membuat usaha clothing line. Vina, misalnya, menyebut aturan di Kostoom lebih lunak dibanding perusahaan konfeksi lainnya. Pasalnya, di Kostoom, ia bisa lebih fleksibel menentukan model dan ukuran pakaian yang dipesan.

"Bagus, karena selain saya juga belum pernah masuk ke dunia clothing line, untuk menemukan tempat yang bisa menerima jahit dan pelayanannya juga banyak," kata Vina.

Simak video kisah anak-anak muda inspiratif lainnya di kbr.id/anakmuda  

Editor: Quinawaty

Baca juga:

Sabrina Bensawan: 'Berbagi Tak Perlu Menunggu Kaya'
Putry Yuliastutik: 'Mengawinkan Konfeksi dengan Teknologi'
Iki Yosan: 'Mendongeng Demi Menghapus Trauma'
Dwi Puspita: 'Mendobrak Stereotip Dalang'
Hajad Guna: 'Melantangkan Suara dari Kampung ke Dunia'
Safprada Rizma: 'Tularkan Virus Literasi Lewat Pondok Inspirasi
Merry Andalas: 'Menjaga Rinjani dengan Gaharu'
Lukman Hakim: 'Berhenti Merokok di Bank Sehat'
Akhmad Sobirin: 'Manisnya Gula Semut dari Semedo'  

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres

  • SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh
  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh

KKP Gagal Capai Target Ekspor Ikan

  • HRW Usulkan 4 Isu Jadi Prioritas Dialog Jakarta Papua
  • Terduga TBC di Medan Capai Seribu Orang
  • Dalai Lama Luncurkan Aplikasi

Kemiskinan, konflik senjata, norma budaya, teknologi komunikasi modern, kesenjangan pendidikan, dan lain-lain. Kondisi-kondisi ini membuat anak rentan dieksploitasi