Salah satu adegan di film Tiga Dara. Foto: MediAN.



KBR, Jakarta - Perempuan berusia 29 tahun bernama Nunung, meniup lilin kue ulang tahun. Seketika suara tepukan tangan disusul lagu, menyambutnya. Ia lalu tersenyum dan memandang keluarganya juga Herman –pacar sang adik, Nana. Dan ketika Herman menyorongkan sebuah tiket bioskop sebagai kado, Nunung tersenyum malu.

Sementara Neni, si bungsu menuduh kakaknya, Nana, cemburu karena ingin ikut nonton. Nunung menengahi. Ia lantas menggamit lengan dua adiknya; Nana dan Neni ke bioskop bersama.

Itulah secuplik film Tiga Dara, karya Usmar Ismail. Film komedi musikal ini diproduksi tahun 1956 dengan bintangnya; Chitra Dewi, Mieke Wijaya, dan Indriati Iskak. Sementara latar cerita diambil di Jakarta –pasca revolusi.

Kini, setelah lebih dari 60 tahun, Tiga Dara akan tayang di bioskop. Tapi, itupun setelah melewati proses restorasi yang sangat lama di Bologna.

Yoki P. Soufyan, Direktur Utama SA Films bercerita, jauh sebelum ke Bologna, pada 2011 negatif film tersebut sudah sampai di Belanda dengan tujuan restorasi dan dijadikan koleksi museum.

“Itu tahun 2011 akhir. Seiring berjalannya waktu, kami dengar proses restorasinya belum berjalan juga. Kita dapat info ternyata karena krisis ekonomi di Eropa saat itu, pada 2010-2013, Pemerintah Belanda menunda prosesnya,” ucap Yoki ketika ditemui KBR.

Ketika mendengar Belanda menunda merestorasi, ia langsung mengontak pihak museum agar mengalihkan prosesnya pada perusahaannya. Namun, butuh waktu setahun untuk proses pemulangan.

Film Tiga Dara akhirnya pulang ke Indonesia. Tapi, SA Films harus melewati proses perizinan yang rumit, untuk bisa merestorasi. Sebab, ketika sampai, kondisi negatif film sangat buruk. Ini karena museum Belanda memperlakukan negatif film layaknya artefak.

“Kita minta bantuan Sinematek, Kemendikbud, Kementerian Pariwisata, dan keluarga Usmar Ismail dalam proses mengembalikan materi kembali ke Indonesia. Setelah beberapa bulan, filmnya sampai ke Indonesia,” imbuh Yoki.

Setahun menunggu izin, tahun 2014, negatif film Tiga Dara ada di tangan mereka. Tapi, kekhawatiran pertama muncul begitu melihat kondisi celluloid yang rusak parah; tertutup jamur, kata Taufik yang ikut menangani film. Sialnya, tak hanya jamur, banyak tambalan selotip di sana-sini, pun lembarannya bergelombang.

“Musuh terbesar celluloid itu adalah vinegar syndromme. Kalau tahu vinegar, itu cuka. Film itu kalau sudah lama itu keluar bau cuka. Dia bisa jalan sendiri, pasti akan terjadi, dan akan merusak film. Biarpun kita dinginkan, kita bersihkan, dia akan tetap jalan,” ucap Taufik.

Sadar, mereka berkejaran dengan waktu. SA Films lalu mengontak dua studio restorasi fisik di London dan Bologna. Tapi pilihan jatuh pada studio L’Immagine Ritrovata di Bologna dengan pertimbangan pengalaman mengatasi jamur pada celluloid.

Namun Yoki mengajukan syarat; sineas Indonesia Lisabona Rahman harus dilibatkan. Kebetulan pula, Lisa tengah magang di sana. “Kebetulan memang Lisa lagi magang di Bologna itu. Cocok banget. Saya ngobrol sama direktur tempat di Bologna. Oke ya, kita lakukan di tempat kamu tapi syaratnya orang kita boleh ikut melakukan restorasi fisik. Katanya boleh sekali.”



Sulitnya Restorasi Tiga Dara

Proses restorasi pun dimulai. Film Tiga Dara diterbangkan ke Bologna. Dari Lisa pula, Taufik tahu, kerusakan negatif film yang parah itu menyebabkan proses restorasi sangat sulit.

“Original negatifnya harus diulang scan beberapa kali karena sangat tidak stabil. Instabilitas ini bisa jadi disebabkan perubahan fisik filmnya yang sudah menyusut, sehingga waktu di-scan, jarak antara tiap banyak titik dalam bidang yang sama itu nggak sama di depan lensanya scanner,” kata Lisa.

Setidaknya butuh waktu setahun untuk merampungkan. Dan selama itu pula, tim di Indonesia menyiapkan peralatan untuk menerima hasilnya.

“Total film saat saya terima itu 12 tera. Bayangin aja, untuk ngerjain itu kita harus mikir gimana caranya. Kita harus mempersiapkan 12 tera, abis itu dibikin, dibersihkan, jadi 12 tera lagi. Sambung-sambung berarti kita paling tidak harus punya 36 tera untuk kerja,” kenang Taufik.

Akhir 2015, fisik film Tiga Dara yang telah direstorasi, dipulangkan ke Indonesia. Di sinilah Taufik bersama tim, bekerja. Hanya saja, restorasi fisik tak cukup membantu agar nikmat ditonton. Perlu rekayasa digital untuk membuat si film kembali bersih.

“Di sana kita bersihkan. Jamur kan kadang numpuk gambar. Tapi kadang jamur ada yang sudah meresap ke emulsi, jadi rusak permanen. Itu nggak bisa secara fisik, tapi harus secara digital,” sambung Taufik.



Restorasi Digital Tiga Dara


Setelah meletiwa proses restorasi fisik di Bologna selama hampir setahun, SAF Films sebagai pihak yang dipercaya memperbaiki negatif film hingga rapi, mesti merekayasa secara digital.

Taufik –orang yang ikut menangani film, mengibaratkannya seperti merekayasa foto. Hanya saja, lembar yang harus direkayasa ribuan kali lebih banyak dan dalam waktu yang cepat. Ini karena, SA Film memberi tenggat sebelum Agustus.

“Kalau kita punya foto jadul, kita mau bersihin yang sobek-sobeknya, mirip seperti itu. Cuma ya 150 ribu kali. 150 ribu frame kita harus bagi 1 frame harus kerjakan berapa lama.  Kalau kita hitung harus selesai bulan kapan. Kalau 1 frame 1 menit aja, kalau 150 ribu frame 6 bulan non stop. Nggak berasa kan?” aku Taufik.

Enam bulan, restorasi digital itu akhirnya selesai dan film Tiga Dara siap diputar di bioskop. Kepada penonton, SA Films menjanjikan tampilan yang jernih, bahkan lebih bagus dari yang biasa ditampilkan di bioskop.

“Dengan teknologi restorasi 4K, banyak informasi fakta sejarah yang bisa diangkat. Kita bisa tahu film ini dibikin kapan saat film ini diputar,” sambungnya.

Sementara itu, Yoki P. Soufyan, Direktur Utama SA Films juga bercerita, dana yang dikeluarkan untuk membiayai proyek ini sekitar Rp3 miliar.

Dan karena mahalnya biaya restorasi, SA Films harus meyakinkan pihak bioskop agar tak ragu memutarnya. Nantinya, film Tiga Dara akan diputar bertahap. Mulai dari Jabodetabek di pekan pertama, disusul kota-kota lain di Pulau Jawa dan Sumatera. Setelahnya barulah ke Kalimantan.

“Bagaimanapun restorasi itu kan biayanya mahal sekali. Jadi kita juga harus memikirkan manfaat ekonominya juga untuk kita. Jangan sampai kita cuma restorasi aja, tapi nggak ada kembalinya secara ekonomi. Nggak ada kompensasinya yang sehat. Kita ngerti,” ucap Yoki.


Film Klasik yang Sulit Peminat

Tapi kritikus film, Leila Chudori, ragu Tiga Dara mampu menarik banyak penonton. Sebab, penonton Indonesia tak terlalu menyukai film klasik. "Saya nggak tahu. Karena jangankan Tiga Dara yang film klasik yang kemudian diremaster. Film Indonesia aja, orang Indonesia itu sangat milih yang mana yang mereka akan tonton. Saya melihatnya ini sebuah upaya yang mesti kita sambut."

Karenanya, promosi besar-besaran mesti dilakukan. Semisal dengan memperkenalkan sosok Usmar Ismail. Cara itu, menurutnya setidaknya bisa mencuri perhatian penonton.

"Tidak semua orang tahu siapa Usmar Ismail. Itu sebaiknya penyelenggara membuat sebuah acara yang ada kaitannya dengan Tiga Dara. Sutradaranya juga harus dicelebrate. Usmar Ismail itu siapa. Kalau itu diperkenalkan, itu mungkin akan menarik. Bukan hanya mahasiswa film, tapi juga penggemar film Indonesia lainnya," imbuh Leila.

Tiga Dara adalah film kedua yang direstorasi setelah Lewat Djam Malam. Dan 70 ribu film klasik kini nasibnya terbengkalai di Sinematek atau Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI). Itu mengapa, kondisinya rusak. Sebab dua tempat itu sesungguhnya tak layak untuk menyimpan.

“ANRI over load. Yang rusak tiap hari nonstop. Mereka sudah nggak bisa diganggu dengan nambah lagi. Mereka sudah cukup sibuk. Dengan vault mereka pun sudah penuh banget. Dengan ruangan yang untuk vinegar syndrommenya tuh sudah bau banget,” aku Taufik.

Sayangnya, karena cara memperlakukan film-film itu sangat buruk, ada juga yang hilang. Padahal, dulu Indonesia pernah punya film yang begitu digemari sebelum Perfini muncul.

Dan bagi Yoki, merestorasi film Tiga Dara bukan sekadar romantisme masa lalu, tapi mengingat sejarah Indonesia. Dan belahar memperlakukan karya seni sebagaimana mestinya.

“Katanya nonton film itu seperti nonton sejarah, nonton diri kita, leluhur kita. Suksesnya Tiga Dara akan memudahkan karena kita punya bukti, film klasik bisa diterima masyarakat,” kata Yoki.



Editor: Quinawaty 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!