Siswa baru menjalani Masa Orientasi Siswa (MOS). ANTARA FOTO

KBR, Jakarta - Andreas Constantinopel Sinaga, siswa di SMP Flora, Bekasi, Jawa Barat. Awal Juli lalu, ia dan puluhan ribu siswa lainnya mengikuti Masa Orientasi Siswa (MOS) selama tiga hari.

Ia pun menceritakan apa yang dilakukan selama MOS berlangsung.

“Hari pertama (MOS) hiburan kayak mengangkat kacang pilus pakai sumpit lalu dibawa ke mangkok. Hari kedua, demo ekstrakurikuler. Hari ketiga, jalan di sekitar sekolah," terangnya di halaman depan sekolah SMP Flora, Bekasi.

Evan kata Andreas, anak yang ceria. Ia pun tak pernah mengeluh atau sakit selama MOS.

MOS dimulai pukul 07.00 pagi hingga 12.00 siang. Hari pertama MOS dimulai di ruang kelas. Hari kedua, para siswa baru diminta menyanyi. Hari ketiga, mereka dibawa ke komplek sekolah.

Ketika meminta mereka jalan keliling di kompleks sekolah pada hari terakhir, para senior di SMP Flora menyatakan kesehatan para siswa baru.

Sherry Gasperzs, orangtua Andreas, selalu menunggui anaknya. Ia pun tahu persis apa saja kegiatan MOS di SMP Flora.
 
“Enjoy sekali dia. Padahal selama MOS itu dia sedang kurang sehat ya, demam. Tapi, dia menikmati sekali. Atribut-atributnya pun dia bikin sendiri. Saya pun turut membantu. Karena saya tahu MOS itu kegiatannya positif di sekolah ini. Jadi, enggak ada keluhan sama sekali,” ungkap Sherry.

Usai mengikuti MOS selama tiga hari, para siswa baru libur panjang selama dua minggu, bertepatan dengan libur lebaran. Siswa baru kembali masuk pada 27 Juli. 

“Si Evan saat hari pertama masih biasa-biasa saja. Hari kedua baru nangis-nangis. (Jatuh?) Waktu itu di depan kelas, dia enggak kuat ngangkat kakinya buat naik. Terus jatuh, ditolongin enggak ada yang kuat,” tuturnya.

Pada 30 Juli lalu, Evan Christoper meninggal. Dugaannya kekerasan dalam MOS. Kasus ini pun bertebaran di situs media sosial dan menjadi viral. Banyak orang kemudian mengecam SMP Flora.

KBR pun mendatangi sekolah itu. Namun, sayangnya pihak sekolah tak memperkenankan masuk dan enggan berkomentar. Pintu gerbang utama menuju sekolah ditutup. Suasana hari itu ramai, karena banyak orang tua yang menunggui anaknya pulang sekolah di luar pagar.

Soal tuduhan itu. Mereka menyerahkannya pada kuasa hukum.

Kepolisian pun turun tangan menyelidiki kematian Evan. Sejumlah pihak diperiksa, mulai dari orangtua Evan, Ratna Dumiarti dan Jossey Situmorang. 

Hasilnya? Juru bicara Polda Metro, Muhammad Iqbal mengatakan, berdasarkan penyelidika, Evan meninggal karena sakit, bukan karena MOS.

“Itu murni analisa dokter. Dokter bisa melihat gejala-gejala di mayat itu. Terus disimpulkan dokter bahwa meninggalnya akibat jantung. Walaupun tidak diotopsi. Karena keluarga korban, sangat keberatan diotopsi. Kita enggak boleh juga memaksakan otopsi. Walaupun untuk kepentingan yang sangat mendesak,” jelasnya.

Belakangan, Kepolisian menghentikan penyelidikan kasus ini karena yakin Evan meninggal bukan karena MOS.

Saat ditemui di rumahnya, orang tua Evan menolak berkomentar. Kedatangan KBR tak digubris meski telah menunggu kurang lebih 20 menit.

Sementara itu, pihak sekolah belum bersikap terkait hasil penyelidikan kepolisian. Apakah akan menggugat orangtua Evan atau sebaliknya.

Namun, pekan ini mereka akan mendatangi kepolisian meminta perkembangan penyelidikan soal siapa yang mengunggah informasi kematian Evan di media sosial.

Kembali kuasa hukum SMP Flora, Konstan Siga.

“Rapat dulu. Ini kira-kira ada masalah, misal seperti contoh tadi, bagaimana pengunggah pertama harus diapakan, dengan keluarga kita harus bagaimana, dengan publik kita harus bagaimana? Kan harus rapat dulu,” tutup Konstan.



Editor: Quinawaty Pasaribu
 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!