Video seorang anak lekaki yang bergabung dengan ISIS. Foto: Situs YouTube



KBR, Jakarta - Teuku Akbar Maulana, pemuda asal Nangroe Aceh Darrusalam. Dulu, saat usianya 15 tahun, ia menyaksian video-video penganiayaan dan pembunuhan di Suriah –yang bersileweran di akun jejaring sosial Facebook.

Video kiriman dari teman-temannya itu, ia dapat kala sekolah –setara SMA di International Anatolian Mustafa Germirli Imam Khatip High School di Kayseri, Turki.

"Di sana mereka punya slogan sendiri, hadhih hi'ard alrrijal. Ini adalah tanah lelaki slogannya. Jadi secara tidak langsung mereka mau bilang, kalian bukan lelaki kalau tidak ke sini. Jadi kita merasa tertantang. Apalagi remaja butuh tantangan. Keinginan itu ditambah lagi dengan hadist isy kariman au mut syahiidan, Hidup Mulia atau Mati Syahid," ucap Akbar.

Video itulah yang kemudian menjadi alasan Akbar hendak pergi ke Suriah; berperang. Padahal, Akbar tak tahu menahu apa yang terjadi di Timur Tengah, pun dengan kelompok ISIS.

Lelaki muda berkacamata ini, dibesarkan di keluarga Islam yang taat. Saat remaja, ia bahkan mampu menghafal al-Quran dalam waktu dua pekan.

Di sekolah pula, ia termasuk siswa yang cemerlang. Beberapa tawaran beasiswa sempat menghampiri.

Tapi, Akbar lebih memilih melanjutkan sekolah ke Turki pada akhir 2013. Hanya saja, baru beberapa bulan belajar di Kayseri, Turki, ia merasa jenuh.

"Kalau misalnya galau banyak konteksnya, bukan hanya karena cinta. Misalnya karena pelajaran, kalau melihat pelajaran kok begini-begini saja. Kok tidak ada perubahan, hingga akhirnya stres. Sebab yang saya inginkan tidak saya dapatkan," ujarnya.

Akbar lalu mencari pengalihan ke media sosial Facebook. Di sana, video penganiayaan dan pembunuhan di Suriah, membanjiri akunnya. Tak hanya itu, saat seorang teman asramanya dari Indonesia bernama Yazid bergabung dengan ISIS di Suriah –dan memajang fotonya di Facebook sembari menenteng AK-47, Akbar merasa tertantang. Ia ingin mengikuti jejak sang kawan.

Hingga pada suatu hari di tahun 2014, dia bertemu Noor Huda –pengamat terorisme di sebuah kedai kebab di Kayseri, Turki. Padahal ketika itu, ia sedang menunggu seseorang yang akan mengantar ke perbatasan Suriah.

Obrolan di antara mereka, membuatnya teringat pada orangtuanya di Indonesia –terutama sang ibu yang sedari awal melarangnya hijrah ke Suriah.

"Yang paling penting itu karena saya teringat orangtua, terutama ibu. Bagaimana kalau jadi pergi ke sana lalu kemudian mati? Ya meski diterima atau tidaknya itu urusan Allah, kalau kita meninggal pasti orangtua berlinang air mata. Dari situ saya berfikir apakah ini yang benar menurut Allah atau tidak?"

Gagal ke Suriah, Akbar pulang ke tanah air dan bersama Noor Huda menggarap sebuah film dokumenter berjudul ‘Jihad Selfie’.

Pengamat terorisme, Noor Huda menyebut gerakan kelompok teroris memiliki pola baru dalam merekrut anggotanya; yaitu merekrut dari akun jejaring sosial seperti Facebook, Twitter, WhatsApp, Instagram, hingga YouTube atau Skype.

Kelompok itu pun, menyasar remaja yang buta akan gerakan radikal dan gemar berselancar di dunia maya. "Anak-anak itu pintar, berprestasi, hapal Al-Quran, menang olimpiade, tapi tergiur juga dengan ISIS. Muncul gambar-gambar pertempuran yang menggugah maskulinitas untuk kemudian bergabung," terang Noor Huda.

Dalam perkiraannya, sekira 500 orang dari Indonesia telah bergabung dengan ISIS di Suriah. Dan jika dibiarkan, tak menutup kemungkinan jumlah terus bertambah. Itu mengapa, ia menyarankan para orangtua agar mempererat hubungannya dengan anak mereka.

"Koneksi yang bisa mengalahkan itu (sosial media -red) adalah koneksi emosional. Sehingga jika ada permasalahan di sosmed, dia bisa punya second opinion ke orangtuanya. Tidak seperti pada Akbar, tiga orang yang berangkat itu mereka mencari figur bapak,” sambungnya.

Saat ini, jihad bagi Akbar –pemuda berusia 17 tahun tersebut, adalah berguna bagi sesama. Itu ia buktikan dengan meraih sederet prestasi. Di antaranya, selama di Turki ia juga menjadi juara 1. Menang berbagai kejuaraan dan menjadi pelajar asing yang sangat disegani, bukan saja prestasi akademik, ia juga juara Badminton.

Belakangan, ia pun menulis karya fiksi pertama berjudul ‘Boys Beyond the Light’. Buku ini mengisahkan pergolakan pemikiran dan perasaan Akbar kala galau tergoda bergabung ke ISIS. Rencananya, buku itu diluncurkan akhir bulan ini.

"Kita masih bisa membantu orangtua dan yang ada di sekitar kita dulu. Toh masih banyak yang ada di sekitar kita yang lebih membutuhkan. Oleh karena itu akan lebih bermanfaat untuk orang lain bukan dengan hanya mengangkat senjata. Buat remaja yang lagi galau apalagi pinter bisa keluarkan sesuatu yang baru dan ide-ide kreatif," ujarnya.





Editor: Quinawaty
 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!