[SAGA] Menilik Sedekah Bumi di Rejanglebong Bengkulu

"Inti dari Ambengan sendiri yaitu memanjatkan doa-doa kepada Tuhan dan doa untuk para leluhur, serta meminta keselamatan, rezeki dan dijauhi dari mara bahaya."

Jumat, 11 Agus 2017 16:50 WIB

Tradisi Ambengan atau Sedekah Bumi di Desa Sumber Urip, Rejanglebong, Bengkulu. Foto: Muhamad Antoni/KBR.

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

KBR, Bengkulu - Desa Sumber Urip yang berada di Kecamatan Selupu Rejang, Rejanglebong, Bengkulu –terletak di kaki Bukit Kaba. Di sini, mayoritas penduduknya beretnis Jawa dan berprofesi sebagai petani. Beruntung pula, mereka diberkahi tanah yang subur.

Dan karena alasan itulah, penduduk setempat turun temurun menggelar tradisi sedekah bumi atau dalam bahasa Jawa dikenal Ambengan. Ritual ini sendiri, sudah dilakoni sejak 32 tahun silam.

Ada semacam kepercayaan pula, jika kebiasaan ini tak dilaksanakan maka akan muncul petaka. Hal itu pernah terjadi, pada tahun 2007 –dimana lahan pertanian mereka terserang hama jamur atau krespo.

Sesepuh Desa Sumber Urip, Waluyo, bercerita prosesi Ambengan dilakukan sesuai hitungan Jawa yakni Kamis Kliwon-Jumat Legi serta hitungan Kalender Islam yang jatuh pada bulan Dzulhidjah. Sehingga menurut perhitungannya, prosesi Ambengan jatuh pada 2 dan 3 Agustus 2017.

"Inti dari Ambengan sendiri yaitu memanjatkan doa-doa kepada Tuhan dan doa untuk para leluhur, serta meminta keselamatan, rezeki dan dijauhi dari mara bahaya kepada Yang Maha Esa," kata mbah Waluyo.

Sedekah bumi atau Ambengan, diawali dengan doa di dua mata air yang terletak di kaki Bukit Kaba, lalu dilanjutkan dengan shalat berjamaah, pembacaan yasin tahlil, serta ceramah agama. Esoknya, makan bersama –yang disediakan penduduk ke balai desa sebagai lokasi berkumpul.

Yang menarik, sumbangan sedekah bumi ini ditentukan berdasarkan hasil rapat desa. Dalam rapat itulah terbentuk panitia penyelenggara Ambengan. Mereka yang nantinya mempersiapkan seluruh prosesi termasuk menarik iuran dari masyarakat sesuai kesepakatan rapat, yakni Rp35 ribu per rumah.

Namun begitu, panitia takkan membatasi warga yang hendak memberikan sumbangan lebih, semisal hasil pertanian. “Kita tentukan sesuai rapat desa, karena kebutuhan untuk prosesi adat tiap tahunnya pasti berubah-berubah. Nah untuk dua tahun ini nilainya tetap sama yaitu sebesar Rp35.000 per rumah,” ujar Kepala Desa Sumber Urip, Yadi Sutanto.

Masyarakat desa pun percaya, jika ada yang tidak memberikan sumbangan maka suatu ketika akan tertimpa malapetaka terhadap keluarganya.

"Kalau soal nyumbang atau tidak nyumbang itu kesadaran individu, ya tapi kebanyakan keyakinan warga kalau tidak nyumbang rezekinya jadi sulit. Mereka berfikir ini akibat karena tidak nyumbang atau lupa nyumbang sedekah bumi," sambungnya.

Inti gelaran Ambengan adalah pertunjukan wayang yang dilaksanakan semalam suntuk pada Jumat Kliwon. Dalangnya yang dipercayai warga desa –tujuannya, kata Kepala Desa Yadi Sutanto, agar membawa ketentraman.



Bencana Krespo 2007

Bencana hama terbesar yang menimpa Desa Sumber Urip, terjadi pada 2007. Kala itu, hama krespo atau jamur, begitu ganas menyerang lahan pertanian mereka. “Aku waktu itu pernah dapat sekarung hama krespo bersama dinas pertanian. Kami membasmi krespo,” kata salah satu petani, Tugiran.

Begitu pula dengan Gito. Lahan sayuran sawi miliknya seluas setengah hektar mati diserang krespo. “Tanaman saya habis semua. Waktu itu sayuran sawi. Kalau sekarang sudah mulai berkurang ya paling sedikit dan hanya hama keong-keong kecil itu juga tidak banyak,” ujar Gito.

Kemalangan itu, membuat perangkat desa bermusyawarah. Sesepuh desa, Waluyo, lantas menyarankan warga meruwat selama tujuh tahun berturut-turut. “Selama tujuh tahun berturut-turut sejak 2007 dalam prosesi wayangan disertakan ruwatan dalam lakon perwayangan. Intinya untuk mengusir dan menangkal keburukan,” katanya.

Pasca ruwatan selama tujuh tahun, tepatnya pada 2015, lahan pertanian di Desa Sumber Urip kembali menggeliat. Hama krespo pun menghilang. Panen cabai malah kini, saban harinya bisa mencapai lima hingga enam ton dengan luas lahan 400 hektar. Tanaman lain yang jadi andalan adalah daun bawang dan tomat.

Hasil panen itu kemudian dijual, selain untuk kebutuhan sehari-hari. Dan dari pertanian ini, mereka bisa menyekolahkan anak, membangun rumah, dan membeli keperluan rumah tangga.

Kepala Desa, Yadi Sutanto, berharap warganya sejahtera dan makmur mengelola lahan pertanian. Sebab tanah ini adalah hidup-mati mereka. “Maju dalam pembangunan dan mandiri. Ke depan harapan saya kita tidak lagi tergantung dengan pemerintah daerah sekarang,” tandas Yadi.





Editor: Quinawaty

 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi

  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!
  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum
  • SBY Bertemu Mega di Istana, JK: Bicara Persatuan
  • 222 Triliun Anggaran Mengendap, Jokowi Siapkan Sanksi Bagi Daerah

Paripurna DPR untuk Tentukan Perppu Ormas

  • Departemen Keamanan Dalam Negeri AS Sikapi Penolakan Gatot
  • Presiden Belum Izinkan Gatot ke AS
  • Penghargaan FIFA, Tahunnya Real Madrid