Kurator lukisan Goresan Juang Kemerdekaan, Mikke Susanto menjelaskan kepada pengunjung pameran tentang lukisan koleksi Sukarno. Foto: Ria Apriyani/KBR



KBR, Jakarta - Lukisan-lukisan itu digantung di dinding. Disinari cahaya lampu, mereka memamerkan diri ke setiap orang yang lewat atau terhenti di depannya. Ini pengalaman pertama bagi semua lukisan itu ditatap ratusan pasang mata.

Pasalnya, selama puluhan tahun, mereka tersembunyi dalam kemegahan Istana Negara Jakarta hingga Istana Tampaksiring Bali. Bahkan ada pula yang teronggok di gudang.

Total ada 2800 lukisan milik negara yang mayoritas koleksi Sukarno. Dan mengoleksi lukisan, menjadi salah satu kegemaran Sukarno –sejak ia diasingkan ke Bengkulu oleh Belanda pada 1938 hingga 1942.

Kurator pameran, Mikke Susanto mengatakan hobi mengoleksi lukisan itu berlanjut kala menjadi presiden. “Ketika jadi presiden tahun 1950 ke 1960-an, itu masa Sukarno panen. Ada banyak karya disumbangkan, dihibahkan, atau dibeli. Tapi kadang itu juga utang," kata Mikke di Galeri Nasional Jakarta.

Koleksi Sukarno itu, kini dipamerkan di Galeri Nasional, Jakarta. Dari ribuan kompilasi tersebut, para kurator memerasnya menjadi 28 –yang bercerita tentang masa revolusi. Semisal; Laskar Rakyat Mengatur Siasat, Kawan-kawan Revolusi, dan Persiapan Gerilya. Dan total, ada 22 pelukis yang karyanya terpajang di dinding bercat putih itu. Satu di antara pelukis itu adalah Sukarno sendiri.

Kurator Mikke bercerita, untuk mendapatkan lukisan, Sukarno pernah sampai berutang pada Affandi dan Sudjojono lantaran keuangan negara yang belum stabil di awal-awal pemerintahan.

Sebab Sukarno menganggap Istana Negara tanpa barang seni sama dengan kosong! Maka, Sukarno mendekati para pelukis untuk memasukkan karya mereka ke Istana. Meski, sebagian dibayar dengan kredit.

“Suatu kali Affandi ke Gedung Agung, minta duit pelunasan. Sukarno bingung duit belum keluar, gaji belum ada. Affandi diberi pulpen presiden yang ada tulisannya Presiden Sukarno. Affandi nggak mau, takut dikira mencuri. Affandi minta uang kalau ada, atau apapun yang dimiliki Sukarno. Sukarno lalu memberikan baju bekas dia dan Fatmawati, sekarung beras, serta dokter kepresidenan. Saat itu Affandi minta uang untuk periksakan isterinya yang sedang sakit,” sambungnya.

Sukarno memang dekat dengan banyak seniman. Sebuah foto yang diambil pada tahun 1950-an, memotret momen ketika orang-orang menunggu kedatangan Sukarno. Dia diminta membuka Pameran Tunggal Sudarso di Jogja.

Dalam potret itu, sebuah spanduk dibentangkan. Tulisannya; “Selamat Datang Seniman Pemimpin Besar Revolusi". "Tapi saya baru bisa melacak 30 yang dekat."

Tahun-tahun setelahnya, Sukarno kian sibuk dengan urusan pemerintahan dan tak punya banyak waktu mengunjungi bengkel seniman. Di masa itulah, pelukis istana Dullah sangat berperan.

“Dullah perannya besar dalam menentukan lukisan mana yang harus dilihat Sukarno. Kalau dulu pada 1945-1949 kan seniman terbuka datang bawa kanvas tawarin lukisannya, atau dia pesan. Setelah KMB, mulai terlembaga semuanya. Ada Cakrabirawa juga sehingga orang nggak bisa keluar masuk sembarangan. Peran Dullah semakin penting untuk menentukan tawaran koleksi seperti apa,” imbuhnya.

Selain membeli dari kawan-kawan seniman, Sukarno juga memanfaatkan kunjungannya ke luar negeri untuk berburu lukisan dan karya seni lainnya.

Hal itu tercatat dalam buku Bung Karno; Penyambung Lidah Rakyat. Yang mana Sukarno berkata; Aku mengumpulkan benda-benda perunggu karya seni dari Budapest, seni pualam dari Italia, lukisan-lukisan dari segala penjuru. Untuk Istana Negara di Jakarta, aku sendiri berbelanja membeli kandil kristal dan kursi beludru cukilan emas dari Eropa. Aku pun memungut permadani dari Iraq.

Di antara semua koleksi, lukisan “Gadis Melayu dengan Kembang” karya Diego Rivera yang paling sulit diperoleh. “Lukisan itu didapat Presiden Sukarno ketika berkunjung ke Meksiko. Modelnya isteri diplomat namanya Ainsyah Effendy. Itu diminta oleh suaminya Boes Effendy untuk mau dilukis oleh Diego Rivera. Beliau antara mau dan tidak. Pada saat itu Bu Ainsyah sedang mengandung anak kedua.”

Di lukisan itu, terlihat seorang perempuan dengan kebaya merah jambu dan bunga dalam dekapan. Teknik Diego Rivera, menurut Mikke, menggambarkan detail kebaya dan selendang transparan yang tersampir di bahu si perempuan.

Dan untuk mendapatkannya, tidaklah mudah. Sebab, Presiden Mesiko Lopez melarang lukisan itu keluar dari negeranya. Ada undang-undang khusus yang melindungi lantaran lukisan tersebut dianggap sebagai karya besar Diego Rivera.

Tapi demi Sukarno, sang presiden mengeluarkan dekrit. Mikke meyakini, ada rayuan maut Sukarno di balik dekrit itu. “Dikeluarkan dengan Dekrit Presiden, harus ada keputusan bersama. Sesungguhnya enggak boleh keluar dari Meksiko karena itu dianggap harta karun Meksiko.”

Mikke juga bercerita, tak semua lukisan bisa dinikmati banyak orang. Beberapa hanya untuk kesenangan pribadi Sukarno. Ia menyebutnya, sisi feminitas sang proklamator. “Sukarno itu amat sensitif dan peka. Ada 200-an lukisan telanjang di istana, disimpan rapat-rapat di ruangan tersendiri.”

Dan dari kecintaan pada seni pula, para pengusaha atau politisi negara lain merayu Sukarno. Saat itu, di tahun 1960-an, melalui lobi yang dibantu istri Sukarno, Ratna Sari Dewi, beberapa pengusaha Jepang mendekati Sukarno untuk mendapat proyek pembangunan.

“Pengusaha Jepang mendekati Ratna Sari Dewi, isteri Sukarno tahun 1960-an. Didekati pengusaha agar dapat proyek, caranya menyumbang buku koleksi Presiden Sukarno. Ini dimediasi oleh Ratna.”



    (Seorang pengunjung tengah memandang lukisan "Memanah" karya Henk Ngantung di Galeri Nasional Jakarta)


Sukarno dan Rini


 

Perempuan itu duduk menyamping. Kedua tangannya ditumpangkan di atas paha sembari memegang buku. Kakinya terbalut kain batik berwarna coklat. Mengenakan kebaya hijau, di telinga kirinya tersemat sekuntum bunga. Dialah Rini, lukisan yang lahir dari tangan Sukarno pada 1958.

Entah siapa sosok Rini. Sampai hari ini, para kritikus seni masih memperbincangkannya. Tapi kurator, Mikke Susanto tak berani memastikan. “Siapa sesungguhnya Rini ini. Katanya ini implementasi pembantunya, Sarinah.”

Tapi bagi Mikke, lukisan Rini sejatinya ingin mengajak orang menebak momen apa yang ingin diabadikan Sukarno. “Esensi lukisan berbeda dengan foto dan film. Lukisan itu dibuat secara manual dengan perasaan pelukisnya yang menggebu-gebu. Tapi cuma satu detik sebenarnya yang ditangkap. Detik paling penting. Sehingga kita bisa membayangkan peristiwa itu.”

Sukarno, menurut Mikke, ahli bermain simbol. Lukisan Rini membuat orang kian penasaran siapa di balik sosok itu. Pasalnya, belum ada catatan jelas yang menerangkan sang perempuan berkebaya hijau tersebut. “Simbolis itu memang banyak hal, bisa diinterpretasikan. Sukarno punya kemampuan memberikan makna-makna tertentu ketika dia melakukan sesuatu.”

Tapi, terlepas dari teka-teki itu, Mikke meyakini Sukarno punya bakat menggambar. Meski terlihat sederhana, lukisan Rini membutuhkan teknik khusus. “Karya ini bisa menandai Sukarno setelah jadi presiden masih punya keterampilan yang bagus,” terang Mikke.

Dalam catatan Mikke, setidaknya ada 200-an lukisan perempuan dan khususnya perempuan telanjang. Dan kekaguman Sukarno pada perempuan, tertera dalam buku Bung Karno; Penyambung Lidah Rakyat, yang berkata; Orang mengatakan, bahwa Sukarno suka melihat perempuan cantik dengan sudut matanya. Kenapa mereka berkata begitu? Itu tidak benar. Sukarno suka memandangi perempuan cantik dengan seluruh bola matanya. Akan tetapi ini bukanlah suatu kejahatan.

Di lukisan Rini pula, Mikke menilai Sukarno menggambar sosok perempuan dengan proporsional. Dia, sambungnya, berhasil menyelesaikan sketsa yang ditinggalkan pelukis Istana, Dullah.

Sesungguhnya, hobi melukis Sukarno dimulai sejak Sekolah Dasar. Menginjak remaja, ia diberi tanggungjawab menjaga anak HOS Tjokroaminoto. Kewajiban itu tersebut dilakukan Sukarno dengan mengajari anak Tjokro menggambar. Ketika itu, tembok kos-kosan Sukarno jadi media keduanya berseni.

Mikke juga menyebut, dari Dullah dan Profesor Schoemaker pula, Sukarno belajar melukis. “Saat masa dia mulai terjun ke politik, kesempatan melukis ini minim. Tapi pada waktu tertentu, di penjara Banceuy, dia berkarya, buat karikatur. Ketika diasingkan di Ende pun begitu. Sekarang masih ada tempatnya. Ada satu lukisan karya Sukarno.”

Sejauh ini, Mikke baru menemukan 15 karya Sukarno. Sialnya, lukisan-lukisan itu bersama koleksi Sukarno lainnya tersebar di beberapa kenalannya dan ditinggal di tempat Sukarno kala diasingkan. Sisanya, tersimpan rapi di Istana. Namun khusus untuk “Rini”, selalu tergantung di ruang kerja presiden.   

Tapi, bagaimana nasib ribuan koleksi Sukarno? Buruk, kata Mikke. Sebabnya, karena kurang perawatan dan faktor kondisi alam. Kementerian Sekretaris Negara, bahkan sampai tergopoh-gopoh membiayai perawatan lukisan koleksi Sukarno. Itu mengapa, Mikke menyarakan pemerintah menggandeng pihak lain.

“Memang karena sumber dana sedikit, maka kemampuan SDM sedikit. Kita nggak bisa limpahin ke sejumlah kecil di Setneg. Maksud saya, harus bermitra, nggak bisa hanya andalkan PNS.”

Dan rupanya, sudah limat tahun belakangan aset koleksi lukisan Sukarno, tak dihitung. Padahal, harga lukisan naik setiap tahunnya. Lukisan Penangkapan pangeran Diponegoro karya Raden Saleh, misalnya, ditaksir mencapai Rp50 miliar di 2011 silam.

Malah, pada tahun itu, total koleksi Istana bisa mencapai 1,5 triliun. Harga ini, bisa berlipat tahun demi tahun. “Seharusnya regulasinya setahun sekali. Jadi kita tahu tahun ini harganya berapa. Tapi direktoratnya berhenti.”

Selama puluhan tahun, ribuan koleksi lukisan Sukarno terkunci di dalam Istana. Hingga akhirnya, pekan lalu, lukisan itu diumbar ke publik. “Kalau digeneralisir, mereka menjaga ini sampai hari ini. Penambahan tidak, Sukarno juga tidak terus 2000 itu di tangan dia semua. Selama hidup dia senang berikan ke teman-temannya. Pak Jokowi punya jasa membuka keran. Pak Harto sampai SBY punya jasa menjaga, tidak mengapa-apakan.”

Mikke, sebagai kurator, menyambut baik langkah Presiden Jokowi yang baginya, langka. “Ini jadi pemecah telur dalam perkembangan istana. Tujuan lebih besarnya, pameran ini ingin mengangkat citra Indonesia di mata internasional.”

Di sisi lain, Mikke juga berharap masyarakat tertarik mendalami sejarah hidup masing-masing pelukis. Kata dia, setiap pelukis yang ditampilkan hari ini memiliki dinamika kehidupannya masing-masing.



Editor: Quinawaty

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!