[SAGA] Merry Andalas: 'Menjaga Rinjani dengan Gaharu'

Delapan tahun berjuang memulihkan hutan Rinjani, Merry mengaku belum puas. Lembah Sempaga serta kaki Gunung Rinjani hanyalah gambaran kecil dari potret kritisnya lahan di NTB.

Selasa, 15 Agus 2017 13:05 WIB

Lalu Merry Andalas, pegiat lingkungan di Lombok, NTB. Foto: KBR.

KBR, Lombok - Hari masih pagi saat saya diajak Lalu Merry Andalas menyusuri Lembah Sempaga, di kaki Gunung Rinjani. Tapi raut wajahnya tampak sedih kala menceritakan perubahan yang terjadi di sini. Dulu, ketika tahun 1990-an hingga awal 2000, lembah tempat kami berdiri masih dipenuhi pepohon besar nan tinggi.

Namun sekarang, sejauh mata memandang –yang terlihat hanyalah hamparan jagung dan tanah-tanah gundul. “Di sini sudah bukan katagori hutan lagi. Karena sudah jadi ladang. Data Dinas Kehutanan luas wilayah hutan se-NTB itu 1.071.661 hektar. Tapi 578 ribu kritis,” ucap Merry sembari menunjuk hamparan lahan gundul.

Lalu Merry Andalas –yang hobi berkemah dan naik gunung, mulai menyadari pembabatan pohon di hutan Rinjani –untuk dijadikan ladang, bakal mendatangkan bencana. Dan, itu terbukti saat desa-desa di kaki Gunung Rinjani terkena banjir dang longsor.

Maka demi menyelamatkan hutan Rinjani, pada 2009 dia memulai gerakan reboisasi. Merry yang tidak memiliki latar belakang ilmu pertanian, pelan-pelan mempelajari tanaman apa yang cocok untuk memulihkan lahan di sana. Mulai dari Akasia hingga Mahoni, pernah dicoba.

Merry lantas mengajak warga di sekitar kaki gunung menanam. Tapi menolak. Bahkan bibit-bibit yang tumbuh, kemudian ditebang. Alasannya menganggu tanaman pangan warga. “Tanaman yang sudah besar ternyata ditebang warga karena dianggap mengganggu lahan. Katanya cuma jadi hama di ladang.”

Meski ditolak, Merry terus mencoba. Meski tak satupun bibit yang ditanam selamat. Hingga pada 2015, dia bertemu pegiat lingkungan dari Nusa Tenggara Barat (NTB), Maharani. Orang inilah yang memperkenalkan Merry pada Gaharu. Maharani melihat kegigihan Merry menghijaukan Rinjani.

“Dia punya komitmen dan motivasti tinggi. Tidak mudah menyerah dengan kondisi di lapangan,” kata Maharani saat ditemui di kantornya.

Perkenalannya pada Gaharu, ternyata berdampak positif. Selain karena manfaatnya, Gaharu rupanya punya nilai ekonomi tinggi. Getahnya atau dikenal dengan Gubal, dihargai Rp 750 juta perkilogram.

Pohon Gaharu –yang merupakan tanaman asli Indonesia, juga berpotensi untuk ekspor. Merry bercerita, banyak calon pembeli dari Eropa, Timut Tengah, hingga Cina, mencari tanaman ini. Pasar dari Cina biasa meminta batang-batangnya untuk dibuat peti mati. Sementara pembeli dari Eropa dan Timur Tengah biasa mencari bongkahannya yang siap disuling untuk jadi minyak.

Sayang, popularitas Gaharu sempar meredup. Padahal menanam Gaharu, tergolong mudah alias tak butuh perawatan ekstra.

“Gaharu ini tanaman kayu non hutan, bisa ditebang dan kita ganti lagi. Akarnya kuat, menyatu dengan tanah. Bisa menahan erosi tanah, longsor, banjir,” terang Merry.

Dengan Gaharu, dua tahun terakhir Merry berupaya mengubah pola pikir warga sekitar. Dia mendekati para petani untuk menanam Gaharu di ladang mereka. Hanya saja, butuh kesabaran dan usaha lebih untuk mendapatkan kepercayaan dari masyarakat. Merry lalu berusaha meyakinkan bahwa apa yang dia lakukan bukan untuk kepentingan pribadi semata.

Saat ini, Merry sudah menggandeng 700 petani di Nusa Tenggara Barat (NTB). Mereka diminta menyediakan ruang di lahannya untuk menanam Gaharu. Sementara Merry, siap memasok bibitnya.

Dia pun menjamin keberadaan Gaharu tidak akan menganggu tanaman warga. Sebab, bibit-bibit Gaharu ditanam dengan jarak tiga meter. Di sela-sela itulah, warga tetap bisa menanam jagung.

Salah satu warga yang memiliki ladang di lembah Sempaga, Saiful. Sebelumnya, dia menolak ajakan Merry menanam kembali lembah itu. Tapi akhirnya, pria sepuh ini berubah pikiran. Baginya, menanam Gaharu adalah tabungan masa depan. “Harga jualnya mahal. Di samping itu kita juga tetap bisa menanam,” tutur Saiful.

Delapan tahun berjuang memulihkan hutan Rinjani, Merry mengaku belum puas. Lembah Sempaga serta kaki Gunung Rinjani hanyalah gambaran kecil dari potret kritisnya lahan di NTB. Dia berambisi bakal menghijaukan seluruh lahan di tanah kelahirannya.


Simak video kisah anak-anak muda inspiratif lainnya di kbr.id/anakmuda 

Editor: Quinawaty

Baca juga:

Sabrina Bensawan: 'Berbagi Tak Perlu Menunggu Kaya'
Putry Yuliastutik: 'Mengawinkan Konfeksi dengan Teknologi'
Iki Yosan: 'Mendongeng Demi Menghapus Trauma'
Dwi Puspita: 'Mendobrak Stereotip Dalang'
Hajad Guna: 'Melantangkan Suara dari Kampung ke Dunia'
Safprada Rizma: 'Tularkan Virus Literasi Lewat Pondok Inspirasi
Merry Andalas: 'Menjaga Rinjani dengan Gaharu'
Lukman Hakim: 'Berhenti Merokok di Bank Sehat'
Akhmad Sobirin: 'Manisnya Gula Semut dari Semedo'  

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi

  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!
  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum
  • SBY Bertemu Mega di Istana, JK: Bicara Persatuan
  • 222 Triliun Anggaran Mengendap, Jokowi Siapkan Sanksi Bagi Daerah

Demi Kesetaraan, Kemenhub Berkeras Batasi Tarif Taksi Online

  • Kasus Hakim Praperadilan Setnov Segera Masuk Sidang Panel KY
  • Kasus Pribumi, Polri Masih Kaji Laporan terhadap Anies Baswedan
  • Pernikahan Usia Anak di NTB Masih Tinggi