Lukisan AP Bestari yang mengisahkan seorang korban ianfu, Mardiyem di Galeri Cemara 6, Jakarta. Foto: Quinawaty/KBR


KBR, Jakarta - Puluhan kupu-kupu berwarna kuning, disatukan dalam sebuah tas. Seorang pria muda lalu membagikan satu-persatu kupu-kupu itu pada para pengunjung.

Selang setengah jam, dalam hitungan mundur, kupu-kupu itu dilepaskan ke udara. Sejurus kemudian, sorak-sorai mereka memenuhi ruangan Cemara 6 Galeri, Jakarta. 

Malam itu sekaligus menandakan peringatan Ianfu Internasional untuk kali pertama.  Dan di sini, 12 karya seni perempuan lintas generasi dipamerkan dalam “Kitab Visual Ianfu”.

“Indonesia ini masuk dalam jaringan solidaritas global ianfu dan kami membentuk Komite Ianfu Indonesia. Saya salah satu angotanya. Nah, komite ini menggagas sebuah pameran, sebetulnya dalam rangka memperingati deklarasi tiga tahun lalu yang menentukan 14 Agustus sebagai Hari Ianfu Internasional. Ini adalah pameran pertama tentang isu ianfu diangkat ke publik,” kata kurator Kitab Visual Ianfu, Dolorosa Sinaga ketika ditemui KBR.

Ianfu adalah sebutan bagi korban perbudakan seks tentara Jepang. Di Indonesia, sejarah kekerasan dan kekejaman Negeri Matahari Terbit itu terjadi pada 1942-1945.

Jepang kala itu mengelabui perempuan-perempuan muda Indonesia mendapat beasiswa sekolah atau bekerja dengan upah tinggi. Tapi mereka malah dipaksa melayani kebutuhan seks tentara dan pejabat Nippon.

Penyair Toeti Heraty Roosseno, masih ingat betul bagaimana perempuan berusia belasan mesti berpakaian seperti laki-laki agar tak diculik tentara Jepang. Padahal jauh di luar sepengetahuannya, ribuan perempuan telah dijadikan budak seks.

“Karena mereka takut kalau diganggu oleh serdadu Jepang. Mereka berpakaian seperti laki-laki, memakai baju laki-laki, memakai peci. Tetapi, sebetulnya mereka remaja putri yang khawatir. Tetapi akhirnya memang aman-aman juga. Justri mengapa? Kita kan tidak tahu, bahwa Jepang-Jepang ini memperoleh penyalurannya lewat ianfu-ianfu itu. Ini yang membuat kami aman,” imbuh Toeti.

Dan bagi Toeti, meski sudah 70 tahun kengerian itu berlalu peringatan terhadap para korban tak boleh dilupakan. Seperti yang coba dilakukan Indah Arsyad dan Ade Artie Tjakra.

Keduanya berkolaborasi mereka ulang kekejaman Kaisar Hirohito dengan menggantungkan sebuah cetakan bunga Krisan dari besi. Di dalamnya seribu kondom dipampatkan dan ada pula yang dibiarkan menjulur ke bawah.

Sementara persis di bawahnya, pakaian dari plastik putih menyerupai kebaya perempuan berusia belasan, terkapar di lantai.

“Sebenarnya ini saya mengambil lambang kekaisaran Jepang, kayak bunga Krisan, ada 16 kelopak, terus saya bentuk dari kondom. Kenapa? Karena balik lagi ke waktu Perang Dunia itu, waktu militer Jepang ekspansi, mereka tentara Jepang brutal. Mereka memperkosa perempuan. Mereka ternyata kena sipilis dan militer mereka melemah," pungkas Indah.

"Jadi pemerintah Jepang dengan resmi bikin kondom untuk dikasih ke tentara jepang. Tetapi zaman dulu enggak kayak begini. Zaman dulu itu keras banget, sakit, kasihan sampai korbannya berdarah-darah. Dulu dari lateks,” sambungnya.  

Sementara Ade Artie Tjakra menyebut, “Saya bikin dari bahan resin transparan untuk mengekspresikan bahwa saat itu, wanita-wanita Indonesia, kehidupannya sangat rapuh, ringkih, ketakutan,” jelas Ade.

Dan rupanya Ade sempat mendengar kisah mengerikan itu dari mendiang sang ibu. Ketika itu, ibunya yang berusia belasan tahun dilarang sang kakek berkeliaran di jalan. Kakeknya khawatir anak perempuannya diculik tentara Jepang yang dikenal kejam.
 
Di belakang karya Indah dan Ade, potret seorang perempuan tua mengenakan kebaya biru bernama Mardiyem menggantung di dinding.

Di punggung Mardiyem, sepasang sayap kupu-kupu berwarna kuning dan oranye tampak rapuh dan berlubang. Dan di sisi kanan dan kiri lukisan, empat sketsa kekerasan seksual oleh tentara Jepang seakan menjadi kisah masa lalu Mardiyem.

“Memang aku banyak mengambil karya ini dari buku Momoye itu. Jadi referensiku dari buku Momoye. Jadi memang Bu Mardiyem yang bercerita sendiri di situ. Itulah kalau mau melihat dengan bahasa kata-kata, bisa dibaca Momoye Mereka Memanggilku. Tetapi kalau ingin merasakannya lebih visual, bisa dilihat di karya ini,” terang AP Bestari.

Kurator Dolorosa Sinaga menyebut, pameran “Kitab Visual Ianfu” sudah dirancang sejak Maret lalu. Mereka –yang semuanya perempuan, bertemu rutin untuk mengejawantahkan kisah ianfu.  

“Saya kumpulkan, memilih kawan-kawan perupa, baik yang muda maupun yang senior. Karena dengan lintas generasi ini, saya saya bisa membuktikan bahwa ini menjadi forum percakapan generasi yang berbeda dan dalam mengekspresikannya itu mereka berbeda,” ujar Dolorosa.

Kata dia, melibatkan seniman dari semua generasi bukanlah tanpa tujuan. Menurutnya, isu ianfu tidak pernah menjadi pengetahuan generasi yang bertumbuh. Padahal, ianfu telah diakui sebagai salah warisan beradaban manusia di dunia.

“Dalam konteks sejarah, kan peristiwa ianfu ini tidak pernah menjadi pengetahuan generasi yang tumbuh. Kalau cerita yang kita dengar, mereka selalu distigma sebagai pelacur Jepang. Padahal sebetulnya mereka mengalami peristiwa yang sangat mengenaskan, sangat brutal, karena mereka menjadi korban perbudakan seksual militer Jepang,” jelasnya.

Dolorosa berharap, pameran ini bisa menjadi pengingat bahwa kekerasan seksual pada perempuan, tak boleh terjadi lagi.




Editor: Quinawaty
 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!